Gudang itu tidak ada di peta mana pun. Itu masalah pertamanya. Sebuah bangunan beton tanpa papan nama di ujung kawasan industri tua, terdaftar resmi sebagai "gudang penyimpanan umum" tapi pada kenyataannya, seperti yang akan mereka temukan, berisi drum-drum pelarut dan kain perca berlumur kimia. Tak ada yang melaporkan isinya karena tak ada yang punya izin untuk isinya.
Mereka tiba sebelum tengah malam. Tak ada api yang terlihat dari luar, hanya asap tipis yang merembes dari celah pintu rolling besi dan jendela tinggi yang kacanya menghitam dari dalam. Ini yang membuat Sari berhenti dan menatap lama. Asap yang berdenyut, masuk dan keluar dari celah seperti bangunan itu bernapas. Cat di pintu yang menggelembung. Tidak ada nyala, tapi panas yang teramat.
"Ini buruk," katanya pelan. Daru berdiri di sampingnya, dan ia bisa merasakan kekhawatiran itu menular tanpa ia paham bentuknya. "Api di dalam kekurangan udara. Dia sudah makan habis oksigen, sekarang dia cuma menunggu." Ia menoleh ke regu. "Tidak ada yang buka pintu itu. Kita dinginkan dulu dari luar, kita ventilasi dari atas. Hokian, suplai air. Rofik, siapkan selang. Joni—"
Tapi Joni sudah di pintu samping, pintu manusia yang lebih kecil, mengira ia membantu dengan mencari jalan masuk untuk mengecek korban. "Bu, mungkin ada orang di dalam, saya cek—"
"Joni, jangan—"
Joni menarik kenop pintu itu.
Daru akan menghabiskan banyak malam sesudahnya memutar ulang sepersekian detik berikutnya. Pintu terbuka. Udara segar masuk ke ruang yang lapar oksigen. Dan api yang menunggu itu, yang sabar dan tersembunyi itu, mendapatkan apa yang ia perlukan. Tidak ada peringatan. Hanya gemuruh dalam, seperti napas raksasa yang ditahan lalu dilepaskan, dan kemudian bola api meledak keluar dari mulut pintu itu, gelombang panas dan nyala yang melontarkan Joni dan Rofik ke belakang seperti boneka.
Daru berdiri lima langkah dari pintu. Ia melihatnya datang. Dan untuk sepersekian detik, ia membeku. Tubuhnya menolak bergerak, terkunci oleh sesuatu yang lebih tua dari pikiran, dan dalam detik beku itu ia tidak menarik Joni, tidak menyemprot, tidak melakukan apa pun. Lalu Sari sudah berteriak, sudah menyeret selang, sudah menghantam api dengan air, dan Hokian menambah tekanan, dan dunia menjadi kekacauan basah dan panas dan teriakan.
Rofik selamat dengan luka ringan; ia terjengkang menjauh dari pusat ledakan. Joni tidak. Joni berada tepat di mulut pintu, dan api itu mendapatkannya penuh di lengan dan sisi tubuh sebelum mereka menyeretnya keluar dan menyiramnya, sebelum membungkusnya dan menungguinya menjerit lalu berhenti menjerit, yang lebih buruk daripada jeritan. Ambulans datang. Mereka mengangkatnya. Daru memegang tandu itu sampai pintu ambulans menutup, dan tangannya gemetar bukan oleh dingin.
Mereka memadamkan gudang itu menjelang dini hari. Drum-drum pelarut itu, jika satu saja meledak penuh, akan menelan mereka semua. Mereka beruntung. Itu kata yang Sari pakai nanti, dengan suara yang membenci kata itu. Beruntung.
Di pos, sebelum subuh, regu duduk dalam diam yang tak pernah Daru rasakan sebelumnya. Bukan diam lelah. Diam yang lain. Hokian membuat kopi yang tak ada yang minum. Rofik membersihkan luka di lengannya sendiri tanpa bicara. Daru duduk di sudut, dan rasa bersalah itu naik ke tenggorokannya seperti muntah yang tak mau keluar.
"Aku membeku," katanya akhirnya, ke ruangan, ke siapa saja. "Aku lihat itu datang. Aku bisa—mungkin aku bisa tarik dia. Aku cuma berdiri."
Sari mengangkat kepala dari kursinya. Wajahnya, di bawah jelaga, tampak dua puluh tahun lebih tua. "Kamu pikir kamu bisa tarik dia?" Suaranya datar, kejam dalam kejujurannya. "Dari lima langkah, di tengah flashover, kamu pikir kamu lari masuk dan menariknya keluar dan kalian berdua hidup? Itu bukan keberanian, Pangewa. Itu khayalan. Kalau kamu bergerak, sekarang aku punya dua orang di rumah sakit, atau dua peti." Ia menatap kopi yang tak ia sentuh. "Joni yang salah. Dia buka pintu yang aku larang. Aku yang salah, karena aku tidak cukup keras melarangnya, karena aku percaya dia sudah cukup pengalaman untuk dengar. Itu beban aku. Jangan kamu curi."
Ia berdiri, dan untuk pertama kali Daru melihat tangannya gemetar samar saat ia meletakkan cangkir. "Aku pernah punya adik," katanya, sangat pelan, dan kemudian berhenti, seakan kalimat itu terlalu berat untuk diteruskan di malam ini. Ia tidak meneruskannya. Ia hanya berkata, "Pergi tidur. Kita masih jaga. Kota tidak peduli kita sedang berduka." Lalu ia masuk ke ruangannya dan menutup pintu, dan Daru duduk dengan rasa bersalah yang tidak Sari izinkan ia miliki, mendengarkan dengung lampu pos dan napas regu yang tak ada yang benar-benar tidur, mengerti untuk pertama kali bahwa harga pekerjaan ini tidak dibayar saat api padam. Itu dibayar setelahnya, dalam mata uang yang tak pernah cukup.