Kemarau itu sudah berbulan-bulan, tapi pada minggu itu ia berhenti menjadi cuaca dan menjadi musuh. Langit putih panas dari pagi sampai sore. Saluran air mengering jadi parit berdebu. Dan di seluruh kota, tekanan air turun, hidran demi hidran melemah, karena permukaan air baku menyusut dan pompa-pompa tua dinas air tak mampu mendorong air ke jaringan yang bocor di mana-mana. Hokian menyebutnya "kota jadi sumbu". Cukup satu percik, di tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan apa pun akan menyala.
Dan apa pun menyala. Bukan satu kebakaran besar, tapi rentetan kecil yang tak henti: tumpukan sampah, korsleting, kompor minyak, puntung rokok di lahan kering. Regu Cawang Lama yang sudah pincang dikirim dari satu panggilan ke panggilan lain nyaris tanpa jeda. Daru kehilangan hitungan hari. Tidur jadi barang mewah yang dicuri dua jam di kursi pos. Ia makan sambil berdiri, tertidur sambil berdiri, bangun oleh alarm sebelum mimpi sempat terbentuk. Tubuhnya jadi mesin yang dijalankan oleh kelelahan dan kebiasaan.
Di hari kelima rentetan itu, mereka dipanggil ke kebakaran ruko tiga lantai. Api di lantai dua, dan ada laporan orang terjebak di atap. Daru, yang sudah lewat batas lelah, naik tangga ke atap dengan selang. Atap itu beton dengan lapisan aspal, dan di tengah panas dan kelelahan ia tidak membaca tanda-tanda yang biasanya ia baca dengan jelas: cat yang menggelembung dari bawah, suara berderak halus, panas yang naik lewat telapak sepatu. Pikirannya yang lelah hanya melihat tujuan, orang yang harus dicapai, dan ia melangkah ke bagian atap yang sudah dipanggang api dari bawah selama dua puluh menit.
Lantai itu memberi tanda sebelum runtuh. Ia merasakannya bergetar, mendengar derak yang lebih dalam, dan untuk sesaat instingnya yang lelah tidak menerjemahkannya. Lalu sebuah tangan kuat mencengkeram tali bahunya dan menariknya mundur dengan tenaga yang mengejutkan, dan ia jatuh ke belakang ke bagian atap yang masih kokoh tepat saat bagian tempat ia berdiri tadi melendut, retak, dan sebagian runtuh ke dalam api di bawahnya dengan suara yang ia rasakan di tulang.
Hokian berdiri di atasnya, terengah, wajahnya merah dan basah. Lelaki itu, yang biasanya di pompa, telah memanjat naik karena suatu firasat tua. "Kamu nggak baca atapnya," katanya, suaranya keras bukan oleh marah tapi oleh ketakutan yang baru lewat. "Aku lihat kamu dari bawah jalan kayak orang tidur. Cat itu sudah menggelembung dari tadi, Daru. Itu artinya bara di bawah beton. Kamu hafal semua aturan ruang, tapi kamu lupa aturan paling tua: jangan injak lantai yang sedang dimakan dari bawah."
Orang di atap, yang ternyata sudah pindah ke atap sebelahnya sebelum mereka tiba, selamat tanpa bantuan mereka. Tak ada korban. Tapi di tanah, setelah semuanya selesai, Sari menghampiri Daru dengan wajah yang ia simpan untuk hal-hal terburuk.
"Hokian baru saja menukar nyawanya untuk kesalahanmu," katanya. "Kalau atap itu runtuh penuh saat dia di atas menarikmu, aku kehilangan dua orang sekaligus, dan operator pompa terbaik yang pernah aku punya. Untuk apa? Karena kamu terlalu lelah untuk membaca tanda, atau terlalu keras kepala untuk mengaku lelah."
"Aku—" Daru kehabisan kata. "Aku tidak tidur tiga hari, Bu. Kita semua tidak tidur."
"Aku tahu." Dan untuk pertama kali, ada retak di suara Sari, bukan ke arahnya, tapi ke arah sesuatu yang lebih besar. "Itu yang membuatku marah. Bukan kamu. Tapi aku tidak bisa marah ke kota, jadi aku marah ke kamu, dan itu tidak adil, dan aku tetap melakukannya karena kamu yang ada di depanku." Ia menghapus jelaga dari matanya dengan punggung tangan. "Kita kekurangan orang, kekurangan air, kekurangan alat, dan mereka kirim kita ke kemarau ini seperti kirim ember ke laut yang terbakar."
Malam itu, di pos, Daru tidak bisa tidur meski tubuhnya menjerit minta tidur. Ia mengeluarkan buku catatannya. Tujuh kebakaran dalam minggu kemarau ini. Ia mencatat alamatnya, dan kemudian, karena rak di kepalanya menolak diam, ia mencatat hidran terdekat dari masing-masing dan apakah hidran itu bekerja. Tiga dari tujuh: hidran terdekat kering atau lemah. Itu mungkin hanya kemarau. Tekanan air memang turun di mana-mana. Setiap hidran di kota melemah minggu ini. Ia menulis itu di sampingnya, sebuah penolakan jujur terhadap polanya sendiri: bisa jadi kemarau, bukan tangan.
Lalu ia menulis pertanyaan yang tak bisa ia jawab, pertanyaan yang membuatnya akhirnya bisa tidur karena ia tahu ia harus mencari jawabannya, dan mencari memberinya tempat untuk meletakkan rasa takut. Kalau ini kemarau, kenapa hidran kering itu tidak merata? Kenapa selalu hidran terdekat dari properti yang baru pindah tangan? Atau apakah ia hanya melihat wajah di awan karena ia sangat ingin ada wajah di sana?