Kontraksi itu datang pada minggu ketiga puluh tujuh, dua minggu lebih awal dari tanggal yang ditulis dokter di buku kontrol. Bukan keadaan darurat. Dokter sudah menjelaskan sejak pemeriksaan terakhir bahwa bayi pada usia kandungan itu umumnya sudah cukup matang, dan kalimat itulah yang Valeri putar berulang-ulang di kepalanya ketika rasa kencang pertama menjalar dari punggung ke perut bawah.
Ia terbangun menjelang subuh. Kamar masih gelap, hanya ada garis biru tipis di celah gorden. Dari luar terdengar burung pertama dan suara motor yang lewat di jalan depan. Valeri berbaring diam, menghitung dalam hati.
Rasa itu datang lagi. Lalu lagi, dengan jarak yang hampir sama.
Teratur. Bukan kontraksi palsu.
"Jason." Ia menepuk lengan suaminya. "Sepertinya sudah."
Jason langsung duduk. Rambutnya berantakan, matanya masih setengah tertutup, tetapi tubuhnya bergerak lebih cepat daripada kesadarannya. Ia menyalakan lampu kecil di meja, lalu mengambil tas rumah sakit yang sudah berdiri di sudut kamar selama tiga minggu terakhir.
Dulu Valeri tahu persis apa yang akan terjadi berikutnya. Jason akan menelepon sopir, memerintahkan mobil disiapkan, menghubungi rumah sakit, dan mengatur seluruh pagi itu sebelum Valeri sempat menarik napas.
Kali ini tidak.
Jason berlutut di sisi ranjang dan menatap wajah istrinya.
"Kau mau berangkat sekarang, atau menunggu sampai kontraksinya lebih rapat?"
Valeri mengerjap. "Kau bertanya."
"Aku belajar." Jason tersenyum tipis. "Siapa yang harus kuhubungi lebih dulu? Mama-papamu, Alena, atau rumah sakit saja?"
"Rumah sakit dulu. Yang lain nanti setelah kita sampai." Valeri menarik napas ketika perutnya mengeras lagi. "Dan berangkat sekarang. Aku tidak mau kena macet subuh sambil begini."
Jason mengangguk dan bangkit.
Suara mereka rupanya membangunkan Lila. Anak itu berdiri di ambang pintu dengan piyama bergambar kucing, rambut menempel di pipi, memeluk lengannya sendiri.
"Bunda sakit?"
"Bukan sakit," kata Valeri. "Adikmu mau keluar."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Damar datang dua puluh menit kemudian, masih memakai jaket yang salah kancing. Ia menepuk bahu Jason sekali, lalu langsung ke dapur untuk merebus air, seolah itu tugas yang sudah lama disiapkannya.
"Lila biar sama saya," katanya. "Kalian urus yang penting."
Sebelum Valeri melangkah ke pintu, Lila menarik ujung bajunya. Di tangannya ada kartu yang pernah ia buat, kertas tebal yang sudutnya sudah agak melengkung karena terlalu sering dipegang.
"Kasih ke bayi kalau dia takut," katanya.
Valeri menunduk dan mencium puncak kepala anak itu. "Bunda kasih. Janji."
Persalinan berlangsung panjang. Jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan Valeri ketika membaca buku-buku persiapan.
Pagi berubah menjadi siang. Siang berubah menjadi sore. Ruangan itu berbau antiseptik dan sedikit bau kain bersih. Ada jam dinding yang detiknya terdengar terlalu keras di sela-sela kontraksi, dan suara mesin pemantau yang berdenyut tenang seperti tidak peduli pada apa pun.
Jason tetap berada di sisi Valeri. Tetapi ia tidak lagi menjadi orang yang memutuskan.
Ketika Valeri tidak ingin disentuh, ia mundur. Berdiri dua langkah dari ranjang, diam, membiarkan bidan bekerja.
"Jangan pegang," kata Valeri di satu titik, suaranya serak. "Maaf. Jangan dulu."
"Tidak apa-apa." Jason menurunkan tangannya. "Aku di sini saja."
Lalu satu jam kemudian, Valeri mencari tangannya sendiri.
"Sini," katanya. "Sini, Jason."
