Minggu-minggu pertama bersama bayi menghancurkan semua jadwal yang pernah mereka susun.
Aruna tidur pada siang hari, ketika matahari masuk penuh ke kamar dan seluruh rumah sebenarnya sedang sibuk. Lalu ia bangun pada malam hari dan menangis hampir sepanjang waktu, dengan tenaga yang tidak masuk akal untuk tubuh sekecil itu.
Jason pernah memasang popok terbalik dua kali dalam satu malam dan baru sadar setelah kasur ikut basah. Valeri lupa kapan terakhir ia makan, sampai suatu sore ia menemukan piring berisi nasi yang sudah dingin di meja dapur dan tidak ingat siapa yang menaruhnya di sana. Lila mengeluh karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dalam keadaan tenang.
"Aku baru tulis dua kalimat, terus dia nangis lagi," katanya sambil menutup buku dengan keras.
Rumah itu besar, tetapi suara tangis bayi punya cara sendiri untuk sampai ke semua sudutnya.
Pada hari kesepuluh, Jason mengumumkan solusinya.
"Aku akan cari tiga pengasuh. Shift pagi, sore, malam. Supaya tidak ada yang kelelahan."
Valeri menatapnya dari sofa, dengan rambut yang belum disisir sejak kemarin. "Tiga."
"Kenapa? Kita mampu."
"Bukan soal mampu." Valeri menggeleng pelan. "Jason, kalau ada tiga orang bergantian masuk-keluar rumah dengan jadwal, ini bukan rumah lagi. Ini kantor. Aku sudah punya kantor."
Mereka berdebat hampir satu jam.
Jason bersikeras bahwa istirahat itu penting, bahwa tidak ada gunanya memaksakan diri sampai sakit, bahwa ia pernah melihat orang tumbang karena kurang tidur berminggu-minggu.
Valeri bersikeras bahwa ia tidak mau membesarkan anak di tempat yang terasa seperti ruang tunggu, dengan wajah-wajah yang berganti setiap delapan jam.
"Aku bukan menolak bantuan," katanya. "Aku menolak diurus seperti proyek."
"Aku tidak sedang mengurusmu seperti proyek."
"Kau sedang menyusun shift, Jason."
Jason membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Ia memandang papan jadwal yang sudah ia tulis di ponselnya, lengkap dengan kolom jam, dan mendadak melihat apa yang dilihat istrinya.
"Oh," katanya. "Iya. Aku memang menyusun shift."
Akhirnya mereka berhenti di tengah.
Satu pengasuh berpengalaman untuk membantu pada siang hari. Bantuan keluarga secara terjadwal—mama Valeri dua hari dalam seminggu, Alena kalau sedang tidak ada pemotretan, Damar kapan pun ia mengaku "kebetulan lewat", yang ternyata sering sekali.
Yang lebih berat justru tidak bisa diselesaikan dengan jadwal.
Valeri kesulitan menyusui. Aruna menolak, lalu menangis, lalu menolak lagi. Setiap tangisan itu masuk ke dada Valeri seperti tuduhan.
"Aku ibunya," katanya suatu malam. "Ini satu hal yang seharusnya bisa kulakukan."
Seorang konsultan laktasi datang tiga kali. Ia membetulkan posisi, mengajari cara memompa, dan menjelaskan hal-hal teknis dengan sabar. Tetapi ia juga mengatakan satu kalimat yang tidak Valeri duga akan ia dengar dari seorang ahli.
"Kalau nanti perlu susu tambahan, itu bukan kegagalan, Bu. Bayi yang kenyang dan ibu yang waras jauh lebih penting daripada satu metode."
Valeri mengangguk. Ia tetap merasa gagal.
Jason melihat itu dan mencoba membantu dengan cara yang paling ia tahu.
"Kau pasti bisa," katanya. "Aku yakin. Kau selalu bisa kalau sudah mau."
Kalimat itu justru membuat dada Valeri makin sesak.
Malam berikutnya, ketika Aruna akhirnya tidur dan rumah hening untuk pertama kalinya sejak sore, Valeri duduk di tepi ranjang dan menangis tanpa suara.
Jason panik. "Ada apa? Sakit? Aku panggil dokter?"
