Valeri pulang dengan daftar larangan yang panjang.
Dokter menuliskannya di selembar kertas, dan Jason menyalinnya lagi ke papan kecil di dapur karena takut kertasnya hilang. Membatasi pekerjaan. Tidak boleh bepergian. Membutuhkan bantuan untuk sejumlah kegiatan sehari-hari, termasuk hal-hal sederhana yang dulu ia lakukan tanpa berpikir.
Rumah pun berubah iramanya. Bantal ditumpuk di sofa. Botol air diletakkan di tiga tempat berbeda. Tangga jadi sesuatu yang harus dinegosiasikan.
Lila menganggap semua itu tugasnya.
Anak itu mengambilkan air tanpa diminta, kadang dua gelas sekaligus, kadang ketika Valeri belum menghabiskan yang pertama. Ia berbicara dengan suara terlalu pelan, hampir berbisik, seolah suara biasa saja bisa membahayakan seseorang.
Ia mulai menolak pergi bermain. Undangan ulang tahun teman sekelas ditolaknya dengan alasan yang berubah-ubah. Ajakan bersepeda di kompleks ditolak dengan alasan gerimis, padahal langit kering.
"Nanti kalau aku pergi, tidak ada yang jaga Bunda."
Pada awalnya Jason memuji sikapnya.
"Kakak yang hebat," katanya sambil mengusap kepala Lila. "Om bangga."
Anak itu tersenyum, lalu bekerja lebih keras keesokan harinya.
Valeri justru melihat sesuatu yang lain di balik perilaku itu. Bukan kebaikan hati. Melainkan kecemasan yang menyamar jadi kerajinan, jenis kecemasan yang sudah pernah ia lihat pada anak-anak di panti dulu, dan pernah ia kenali pada dirinya sendiri.
Anak yang terlalu rajin membantu biasanya sedang membayar sesuatu.
Suatu sore, Lila menjatuhkan gelas.
Bunyinya tidak terlalu keras. Air tumpah ke lantai, pecahannya tiga potong besar, mudah dibersihkan.
Tetapi anak itu langsung menangis. Bukan tangis kaget, melainkan tangis yang keluar dari tempat yang jauh lebih dalam.
"Maaf," katanya berulang-ulang. "Maaf. Aku kakak yang buruk. Aku membuat Bunda kaget."
Valeri tidak bangkit dari sofa, karena tidak boleh. Ia memanggilnya mendekat.
"Lila. Sini."
Anak itu datang dengan wajah basah, berhenti satu langkah dari sofa seperti orang yang menunggu hukuman.
"Duduk."
Valeri menunggu sampai tangisnya reda sedikit, lalu bicara pelan.
"Menjadi kakak bukan pekerjaan menjaga Bunda atau bayi," katanya. "Itu tugas orang dewasa. Tugas Bunda, tugas Om Jason, tugas dokter. Bukan tugasmu."
"Tapi Bunda sakit."
"Bunda sedang harus istirahat. Itu bukan karena kau kurang menjaga, dan tidak akan jadi lebih baik kalau kau menjaga lebih keras." Valeri menunduk supaya bisa menatap matanya. "Kau boleh bermain. Kau boleh membuat suara. Kau boleh melakukan kesalahan."
"Gelasnya pecah."
"Gelas memang pecah. Itu pekerjaan gelas."
Lila mengeluarkan suara antara tawa dan isak.
"Aku boleh berisik?"
"Boleh. Tolong berisik. Rumah ini terlalu sepi sejak Bunda pulang."
"Kalau aku lari di tangga?"
"Itu tidak boleh. Tapi bukan karena Bunda. Karena tangga."
Anak itu mengusap wajahnya dengan lengan baju, lalu duduk di lantai dekat kaki sofa, masih menempel, tetapi bahunya sudah turun.
Jason berdiri di ambang dapur dan mendengar semuanya, dan ada sesuatu yang jatuh di dadanya.
Ia menyadari pujiannya sendiri yang membuat ini terjadi. Setiap kali ia berkata "kakak yang hebat" untuk gelas air yang diambilkan, ia sedang mengajarkan sesuatu yang tidak ia maksudkan, yaitu bahwa kasih sayang harus diperoleh dengan menjadi anak yang selalu membantu.
