Dua minggu kemudian, Valeri terbangun karena nyeri hebat.
Waktu menunjukkan pukul dua lewat. Kamar gelap, pendingin berbunyi pelan, dan rasa sakit itu datang seperti tali yang ditarik dari dalam perutnya, lalu dilepaskan, lalu ditarik lagi.
Ia menahan napas, menghitung jarak antara satu gelombang dan gelombang berikutnya, dan baru membangunkan Jason setelah yakin ini bukan sekadar kram biasa.
Jason langsung duduk. Tangannya sudah meraih ponsel.
"Aku telepon dokter."
"Telepon," jawab Valeri. "Tapi bicaranya bergantian denganku."
"Baik."
Ia menghubungi dokter setelah mendapat persetujuannya, dan menyerahkan ponsel itu begitu suara di seberang menjawab. Untuk pertama kalinya dalam situasi darurat, Jason mengikuti urutan tanpa memotong.
Lila dititipkan kepada orang tua Valeri. Ia bangun setengah sadar, memeluk tas sekolahnya yang salah diambil, dan hanya bertanya satu hal sebelum masuk mobil.
"Bunda sakit?"
"Perut Bunda sakit. Dokter akan melihat," jawab Jason. "Kakek yang antar kau ke sekolah besok."
Di rumah sakit, dokter menemukan kontraksi dini.
Usia kandungan belum cukup. Valeri harus dirawat untuk mencegah persalinan sebelum waktunya, dengan obat yang dimasukkan lewat infus dan pemantauan yang tidak berhenti.
Kamarnya dingin. Ada monitor di sisi kanan ranjang yang mengeluarkan garis dan angka yang berubah terus, dan bunyi pendek setiap beberapa detik.
Jason duduk di samping ranjang sambil meremas kedua tangannya sendiri sampai buku jarinya memutih.
Ia bertanya kepada setiap perawat yang masuk.
"Angka yang ini artinya apa?"
"Kenapa naik?"
"Tadi delapan puluh, sekarang sembilan puluh dua. Itu bahaya?"
Perawat menjawab dengan sabar sampai kali ketiga. Pada kali keempat, Valeri yang bicara.
"Jason. Lima menit tanpa pertanyaan."
Jason menoleh, wajahnya seperti orang yang baru saja ditegur di depan umum.
"Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," katanya.
"Aku tahu." Valeri menarik napas pelan. "Tapi kecemasanmu memenuhi seluruh ruangan. Tidak ada ruang tersisa. Aku juga butuh tempat untuk merasa takut."
Jason membuka mulut, lalu menutupnya. Ia berdiri, menyentuh kaki ranjang sebentar, dan keluar.
Di koridor, ia menelepon konselornya. Percakapannya tidak lama, mungkin sepuluh menit, dan sebagian besar ia habiskan untuk mendengarkan.
Ketika kembali, ia membawa dua gelas air dan menarik kursinya lebih dekat.
Ia tidak menjanjikan bahwa semuanya pasti baik. Ia tidak berkata "tenang saja" atau "pasti selamat", karena keduanya bukan sesuatu yang ia ketahui.
"Aku di sini," katanya. "Kita hadapi informasi yang ada satu per satu."
Valeri menggenggam tangannya, dan untuk pertama kalinya sejak tengah malam, bahunya turun.
Obat berhasil menghentikan kontraksi.
Dokter datang pagi berikutnya dengan kabar yang tidak besar tetapi cukup, yaitu kontraksinya berhenti dan bayi masih di tempatnya. Valeri diminta tetap dirawat beberapa hari, lalu menjalani istirahat ketat setelah pulang.
"Berapa lama ketatnya?" tanya Valeri.
"Sampai saya bilang cukup."
"Saya punya dua rapat minggu depan."
"Anda punya dua rapat yang bisa dipindahkan," jawab dokter tanpa mengangkat wajah dari berkas. "Dan satu bayi yang tidak bisa."
Jason tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap langit-langit, dan Valeri tahu persis betapa besar usaha yang dipakai lelaki itu untuk menahan diri tidak berkata "sudah kubilang".
Lila datang pada sore hari, dibawa kakek dan neneknya.