"Jangan bilang aku pasti bisa." Valeri mengusap wajahnya. "Tolong. Jangan itu."
"Aku cuma mau menyemangati."
"Aku tahu." Ia menarik napas. "Tapi setiap kali kau bilang begitu, rasanya kau sedang menaruh tanggung jawab lain di punggungku. Kalau ternyata aku tidak bisa, artinya aku yang kurang mau."
Jason duduk di lantai, di depan istrinya.
"Aku tidak butuh keyakinan bahwa aku pasti berhasil," kata Valeri sambil menangis. "Aku butuh tahu bahwa kau tetap mendukungku kalau caranya berubah."
Jason terdiam cukup lama. Lalu ia mengangkat kepala.
"Apa pun cara Aruna makan dengan aman, kau tetap ibunya."
Valeri menunduk. Bahunya turun beberapa sentimeter, seperti ada sesuatu yang akhirnya diletakkan.
Mereka memilih kombinasi. Sebagian menyusui langsung, sebagian susu tambahan, dengan jadwal yang memungkinkan Valeri tidur setidaknya empat jam berturut-turut. Jason mengambil jadwal pemberian susu tengah malam, dan ia menepatinya bahkan pada hari-hari ketika rapat yayasan berlangsung sampai larut.
Sementara itu, Lila mulai berubah.
Ia membanting pintu kamarnya tepat ketika Aruna baru tertidur. Ia mengaku perutnya sakit setiap kali Valeri sedang menggendong bayi, lalu sembuh ajaib begitu digendong juga. Ia meninggalkan sepatu di tengah lorong, padahal biasanya rapi.
Jason hampir memarahinya pada malam ketiga.
"Jangan," kata Valeri pelan. "Kalau kita bilang dia kakak yang buruk, dia akan berhenti menunjukkannya. Bukan berhenti merasakannya."
Maka mereka mengubah caranya. Mereka menyediakan waktu khusus hanya untuk Lila, ditulis di papan dapur seperti janji resmi, dan tidak pernah dibatalkan karena bayi.
Pada suatu malam, Valeri mengajak Lila membuat cokelat hangat di dapur sementara Jason menjaga Aruna di lantai atas. Dapur itu hangat, ada bau susu dan bubuk cokelat, dan jendela di atas bak cuci berembun karena hujan di luar.
Lila mengaduk gelasnya terlalu lama.
"Bunda masih suka aku?" tanyanya, tanpa mengangkat wajah.
Valeri meletakkan sendoknya.
"Selalu," katanya. "Tapi mungkin akhir-akhir ini Bunda kurang menunjukkannya. Terima kasih karena mengatakan perasaanmu."
Lila mengangguk. Ia menyeruput cokelatnya, lalu berkata dengan suara kecil, "Boleh aku ikut kasih botol ke dia?"
"Boleh." Valeri mengusap rambutnya. "Kalau kamu mau. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Itu bukan tugasmu."
"Aku mau."
Rumah mereka tidak tidur malam itu.
Aruna menangis pukul sebelas, lalu pukul satu, lalu pukul tiga. Lila tertawa terbahak-bahak karena Jason turun ke ruang tengah dengan kaus terbalik dan label menggantung di bawah dagunya. Susu tumpah di sofa ketika Lila mencoba memegang botol sendiri, dan mereka semua berhenti sebentar untuk memandangi noda putih yang menyebar di kain abu-abu.
"Besok kita cuci," kata Valeri.
"Besok," Jason setuju.
Menjelang pukul empat, ketika Aruna akhirnya tenang dan Lila sudah tertidur miring di karpet dengan mulut terbuka, Jason memandang istrinya dari seberang ruangan.
"Kita baik-baik saja?"
Valeri melihat ruangan itu. Bantal di lantai. Botol di meja. Noda susu di sofa. Dua anak yang sama-sama membutuhkan mereka dengan cara yang sama sekali berbeda.
"Kita lelah," jawabnya. "Tapi kita tidak sendirian."
Keluarga mereka tidak tampak seperti gambar sempurna. Justru melalui malam-malam tanpa tidur itulah mereka belajar bahwa cinta sehari-hari sering hadir sebagai botol yang dicuci, permintaan maaf yang cepat, dan kesediaan meminta bantuan sebelum kelelahan berubah menjadi luka.