Normal Pov.
Kevin Pratama mulai membaca ulang semuanya pada malam perceraiannya—dan ia tidak berhenti selama sembilan hari.
Ia membaca dengan cara yang salah dulu, dan sekarang ia membacanya dengan cara yang benar: tidak dari halaman yang paling menyakitkan, tapi dari awal. Dari berkas. Dari salinan resmi dua puluh tiga halaman yang diserahkan Tiara ke kepolisian, yang kini—karena ia adalah suami sah terdakwa dalam satu perkara dan korban dalam perkara lain—berhak ia pelajari bersama Pak Tony.
Halaman pertama ditulis oleh seorang gadis sembilan belas tahun dengan tinta merah dan tangan yang marah: daftar dosa Mei Anjani, tanggal kematian Karim, dan satu baris yang diberi garis bawah tiga kali: "Ayah tidak bunuh diri. Ayah tidak sakit biasa. Ayah tidak pergi begitu saja."
Halaman-halaman awal memang peta. Dingin, rapi, kejam pada diri sendiri. Tapi Kevin membaca apa yang tidak dibaca publik—karena publik hanya diberi satu halaman—bahwa peta itu mulai berantakan di tengah. Tanggal-tanggal mulai meloncat. Rencana-rencana dicoret, bukan karena gagal, tapi karena penulisnya terganggu:
"Dia sakit. Hari ini saya menukar cangkirnya lagi. Bukan bagian dari rencana. Tidak tahu kenapa saya melakukannya."
Lalu: "Dia menyebut nama ibunya dalam tidur di rumah sakit. Saya tidak seharusnya tahu itu. Saya tidak seharusnya ada di sana. Rencana tidak mengizinkan saya ada di sana."
Dan halaman terakhir, yang tintanya paling baru, yang tidak berisi langkah apa pun:
"Hari ini dia tertawa. Aku lupa mencatat apa pun."
Kevin menutup map itu di kamarnya yang gelap, pukul dua pagi, dan untuk pertama kalinya ia mengerti apa yang dilakukan amplop pukul delapan itu dengan sangat sempurna: amplop itu tidak membohonginya. Amplop itu memberinya kebenaran yang dipotong—dan kebenaran yang dipotong adalah kebohongan paling efisien di dunia.
***
Normal Pov.
Hari keenam, ia menemui Tono di sebuah warung kopi, jauh dari kantor keduanya.
"Aku butuh kamu menjawab sebagai polisi," kata Kevin, "bukan sebagai teman. Amplop itu. Kamu mengejarnya, kan."
Tono menyesap kopinya, menatapnya di atas gelas. "Sudah selesai. Kurirnya mengaku, perantaranya mengaku, penangguhan dicabut. Itu semua ada di koran."
"Bukan itu yang kutanya." Kevin mencondongkan tubuh. "Waktunya, Tono. Pukul delapan tepat. Di lantai lima. Di hari operasi yang jadwalnya dirahasiakan. Amplop itu tidak cuma dikirim—itu ditembakkan. Kamu tahu apa artinya? Artinya perempuan itu tahu persis apa yang akan terjadi di rumah sakit itu. Artinya dia memilih hari ketika aku paling lemah, lantai di mana ibuku sedang dioperasi—"
"—dan jam ketika Jingga akan datang untuk mengaku," Tono menyelesaikan kalimatnya, pelan. "Ya, Kevin. Kami tahu. Aku tahu sejak minggu pertama. Itu sebabnya amplop itu kukejar seperti orang gila—bukan karena isinya, karena presisinya. Kamu tidak diserang dengan kebenaran, Kev. Kamu diserang dengan koreografi."
Kevin diam sangat lama.
"Dia datang untuk mengaku," kata Tono lagi, lebih pelan, dan kali ini ia bicara sebagai teman, "pagi itu. Dia mengetik pesan padamu malam sebelumnya. Nada membacanya sebelum terkirim. Dan kau tahu apa isi draf yang tidak jadi dia kirim?" Tono mengeluarkan ponselnya, membuka satu foto—foto layar, yang diambil Nada dengan izin sepupunya seminggu setelah badai itu. "Kak, waktu kita pertama bertemu, aku membencimu sebelum mengenalmu. Besok aku ceritakan semuanya. Jangan marah sebelum aku selesai—aku butuh kamu diam sepuluh menit saja."
Sepuluh menit, Kevin. Dia meminta sepuluh menit. Amplop itu datang tiga puluh menit lebih cepat."
***
Normal Pov.
Hari kedelapan, Kevin menemui Tiara.
