Daru tidak mencari sosok itu. Ia menyadarinya, dan itu lebih buruk, karena kesadaran datang sendiri, tak diundang, dari kebiasaan menata rak. Seorang lelaki berseragam keamanan abu-abu, bertubuh tegap, dengan rompi bertuliskan nama proyek peremajaan kawasan. "Penjaga keamanan proyek." Daru pertama melihatnya di kebakaran ruko tekstil, berdiri di seberang jalan, menonton. Lalu di kebakaran gudang kimia, di sudut yang sama jauhnya. Lalu di dua kebakaran kemarau minggu lalu. Selalu sebelum mobil pemadam pergi. Selalu sudah ada saat mereka tiba, padahal proyeknya tidak di dekat situ.
Ia tidak berdiri menonjol. Ia hanya berdiri, seperti penonton biasa di antara kerumunan yang selalu berkumpul di sekitar api. Tapi penonton biasa datang dan pergi, satu wajah berbeda tiap kebakaran. Wajah ini sama. Dan ia tidak menonton api dengan cara orang menonton api; ia menonton regu, alat, hidran. Daru memperhatikannya dari balik selang dan merasakan dingin yang tak ada hubungannya dengan kemarau.
Ia mencoba memastikan tanpa membuat dirinya gila. Ia bertanya hati-hati di pasar, di warung tempat ayahnya dulu kulakan, di antara pedagang yang masih mengenalnya sebagai "anak Pak Wignyo". Gosip pasar adalah arsip yang tak tercatat tapi jarang bohong. Seseorang menyebut bahwa lelaki itu sering terlihat mengukur-ukur lapak, mencatat di buku, mengaku dari survei tanah. Yang lain bilang ia datang menawar tanah dengan harga rendah lalu, ketika ditolak, berkata, "Sebaiknya jual sekarang, mumpung masih ada yang mau." Itu kalimat yang membuat tengkuk Daru meremang. Sebaiknya jual sekarang.
Ia membawanya ke Sari. Bukan tuduhan; ia cukup belajar dari tebakan yang meleset untuk tidak menuduh. Ia membawa catatan, foto buram lelaki itu di empat lokasi, dan polanya: properti pindah tangan, hidran lemah, sosok yang sama. Ia meletakkannya di meja Sari seperti meletakkan barang yang ia tak yakin di mana harus diletakkan.
Sari membaca catatan itu lama. Wajahnya tak terbaca. Lalu ia mendorongnya kembali ke Daru.
"Apa yang kamu punya di sini," katanya pelan, "adalah seorang lelaki yang pekerjaannya memang menjaga proyek di kawasan yang sedang dia incar. Tentu dia ada di sekitar kebakaran. Seluruh kawasan ini incaran proyeknya. Properti pindah tangan karena kemarau dan kebakaran membuat orang takut dan jual murah. Hidran lemah karena tekanan air turun. Kamu punya empat foto dan satu firasat." Ia menatap Daru tajam. "Kamu tahu apa yang aku lihat? Aku lihat anak yang tidak tidur cukup, yang menyimpan terlalu banyak duka karena Joni, dan yang mulai melihat hantu supaya dukanya punya wajah untuk disalahkan."
"Bu, hidran di Kawat itu—"
"Karatan. Tua. Seperti semua yang kita punya." Sari berdiri. "Dengar aku. Tugas kita memadamkan api. Itu saja. Kalau aku biarkan kamu jadi detektif, kamu berhenti membaca atap, dan kamu mati seperti hampir mati di atap kemarin. Aku butuh kamu di selang, bukan di buku catatan. Kalau ada kejahatan, ada polisi. Kita bukan polisi." Ia melunak setengah derajat. "Aku tidak bilang kamu salah total. Aku bilang firasat tanpa bukti itu racun untuk orang yang pekerjaannya harus tenang. Simpan matamu untuk api. Itu permintaanku."
Daru menyimpan catatannya. Ia mengerti Sari, bahkan setuju sebagian. Tapi ia juga tahu bahwa Sari, dari semua orang, pernah menyebut pabrik yang dijual sebelum terbakar, pemilik baru yang tidak datang ke pemakaman. Sari membawa wajahnya sendiri di balik api selama dua puluh tahun. Mungkin itu sebabnya ia melarang Daru: bukan karena tidak ada wajah, tapi karena ia tahu betapa wajah itu bisa memakan orang.
Sorenya, sebuah sosok lain datang ke pos, dan untuk sesaat Daru tak mengenalinya karena ia tak pernah berada di sini. Ayahnya. Pak Wignyo berdiri di gerbang garasi dengan kemeja terbaiknya, memandang mobil tua dan selang tambalan dengan ekspresi yang Daru tak bisa baca, lalu memandang anaknya yang basah keringat dan berbau asap.
"Ibumu yang minta aku ke sini," kata Wignyo, kaku. "Dia dengar dari tetangga, ada pemadam yang kena ledakan minggu lalu. Dia tidak bisa tidur." Ia diam. "Aku lihat tempat ini sekarang. Mobil rongsok. Selang bocor. Kamu tinggalkan toko yang aman untuk ini?"
"Toko bukan untukku, Pak."
"Toko itu makan, Daru. Toko itu rumah." Suaranya naik, lalu turun lagi, lelah. "Ini—ini mati muda dengan upah kecil. Untuk apa? Untuk menyelamatkan toko orang lain yang bahkan tidak kamu kenal?"
Daru memandang ayahnya, dan untuk pertama kali ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak. "Aku kenal mereka, Pak," katanya pelan. "Pelanggan-pelanggan Bapak. Bu Haryati yang beli minyak tiap Jumat. Keluarga di gang belakang pasar yang ngutang beras tiap akhir bulan. Mereka tinggal di rumah-rumah yang aku siram. Aku tidak meninggalkan toko untuk lari dari mereka. Aku malah lebih dekat ke mereka dari yang pernah Bapak kira."
Wignyo membuka mulut, tapi alarm pos berbunyi, kasar dan tak peduli, dan tubuh Daru sudah bergerak sebelum pikirannya, berlari ke mobil, mengaitkan seragam. Ia melihat sekilas wajah ayahnya, terkejut oleh ketergesaan itu, oleh anak yang dulu menata rak kini berlari ke arah yang ditakuti semua orang. Pintu mobil tertutup. Dan saat mereka melaju keluar, Daru melihat ayahnya berdiri sendirian di garasi, mengecil di kaca spion, masih dengan kemeja terbaiknya, di antara alat-alat rongsok yang melindungi kota yang tak ia mengerti.