Ia memberikannya. Valeri meremas begitu keras sampai kuku-kukunya hampir melukai kulit punggung tangan suaminya, dan Jason tidak menarik tangannya sedikit pun. Ia hanya menunduk, menempelkan keningnya ke pelipis Valeri, dan mengatakan hal-hal kecil yang tidak penting supaya ada suara di ruangan itu selain rasa sakit.
"Bagus. Satu lagi. Cuma satu lagi."
"Kau bilang begitu dari tadi."
"Aku memang tidak bisa dipercaya soal hitungan."
Valeri tertawa di tengah napas yang patah-patah, dan tawa itu berubah jadi ringisan.
Di sela dua kontraksi, ketika ruangan mendadak terasa sunyi, Valeri melirik tas di kursi.
"Kartunya."
"Apa?"
"Kartu dari Lila. Ambil."
Jason mengeluarkannya dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang, menghadap ke arah Valeri. Tulisan tangan anak itu miring dan terlalu besar untuk kertasnya.
"Sudah," kata Jason. "Dia ikut menunggu."
Valeri menatap kartu itu sampai gelombang berikutnya datang.
Menjelang malam, ketika lampu-lampu di luar jendela sudah menyala satu per satu, tangisan bayi akhirnya memenuhi ruangan.
Suara itu kecil, marah, dan hidup.
"Perempuan," kata dokter. "Sehat."
Valeri menangis ketika bayi itu diletakkan di dadanya. Bukan tangis yang cantik. Tangis yang berantakan, dengan bahu yang berguncang dan hidung yang tersumbat, sementara sesuatu yang hangat dan basah dan sangat kecil bergerak di atas kulitnya.
Jason mencium kening istrinya. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Terlalu terharu untuk berbicara.
Mereka menamainya Aruna Laras—Aruna untuk cahaya pagi, dan Laras untuk menghormati ibu kandung Valeri tanpa menghapus keluarga yang membesarkannya.
"Kau yakin?" tanya Jason pelan, malam itu.
"Yakin." Valeri menatap wajah bayinya. "Namanya boleh dibawa, asal tidak menjadi beban."
Lila datang keesokan hari.
Anak itu masuk ke kamar rawat dengan langkah hati-hati, lalu berhenti jauh dari ranjang, di dekat lemari. Ia berdiri di sana cukup lama sampai Jason menoleh dan mengulurkan tangan.
"Sini. Tidak ada aturan harus berdiri di situ."
Lila mendekat setengah langkah demi setengah langkah.
"Ini adikmu," kata Jason.
"Dia kecil sekali."
"Ayah juga terkejut."
Lila menyentuh kaki Aruna dengan satu jari, sangat pelan, seperti menyentuh air panas. Bayi itu bergerak, jari-jari kakinya mengkerut, dan Lila tertawa kaget.
"Dia gerak!"
"Boleh Ayah foto kalian?" tanya Jason.
Lila mengangguk. Jason mengambil satu gambar, memeriksanya, lalu menyimpan foto itu di album yang tidak pernah keluar dari ponselnya. Untuk keluarga saja.
Mira dan orang tua Valeri datang bergantian sepanjang hari, supaya kamar tidak penuh. Mama Valeri membawa terlalu banyak bekal. Papanya berdiri di depan boks bayi tanpa bicara selama lima menit penuh.
Mira menangis ketika mendengar nama Laras. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, lalu buru-buru mengelap wajahnya dan bertanya apakah Valeri sudah makan. Ia tidak menjadikan momen itu tentang dirinya sendiri, dan Valeri diam-diam berterima kasih untuk itu.
Pada malam pertama, ketika kamar sudah sepi, Valeri memandang Jason menggendong Aruna di dekat jendela rumah sakit. Kota di bawah sana masih menyala. Punggung suaminya bergoyang pelan, ke kiri dan ke kanan, gerakan yang tidak pernah diajarkan siapa pun kepadanya.
Valeri tahu kebahagiaan tidak menjamin masa depan tanpa kesulitan. Ia sudah pernah melihat betapa cepat hidup bisa berbalik. Namun untuk saat itu, ia mengizinkan dirinya merasa utuh.
Kelahiran Aruna bukan pengganti kehilangan yang pernah mereka alami, dan bukan penyempurna keluarga yang sebelumnya kurang. Ia datang sebagai dirinya sendiri—seorang anak baru yang dicintai bukan untuk mengisi ruang kosong, melainkan untuk membuat ruangnya sendiri.