Joni masuk perawatan luka bakar, dan regu yang sudah kurang personel jadi makin pincang. Tujuh orang menjadi enam, lalu lima saat Rofik diistirahatkan untuk lukanya. Beban kerja tidak peduli soal aritmetika. Panggilan tetap datang dengan jumlah yang sama, dan setiap panggilan kini ditanggung lebih sedikit punggung. Daru, yang sebulan lalu masih muntah, kini menarik selang dan memanjat tangga dan memandu evakuasi karena tidak ada cukup tangan lain. Ia belajar cepat bukan karena bakat, tapi karena kemewahan untuk belajar pelan sudah tidak ada.
Di sela kelelahan itu, sesuatu mulai mengganggu rak di kepalanya. Ia tak bisa berhenti memikirkannya. Hidran kering di Jalan Kawat. Gudang kimia tanpa izin. Ia mulai memperhatikan, tanpa rencana, hanya karena kepalanya menolak membiarkan barang salah letak. Dan ia mulai melihat pola yang ia tak yakin ada.
Ia pergi ke ruang arsip pos, ruangan sempit penuh map berdebu, tempat laporan pasca-kebakaran disimpan karena prosedur mengharuskannya meski tak ada yang membacanya. Ia mencari berkas dua kebakaran terakhir. Berita acara, alamat, catatan. Lalu, karena ayahnya pemilik toko dan ia tumbuh di antara obrolan pasar, ia tahu satu hal yang tak ada di berkas mana pun: siapa pemilik tanah. Ia bertanya pada Hokian, yang sudah tiga puluh tahun di wilayah ini dan hafal siapa punya apa.
"Ruko tekstil di Kawat itu," kata Hokian, mengernyit mengingat, "baru ganti pemilik. Dua-tiga bulan lalu. Yang lama bangkrut, dijual murah ke perusahaan, aku lupa namanya." Ia mengelap tangan. "Gudang kimia juga. Itu dulu punya Koh Aliong, meninggal tahun lalu, anaknya jual. Kenapa kamu tanya?"
Daru tidak menjawab langsung. Dua kebakaran. Dua properti yang baru pindah tangan. Ia tahu itu mungkin tidak berarti apa-apa; di kota ini properti berpindah tangan setiap hari, dan kebakaran terjadi setiap hari. Ia cukup jujur pada dirinya untuk tahu bahwa dua titik tidak membentuk garis. Tapi ia mulai menyimpan. Sebuah buku catatan kecil, foto-foto yang ia ambil diam-diam saat membereskan lokasi, kliping dari koran lokal yang menyebut "kebakaran tak disengaja". Ia menyimpannya di lokernya yang tak bisa dikunci, lalu, menyadari ironi itu, memindahkannya ke tasnya.
Ia juga mencoba menyusunnya terlalu cepat, dan keliru. Ia yakin sebuah kebakaran rumah kontrakan minggu itu cocok dengan polanya; ia mengecek, dan ternyata rumah itu sudah dimiliki keluarga yang sama selama empat puluh tahun, korslet murni karena instalasi tua. Tebakannya meleset. Ia merasa bodoh, dan itu baik, karena itu mengajarinya bahwa polanya bukan kunci yang membuka semua pintu. Ia harus lebih hati-hati. Ia harus tidak ingin pola itu ada lebih dari ia ingin tahu kebenaran.
Di tengah minggu itu, regu menyempatkan menjenguk Joni. Rumah sakit umum, bangsal yang sesak, bau antiseptik dan keringat. Joni terbaring dengan lengan dan sisi tubuh dibalut tebal, wajahnya pucat oleh obat nyeri, tapi ia tersenyum saat melihat mereka. "Wah, lengkap," katanya parau. "Siapa yang jaga pos? Kalian bolos semua?"
"Hokian jaga," kata Rofik. "Sama mobil tua. Mereka berdua udah kayak suami istri."
Mereka tertawa, dan tawa itu terlalu keras dan terlalu cepat, cara orang tertawa saat alternatifnya adalah menangis. Joni bercanda tentang perawat, tentang makanan rumah sakit, tentang bekas lukanya yang katanya akan jadi "tato keberanian gratis". Tak ada yang menyebut bahwa tangannya mungkin tak akan pernah berfungsi penuh lagi. Tak ada yang menyebut bahwa ia mungkin tak akan kembali ke regu. Mereka membawakannya gorengan dari warung dekat pos, dan Joni memakannya dengan tangan yang masih bisa bergerak, dan untuk setengah jam pos terasa utuh lagi.
Dalam perjalanan pulang, Daru duduk di sebelah Sari di bak depan, sesuatu yang jarang. Untuk waktu yang lama tak ada yang bicara. Lalu Sari berkata, menatap jalan, "Adikku namanya Asti. Dua puluh tahun lalu dia kerja di pabrik garmen. Pabrik itu terbakar malam hari. Pintu daruratnya dikunci dari luar, supaya buruh tidak kabur waktu jam kerja." Suaranya rata, tapi tangannya mencengkeram lutut. "Dua belas orang mati di balik pintu yang dikunci itu. Asti salah satunya. Aku berumur dua puluh tujuh waktu itu. Aku masuk damkar setahun setelahnya."
Daru tidak tahu harus berkata apa, jadi ia tidak berkata apa-apa, yang ternyata benar.
"Pabrik itu," lanjut Sari, lebih pelan, "baru saja dijual sebelum terbakar. Aku ingat itu karena pemilik barunya tidak hadir di pemakaman, padahal pemilik lama datang. Aku selalu ingat hal kecil yang aneh itu." Ia diam. "Dua puluh tahun aku padamkan api supaya tidak ada Asti yang lain. Dan kota ini terus membakar dirinya sendiri lebih cepat dari aku bisa siram." Ia menoleh ke Daru, dan tatapannya tajam. "Aku cerita ini bukan supaya kamu kasihan. Aku cerita supaya kamu mengerti kenapa aku keras. Aku tidak mau menelepon ibu siapa pun lagi. Sekarang lupakan, dan bantu turunkan alat."
Daru menyimpan satu hal dari cerita itu, satu kalimat yang menempel di rak kepalanya di sebelah hidran kering dan properti yang berpindah tangan. Pabrik yang baru dijual sebelum terbakar. Pemilik baru yang tidak datang. Ia tidak tahu apakah itu berarti sesuatu. Ia mulai takut bahwa ia ingin itu berarti sesuatu, dan ketakutan itu membuatnya berhati-hati.