Malam itu ia meminta maaf.
"Om salah," katanya kepada Lila. "Om memuji kau karena membantu terus. Padahal Om harusnya bilang, kau boleh main dan kami tetap sayang."
"Sekarang kalau aku tidak bantu, Om tidak bangga?"
"Om bangga karena kau adalah kau. Bukan karena kau membawa gelas."
Lila memikirkan itu sebentar. "Berarti aku boleh malas?"
"Kadang-kadang."
"Hari Minggu?"
"Hari Minggu," kata Jason, dan ia menuliskannya di papan dapur, di bawah daftar larangan dokter, supaya tidak ada yang lupa.
Mereka mengembalikan kegiatan Lila seperti biasa, dan melakukannya dengan sengaja.
Damar mengajaknya ke museum pada akhir pekan berikutnya. Alena menemaninya kembali mengikuti kelas menggambar, dan pulang membawa dua tangan penuh cat.
Jason menetapkan waktu khusus setiap Rabu sore, dengan satu aturan yang ia buat sendiri, yaitu tidak ada pembicaraan tentang bayi. Tidak sekali pun. Kalau Lila yang membuka, baru boleh.
Tetapi tidak semuanya selesai di rumah.
Di sekolah, Lila berkelahi.
Seorang teman sekelas mengatakan anak adopsi bukan kakak sungguhan. Ia mengulanginya tiga kali sambil tertawa, dan pada kali ketiga Lila mendorongnya sampai jatuh.
Wali kelas menelepon siang itu juga.
Valeri dan Jason tidak membenarkan tindakannya. Mereka juga tidak mengabaikan luka di baliknya.
"Mendorong orang sampai jatuh itu salah," kata Jason di ruang guru. "Lila akan minta maaf untuk itu."
"Dan yang dikatakan anak itu," lanjut Valeri, "adalah urusan sekolah. Saya ingin tahu bagaimana sekolah menanganinya."
Lila meminta maaf keesokan harinya, di depan wali kelas, dengan suara pelan tetapi jelas. Sekolah menangani ejekan itu lewat jalurnya sendiri.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Jason bertanya.
"Kau marah waktu dia bilang begitu?"
"Iya."
"Om juga akan marah." Jason menoleh sebentar. "Tapi tangan kita tidak boleh jadi jawabannya. Itu berlaku untuk Om juga. Kau ingat di pinggir jalan waktu itu?"
Lila mengangguk pelan.
Malam itu, di kamar, anak itu bertanya dengan suara yang sangat kecil.
"Kalau bayi lahir dari perut Bunda dan aku tidak, dia lebih anak Bunda?"
Valeri sudah menduga pertanyaan itu akan datang. Ia tidak menyiapkan pidato. Ia hanya meminta Jason mengambilkan album keluarga dari rak.
Mereka membukanya di atas ranjang.
Ada foto hari adopsi, diambil dengan ponsel di depan kedai es krim, semua orang terlihat berantakan dan bahagia. Ada gambar pertama Lila, yang sudah kusut di ujungnya, tiga orang tanpa nama di depan rumah beratap merah.
Dan ada hasil pemindaian bayi, hitam putih dan sulit dibaca, terselip di halaman terakhir.
Valeri menunjuk ketiganya berurutan.
"Cara kalian datang berbeda," katanya. "Kau lewat pengadilan dan setahun penuh pertanyaan. Dia lewat perut Bunda. Tempat kalian di keluarga ini tidak diukur dari cara datangnya."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
Lila memandangi halaman itu lama sekali, lalu menutup album dan minta pensil.
Dua hari kemudian ia menyerahkan sebuah kartu.
Kertasnya dilipat dua, dihias bintang-bintang yang terlalu banyak, dan di bagian depan tertulis dengan spidol biru.
Aku kakakmu, tapi aku juga masih boleh menjadi anak-anak.
Jason membacanya, lalu memberikannya kepada Valeri tanpa berkata apa-apa, karena ia tidak sanggup.
Valeri menempelkan kartu itu di dekat ranjang bayi yang baru selesai dipasang minggu lalu.
Kalimat tersebut bukan hanya janji untuk Lila.
Itu menjadi pengingat bagi mereka semua bahwa anak tidak harus sempurna agar pantas merasa aman.