Beberapa bulan setelah adopsi, kehidupan mereka menemukan irama baru.
Lila bersekolah dan pulang membawa cerita tentang guru yang suka menggambar di papan. Jason bekerja tiga hari seminggu di yayasan, dan dua hari sisanya ia habiskan untuk hal-hal yang dulu ia anggap buang-buang waktu, seperti mengantar anak ke kelas menggambar atau berdebat soal harga tomat di pasar.
Valeri sering bepergian untuk program Asia. Tiga hari di Manila, dua hari di Kuala Lumpur, kadang satu minggu penuh untuk peninjauan lapangan.
Meja makan kini memiliki empat kursi.
Kursi keempat itu tidak pernah benar-benar kosong dalam arti sebenarnya. Ia disediakan untuk siapa pun yang datang, baik Damar, Alena, orang tua Valeri, maupun Mira.
Menurut Lila, rumah yang baik harus selalu memiliki tempat tambahan.
"Kenapa?" tanya Jason suatu kali.
"Supaya kalau ada yang datang, dia tidak perlu bertanya boleh duduk atau tidak."
Jason tidak punya jawaban untuk itu, jadi ia hanya mengangguk dan menambahkan satu piring lagi ke rak.
Suatu pagi Valeri merasa mual.
Ia baru pulang dari perjalanan dinas empat hari, tidur terlalu sedikit, dan makan di jam yang berantakan. Karena itu ia mengira tubuhnya hanya sedang menagih utang.
Mualnya tidak hilang selama tiga hari. Alena yang akhirnya memaksanya ke dokter.
Hasil pemeriksaannya menunjukkan Valeri hamil lagi.
Ia duduk di ruang praktik dengan kertas hasil di tangan, dan tidak menangis, dan tidak tersenyum. Ada dua hal yang datang sekaligus dan keduanya sama besar.
Kabar itu membawa kebahagiaan sekaligus ketakutan lama. Nama ketakutan itu tidak perlu diucapkan. Mereka berdua tahu bentuknya, warnanya, dan bagaimana rasanya lantai kamar mandi yang dingin.
Valeri dan Jason sepakat tidak menyembunyikan kecemasan satu sama lain.
"Kalau kau takut, bilang," kata Valeri. "Jangan menunggu sampai aku menemukanmu menangis di ruang kerja lagi."
"Kalau kau takut?"
"Aku akan bilang juga. Walaupun jelek."
Mereka menjalani setiap pemeriksaan tanpa membuat rencana terlalu jauh. Tidak ada nama yang dipilih. Tidak ada kamar yang dicat. Mereka hanya melewati satu jadwal, lalu jadwal berikutnya.
"Minggu depan kontrol lagi," kata Jason setiap kali, seperti orang yang sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa masih ada minggu depan.
Alena menawarkan diri menemani kalau Jason sedang di yayasan. Orang tua Valeri menelepon lebih sering, tetapi menahan diri untuk tidak bertanya terlalu banyak, karena mereka sudah belajar dari kehilangan yang dulu.
Memberi tahu Lila menjadi persoalan tersendiri.
Mereka menunggu sampai kehamilan lebih stabil. Bukan untuk menyembunyikan, melainkan karena anak itu sudah cukup sering kehilangan hal yang sempat diberitahukan kepadanya.
Ketika akhirnya waktunya tiba, mereka mengajaknya duduk bersama di ruang keluarga, mematikan televisi, dan berbicara dengan kalimat sederhana.
Lila tidak langsung senang.
Ia mendengarkan sampai selesai, memandang perut Valeri sebentar, lalu memandang lantai.
"Kalau ada bayi, aku masih tinggal di sini?"
Valeri merasakan dadanya sesak, seperti ada tangan yang meremas dari dalam.
"Boleh Bunda peluk?"
Lila mengangguk kecil.
Valeri memeluknya, dan baru setelah itu ia bicara.
"Tidak ada anak yang menggantikan anak lain," katanya. "Kau adalah anak kami dan itu tidak berubah. Tidak berubah waktu bayinya lahir, tidak berubah waktu bayinya besar, tidak berubah sama sekali."
"Semua orang bilang bayi itu lucu."
"Kau juga lucu. Kadang."