Ia berhenti di ambang pintu, memegang gulungan kertas di dadanya, dan tidak melangkah masuk meski sudah dipersilakan.
Rumah sakit adalah ruangan yang ia kenal. Ia pernah berada di ruangan seperti ini, dengan bau yang sama, dengan bunyi alat yang sama, dan ia tidak pernah menceritakan kepada siapa pun bagaimana kunjungan terakhirnya berakhir.
Valeri mengulurkan tangan.
"Sini."
Baru setelah itu Lila melangkah. Ia menyerahkan gambarnya dengan dua tangan.
Empat orang berdiri di bawah payung besar. Payungnya biru, terlalu besar untuk ukuran orang-orang di bawahnya, dan gagangnya dipegang oleh sosok paling tinggi.
"Bayi mau keluar sekarang?" tanyanya.
"Belum," jawab Valeri. "Dokter membantu bayi tinggal sedikit lebih lama di dalam. Supaya kuat dulu."
Lila mengangguk. Jarinya meraba ujung selimut.
"Bunda akan mati seperti Mama?"
Pertanyaan itu membuat semua orang di ruangan diam. Ibu Valeri yang berdiri di dekat jendela menutup mulutnya. Jason menoleh cepat, dan Valeri menahannya dengan pandangan supaya tidak buru-buru menjawab.
Valeri tidak berkata "jangan bicara begitu". Ia juga tidak berjanji.
"Dokter sedang menjaga Bunda," katanya. "Mereka melihat semuanya lewat alat itu, siang dan malam. Sekarang mereka tidak melihat tanda bahwa hal itu akan terjadi."
"Tapi Mama juga ke rumah sakit."
"Iya. Dan itu membuatmu takut setiap kali melihat tempat seperti ini." Valeri menggenggam tangan kecil itu. "Rasa takutmu boleh dibicarakan kapan saja. Sama Bunda, sama Om Jason, sama Bu Ratih. Kau tidak perlu menunggu ditanya."
Lila tidak menangis. Ia hanya naik ke kursi dan duduk di situ sampai jam besuk hampir habis.
Sebelum pulang, ia menempelkan gambarnya di dinding dekat ranjang, agak miring, dengan plester yang dipinjamnya dari meja perawat.
"Biar payungnya di sini," katanya.
"Untuk apa payungnya?"
"Supaya tidak kehujanan."
Valeri memandang gambar itu lama setelah pintu ditutup.
Ratih membantu mencarikan sesi tambahan dengan psikolog anak dalam minggu yang sama.
Jason juga memastikan jadwal harian Lila tidak berubah terlalu banyak. Sekolah tetap. Les menggambar tetap. Sabtu pagi tetap menggambar, meski kali ini di kursi rumah sakit.
Pada malam ketiga, Valeri terbangun sekitar pukul satu.
Lampu kamar sudah diredupkan. Monitor masih berbunyi pelan, dan di kursi di sudut ruangan, Jason tertidur dengan kepala miring ke bahu.
Di tangannya ada buku panduan kehamilan, terbuka, halamannya ditekuk di sudut.
Valeri memicingkan mata untuk membaca judul babnya. Halaman itu tentang komplikasi.
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh lengan suaminya sampai Jason terbangun dengan sentakan kecil.
"Ada apa? Sakit lagi?"
"Tidak." Valeri menunjuk buku itu. "Simpan."
"Aku cuma..."
"Duduk saja di sini," katanya. "Kau tidak perlu mempelajari seluruh kemungkinan buruk malam ini."
Jason memandangi buku itu sebentar, lalu menutupnya dan meletakkannya di bawah kursi. Ia menarik kursinya mendekat dan menggenggam tangan Valeri.
Mereka tidak berbicara lagi. Mereka hanya mendengarkan bunyi monitor bersama-sama, bunyi pendek yang berulang, yang malam itu terdengar seperti hal paling menenangkan di dunia.
Malam di rumah sakit mengajarkan sesuatu yang tidak pernah bisa dipelajari Jason di ruang rapat mana pun, yaitu menghadapi risiko bukan berarti menguasai setiap hasil.
Terkadang keberanian hanya berbentuk dua orang yang tetap hadir ketika tidak seorang pun dapat memberikan kepastian.