Daru tidak tidur. Sementara regu yang lain merebahkan tubuh di mana pun mereka bisa, ia kembali ke pasar yang masih berasap saat matahari memanjat, kali ini bukan sebagai pemadam tapi sebagai anak yang tumbuh menata rak dan tidak bisa membiarkan barang salah letak. Sari telah memberinya izin. Diam-diam. Tapi cari tahu. Itu cukup.
Hidran utama berdiri di mulut pasar, besi tua dengan cat kuning yang mengelupas. Ia memutarnya. Kering, seperti tadi malam. Tapi Daru tidak berhenti di besi itu. Ia tahu, dari obrolan panjang Hokian tentang jaringan pipa kota, bahwa hidran bukan benda yang berdiri sendiri; ia ujung dari pipa, dan pipa punya katup, dan katup punya ruang. Ia menelusuri jalur pipa dari hidran itu, membaca arah aliran dari kemiringan jalan dan posisi gorong-gorong, ingatan ruangnya menggambar pipa yang tak terlihat di bawah aspal seakan ia bisa melihat menembus tanah.
Jalur itu membawanya ke sebuah bak katup, sumur kecil di trotoar dengan tutup besi bulat, hampir tersembunyi di balik tumpukan barang dagangan yang gosong. Tutupnya, ia perhatikan, bersih dari debu di tepinya, seakan baru saja dibuka. Daru mengangkatnya. Di dalam, dalam ruang sempit lembap, ada katup induk, roda besi yang mengendalikan aliran ke seluruh jalur hidran pasar.
Katup itu tertutup.
Bukan karatan. Bukan macet. Roda itu diputar penuh ke posisi tutup, dan, ini yang membuat darah Daru mendingin, gagangnya bersih tergosok di tempat tangan memegang, di antara karat di seluruh permukaan lain. Tangan manusia telah memutar ini. Belum lama. Sengaja. Ia mengulurkan tangan, memutarnya kembali ke posisi buka, dan jauh di bawah ia mendengar gemuruh halus air yang mengalir lagi ke pipa yang tadi kering. Air itu ada selama ini. Seseorang hanya menahannya, tepat di malam pasar terbakar, lalu, entah kapan dalam kekacauan subuh tadi, telah pergi.
Daru jongkok di sana untuk waktu yang lama, jantungnya memukul. Ini bukan firasat lagi. Ini bukan wajah di awan. Ini besi yang diputar oleh tangan, dan ia bisa menyentuhnya. Semua yang Sari peringatkan, semua keraguan yang ia paksakan pada dirinya sendiri agar tidak gila, runtuh di hadapan satu roda besi yang bersih di tengah karat. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar dan memotret: katup, gagang yang tergosok, bak yang baru dibuka, dari beberapa sudut, seperti yang ia bayangkan orang yang tahu cara membuktikan sesuatu akan melakukannya. Ia memotret tutup bak, posisinya, jaraknya dari hidran. Ia membuat bukti yang tidak bisa dibantah dengan kata "karatan".
Ia berdiri, masih menatap layar ponselnya, masih setengah tak percaya, dan saat ia menggeser foto-foto itu untuk memastikan semuanya jelas, di ujung gang sebelah, dalam pantulan kabur di etalase kios yang masih utuh, ia menangkap sosok yang ia kenal. Lelaki berseragam keamanan abu-abu. Penjaga proyek. Berdiri di antara puing, mencatat sesuatu di buku kecil, mengukur kerusakan dengan tatapan tenang seorang yang sedang menghitung berapa banyak yang sekarang bisa dibeli murah. Ia tidak menatap Daru. Ia tidak tahu Daru ada di sana. Itu yang membuat Daru merinding lebih dari apa pun: lelaki itu tidak takut ketahuan, tidak menoleh waswas, tidak mencari saksi. Ia bergerak di antara abu dengan ketenangan orang yang yakin tidak ada yang sedang melihat, karena selama bertahun-tahun memang tidak ada yang melihat. Ia mengantongi bukunya, lalu berjalan pergi ke arah mobil proyek, tanpa tergesa, satu orang lagi di kerumunan pagi.
Daru tidak mengejarnya. Ia berdiri membeku, bukan oleh takut kali ini, tapi oleh berat dari apa yang baru saja ia pahami. Bukan satu orang. Bukan satu katup. Sebuah cara bekerja yang sudah berjalan begitu lama hingga pelakunya tak lagi merasa perlu sembunyi. Hidran yang kering bukan kebetulan kemarau. Pasar yang terbakar bukan kelalaian. Properti yang berpindah tangan, pos yang dibiarkan rongsok, izin perbaikan yang selalu tertunda, semuanya barang yang salah letak di rak yang sama, dan akhirnya, akhirnya, ia melihat susunan yang sebenarnya. Kotanya tidak terbakar karena tua. Kotanya dibakar karena tanah di bawahnya bernilai lebih sebagai abu.
Ia harus membawa ini ke Sari. Bukan firasat lagi. Foto. Katup. Air yang kembali mengalir saat ia memutar gagangnya. Ia mulai bergerak ke arah pos, menyusun di kepalanya bagaimana ia akan meletakkan barang ini di meja Sari, ketika ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan dari Hokian, dan tangan Daru yang masih kotor jelaga berhenti di tengah jalan saat ia membacanya.
Alarm berbunyi lagi di pos. Panggilan baru. Hokian mengetik cepat, tanpa tahu apa yang Daru baru temukan, hanya meneruskan alamat yang muncul di radio karena itu prosedurnya. Daru membaca alamat itu sekali, lalu dua kali, dan dunia di sekitarnya menyempit hingga hanya tersisa deretan huruf di layar. Jalan tempat ia dibesarkan. Nomor yang ia hafal sebelum ia hafal apa pun. Toko kelontong tiga generasi tempat ayahnya, kemarin sore, berdiri dengan kemeja terbaiknya menunggu anak yang berlari ke arah api.
Toko ayahnya terbakar.