Api itu mulai sebelum subuh, di jantung pasar tradisional, dan saat regu Cawang Lama tiba, ia sudah bukan kebakaran lagi melainkan binatang. Pasar itu labirin lapak kayu dan terpal yang berdesakan di bawah satu atap seng raksasa, dan api menyebar lewat atap itu seperti air tumpah, lompat dari lapak ke lapak lebih cepat dari manusia bisa lari. Ratusan pedagang yang tidur di kios mereka, banyak dengan keluarga di lantai mezanin sempit di atas dagangan, terjebak di tengah panas yang membuat udara sendiri tampak bergetar.
Sari membaca neraka itu dalam sepuluh detik, dan Daru melihat sesuatu mengeras di wajahnya, sesuatu yang lebih tua dari komandan, sesuatu dari dua puluh tahun lalu. "Kita tidak bisa selamatkan pasarnya," katanya, suara dipaksa tenang. "Kita selamatkan orangnya. Evakuasi dulu, padam belakangan. Hokian, cari air, mana saja, kolam ikan, bak masjid, apa saja. Pangewa—" ia mencengkeram bahu Daru, "—kamu hafal pasar ini?"
Daru hafal pasar ini lebih dari ia hafal apa pun. Ia tumbuh di sini, mengikuti ayahnya kulakan, menghafal tiap gang di antara lapak sejak ia setinggi meja. "Lebih dari rumah sendiri, Bu."
"Maka kamu mataku di dalam. Bawa Rofik. Pandu orang keluar lewat jalan yang masih hidup. Aku di radio. Kamu dengar perintah mundur, kamu mundur. Aku tidak akan menelepon ibumu malam ini. Tidak akan."
Daru masuk ke dalam asap dengan peta yang menyala terang di kepalanya meski matanya buta. Gang ikan ke kiri sudah tertutup api; tapi gang sayur ke kanan masih punya jalan, dan dari sana ada jalur belakang ke gerbang timur yang banyak orang lupa. Ia menyusuri dinding, menghitung lapak, dan menemukan keluarga-keluarga yang meringkuk di mezanin, terlalu takut untuk turun ke gang yang penuh asap. Ia memandu mereka satu per satu, suaranya jadi tali pemandu, gang sayur, belok di lapak buah, turun di tangga semen, gerbang timur, terus jalan, jangan menoleh.
Di tengah kekacauan itu ia menemukan satu keluarga yang ia kenal. Bu Haryati. Perempuan tua yang membeli minyak dari toko ayahnya tiap Jumat selama bertahun-tahun, kini terjebak di kios kelontongnya sendiri di lantai dua dengan dua cucu, dikelilingi rak-rak yang persis seperti rak ayahnya. Daru hampir tercekat melihatnya, rak yang sama, susunan yang sama, dunia yang sama yang ia kira ia tinggalkan. Ia tahu kios ini. Ia tahu ada tangga belakang yang dibangun pedagang untuk menghindari pajak retribusi, tangga gelap yang tak ada di denah resmi mana pun. Ia membawa mereka lewat tangga itu, menggendong cucu terkecil di punggung, melawan panas yang membuat kulit lehernya melepuh tipis, dan keluar ke gang belakang tepat sebelum atap di atas kios itu ambruk dengan suara seperti dunia patah.
Mereka bertarung sampai matahari terbit. Hokian menemukan air dari kolam masjid dan tandon-tandon, mengangkutnya dengan keputusasaan yang jenius. Regu-regu lain dari pos lain akhirnya datang, terlambat oleh kemacetan kota, dan bersama-sama mereka menahan api di setengah pasar. Setengah pasar selamat. Setengah lagi jadi arang. Tapi orang-orangnya, hampir semua orangnya, hidup. Daru menghitung lebih dari empat puluh nyawa yang keluar lewat jalur yang ia pandu, dan ia tahu, dengan kepastian yang membuatnya gemetar, bahwa tanpa peta di kepalanya mereka akan mati di gang yang salah.
Lalu, di tengah kemenangan pahit itu, air mereka kembali mengkhianati. Hidran utama di mulut pasar, yang seharusnya jadi tulang punggung pasokan, melemah lalu mati total tepat saat mereka butuh mendinginkan reruntuhan agar bara tidak menyala ulang. Hokian memukul besinya, mengumpat, lari mencari sumber lain. Mereka kehabisan air untuk kedua kalinya, di kebakaran terbesar yang pernah mereka hadapi, dan harus menonton beberapa lapak yang sudah padam menyala kembali karena bara yang tak sempat didinginkan.
Saat matahari naik penuh, regu itu duduk di antara puing pasar yang masih mengepul, hitam dari ujung kepala ke ujung kaki, terlalu lelah untuk bicara. Pedagang yang selamat berkumpul, sebagian menangis, sebagian memeluk anggota regu, sebagian hanya berdiri menatap tempat yang dulu hidup mereka. Bu Haryati mencari Daru di antara pemadam yang berwajah sama hitamnya, menemukannya, dan menggenggam tangannya dengan dua tangan keriput. "Kamu anak Pak Wignyo," katanya, mengenalinya entah bagaimana. "Kamu yang bawa kami turun." Ia tidak bisa berkata lebih; ia hanya menangis sambil memegang tangan Daru, dan Daru, yang sudah lewat batas lelah, membiarkan air matanya turun membuat garis bersih di pipinya yang hitam.
Sari berdiri agak jauh, memandang hidran utama yang mati. Ia tidak mengumpat seperti Hokian. Ia hanya menatapnya lama, dengan wajah yang Daru kenali sekarang sebagai wajah orang yang sedang melihat masa lalu dan masa kini bertumpuk jadi satu. Pasar yang baru saja diincar pengembang. Hidran yang mati tepat saat dibutuhkan. Dua puluh tahun, dan pintu yang dikunci dari luar telah berganti rupa menjadi katup yang menolak memberi air. Ia menoleh, menangkap mata Daru, dan untuk sekali ini ia tidak melarangnya melihat. Ia hanya berkata, pelan, hampir tak terdengar di tengah desis bara, "Cari tahu kenapa hidran itu mati, Pangewa. Diam-diam. Tapi cari tahu."