Lila tertawa sedikit, tetapi tangannya masih memegang ujung baju Valeri.
Jason mengambil map dari lemari dan menunjukkan dokumen adopsi. Ia membuka halaman yang ada nama Lila, menunjuk baris tempat namanya tertulis.
"Ini tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun. Tidak oleh bayi, tidak oleh aku, tidak oleh pengadilan."
Ia juga menunjukkan kalender kegiatan yang tetap mencantumkan waktu khusus bersama Lila. Sabtu pagi menggambar. Rabu sore mengantar les. Semuanya masih di sana, tidak dihapus, tidak dipindah.
Namun keduanya tahu kepastian tidak cukup diberikan lewat kata-kata dan dokumen.
Mereka harus membuktikannya setiap hari, dalam hal-hal kecil yang tidak ada di kalender mana pun.
Kehamilan Valeri dipantau ketat. Pemeriksaan lebih sering, catatan lebih rinci, dan satu map khusus di laci dapur.
Jason beberapa kali kembali menjadi terlalu protektif.
Ia melarang perjalanan yang sebenarnya masih diizinkan dokter. Ia mengawasi makanan sampai membaca label di botol kecap. Ia menelepon dokter untuk pertanyaan yang bisa menunggu sampai kontrol berikutnya.
Puncaknya terjadi ketika Valeri menemukan daftar di atas meja, ditulis tangan, berisi jadwal makan dan jam tidur yang sudah diatur sampai minggu keempat.
Valeri menghentikannya.
"Tubuhku bukan proyek yang harus kau kelola," katanya.
Jason membuka mulut untuk membela diri, lalu menutupnya.
"Aku hanya..."
"Aku tahu kau takut. Aku juga takut. Tapi rasa takutmu tidak boleh mengambil alih tubuhku."
Jason meminta maaf malam itu juga. Ia tidak memakai kekhawatirannya sebagai pembenaran, dan ia membuang daftar itu di depan Valeri.
Setelah itu ia membatasi dirinya pada bantuan yang disepakati. Ia menemani pemeriksaan ketika Valeri menginginkannya. Ia tetap tinggal di rumah ketika Valeri memilih pergi bersama ibunya.
Kadang ia masih berdiri terlalu lama di dekat pintu saat mobil Valeri keluar. Tetapi ia tidak menelepon.
"Kau sedang menghitung menit, ya," kata Lila suatu sore, tanpa mengangkat wajah dari bukunya.
"Tidak."
"Om Jason lihat jam empat kali."
"Itu kebetulan."
Lila mengangkat bahu dengan gaya orang dewasa yang malas berdebat, dan Jason duduk di sebelahnya sampai mobil itu kembali.
Pada pemeriksaan bulan keenam, dokter mengatakan bayi berkembang sehat.
Valeri membawa pulang hasil pemindaian dalam amplop cokelat. Lila merebutnya di depan pintu, membolak-baliknya, dan memutarnya beberapa kali karena tidak yakin mana atas dan mana bawah.
"Ini kepalanya?"
"Itu kakinya."
"Kepalanya di mana?"
"Sebelah sini."
Lila menempelkannya di lemari es, tepat di sebelah gambarnya sendiri, dengan magnet berbentuk lemon yang sama.
"Kursi keempat untuk bayi," katanya. "Kalau Paman Damar datang, kita tambah kursi lagi."
"Dari mana kursinya?"
"Ambil dari dapur. Yang kaki satunya goyang. Buat Paman Damar saja."
Jason memandang meja makan itu.
Dahulu permukaannya bersih. Hanya dua piring, dua gelas, dan kadang laptop yang tidak pernah ditutup. Dulu meja itu hanya digunakan olehnya dan Valeri, sering pada jam yang berbeda.
Kini permukaannya penuh goresan pensil yang tidak bisa dihapus, lembar pekerjaan sekolah, daftar obat, dan satu lingkaran bekas gelas panas yang tidak pernah ada yang mengakui membuatnya.
Rumah mereka tidak semakin utuh karena jumlah penghuninya bertambah.
Rumah itu utuh karena setiap orang di dalamnya tahu bahwa kasih sayang tidak dibagi menjadi bagian-bagian yang semakin kecil. Kasih sayang diperluas, seperti meja yang selalu dapat diberi satu kursi lagi.