Mereka bertemu di kantor pengacara—satu-satunya tempat yang disepakati Irvan, yang ikut duduk di sudut seperti wasit yang sudah pensiun tapi tidak dipercaya pulang. Tiara lebih kurus, lebih tenang; status hukumnya masih menggantung, tapi kesaksiannya sudah lengkap, dan ada kedamaian khusus pada orang yang sudah tidak punya apa pun untuk disembunyikan.
"Aku tidak akan memintamu membelanya," kata Kevin. "Aku cuma minta kamu menjawab satu hal. Kamu yang memotret halaman-halaman itu. Kamu membaca semuanya?"
"Semuanya. Dua puluh tiga halaman, di brankas itu, dengan tangan gemetar."
"Menurutmu—" Kevin berhenti, memilih kata seperti orang memilih pijakan di sungai, "—kapan dia berhenti merencanakanku?"
Tiara menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah bertahun-tahun lalu, ia berbicara pada Kevin tanpa kepentingan apa pun:
"Kamu bertanya hal yang salah. Dia tidak berhenti merencanakanmu di satu tanggal. Kamu tidak berhenti mencintai seseorang di satu tanggal—kamu menyadarinya, jauh setelah itu terjadi, dan menoleh ke belakang, dan tidak bisa menemukan di mana garisnya. Buku itu memperlihatkan persis itu, Kevin. Halaman-halamannya bukan berhenti. Halaman-halamannya melarut. Sampai halaman terakhir yang isinya cuma kamu tertawa dan dia lupa mencatat." Ia menggeser map salinannya ke seberang meja. "Mei mengambil buku ini karena dia mengira buku ini bukti Jingga tidak mencintaimu. Aku menyerahkannya ke polisi karena aku sadar buku ini bukti sebaliknya—tapi kamu harus membaca sampai habis. Dan kamu—" ia menatapnya tanpa tedeng aling-aling "—kamu berhenti di halaman tiga, di koridor rumah sakit, di depan semua orang. Itu yang kamu lakukan padanya. Kamu berhenti di halaman tiga."
***
Kevin Pov.
Hari kesembilan, hujan turun sejak sore dan tidak berniat berhenti.
Aku menyetir tanpa tujuan selama dua jam. Melewati Pra-building yang lampunya menyala separuh. Melewati hotel tempat gala itu, tempat aku menggenggam pinggangnya di depan seribu kamera dan merasa menang. Melewati rumah sakit—lantai limanya sudah merawat ibu orang lain.
Dan akhirnya, seperti selalu akhirnya, aku sampai di jalan itu.
Rumah keluarga Broto berdiri di balik gerbang besi, lampu terasnya kuning dan hangat, dan di lantai dua ada satu jendela yang lampunya selalu menyala paling lama. Aku memarkir mobil di seberang jalan, di bawah hujan, dan tidak keluar.
Apa yang akan kukatakan kalau pagar itu terbuka? Maaf aku berhenti di halaman tiga? Maaf aku memilih amplop daripada sepuluh menit? Maaf aku membiarkan kamu berjalan ke lift itu, dan tidak memanggilmu, padahal memanggilmu adalah satu-satunya hal yang benar yang bisa kulakukan hari itu?
Anakku ada di balik jendela itu. Lima bulan lebih. Menendang, kata orang, pada usia segitu. Dan aku berdiri di luar pagar seperti wartawan, seperti orang asing, seperti apa pun yang bukan ayah.
Orang tidak diukur dari apa yang dia lakukan saat semuanya mudah. Kata-katanya sendiri. Dia sedang diukur, katanya. Aku juga.
Dan hari ini raporku keluar, dan nilainya merah.
***
Normal Pov.
Di dalam rumah itu, di ruang pengintai kecil di balik lemari kamar mendiang Karim, Jingga duduk di depan layar-layar kecilnya.
Satu layar menunjukkan gerbang depan. Satu sedan hitam di seberang jalan, di bawah hujan, sudah empat puluh menit.
Bibi Sarah masuk membawa susu hangat, melihat layar itu, dan tidak berkata apa-apa. Nada, yang sedang menginap, berdiri di belakang kursi sepupunya dengan napas tertahan.
"Mau kubukakan pagar?" tanya Nada akhirnya, sangat pelan.
Jingga menatap layar itu. Menatap mobil yang tidak bergerak itu. Menatapnya sampai matanya panas.
"Belum," katanya. "Kalau dia pulang sekarang, dia belum selesai diukur. Dan aku—" tangannya mengusap perutnya, tempat sebuah kaki kecil baru saja menendang, tepat pada detik itu, seolah ikut mendengarkan "—aku sudah selesai meminta siapa pun memilihku di koridor."
Di layar kecil itu, hujan turun terus. Dan mobil itu tidak pulang.
Normal Pov End.