Empat bulan setelah kelahiran Aruna, Valeri mulai bersiap kembali bekerja.
Ia merindukan timnya. Itu bagian yang paling jujur dan paling sulit diakui. Ia merindukan ruang rapat, papan putih yang penuh coretan, perdebatan soal angka, bahkan kopi kantor yang rasanya selalu terlalu pahit. Ada bagian dari dirinya yang selama empat bulan ini tidak dipakai, dan bagian itu mulai gatal.
Tetapi setiap kali ia berdiri di depan boks bayi dan melihat Aruna tertidur dengan tangan terkepal di samping kepala, rasa bersalah datang seperti air yang masuk lewat celah pintu.
"Kalau dia lupa wajahku bagaimana?" tanyanya suatu malam.
Jason menatapnya lama. "Dalam delapan jam?"
"Aku tahu itu tidak masuk akal."
"Aku tidak bilang tidak masuk akal."
Pada hari pertama, Valeri memeriksa tas Aruna tiga kali.
Botol, susu, popok, baju ganti, kain, salep, termometer. Lalu ia membongkarnya lagi dan menghitung ulang popoknya. Lalu ia berdiri di depan tas itu dengan kunci mobil sudah di tangan dan membukanya untuk ketiga kalinya.
"Sudah lengkap," kata Jason dari ambang pintu. "Mbak Ani sudah delapan tahun kerja sama bayi, aku ada di rumah seharian, dan rumah sakit cuma dua belas menit dari sini. Aku sudah hitung."
"Aku tahu," kata Valeri. "Mengetahui tidak selalu membuat perasaannya hilang."
Jason mengangguk. Ia tidak membantah lagi. Ia hanya mengambil tas itu dari tangan istrinya dan meletakkannya di kursi, lalu membukakan pintu.
Di kantor, timnya menyambutnya tanpa pesta berlebihan.
Tidak ada balon, tidak ada spanduk. Hanya meja kerjanya yang sudah dibersihkan, satu vas kecil berisi bunga yang jelas dibeli buru-buru di depan gedung, dan kartu ucapan yang ditandatangani semua orang dengan tulisan tangan yang berdesakan.
"Kami sengaja tidak bikin acara," kata Rina, wakil direkturnya. "Ibu pasti capek."
Valeri tertawa. "Kalian sudah mengenalku."
Ia membaca laporan tiga bulan terakhir di ruangannya sendiri, pintu tertutup, dan di situlah perasaan itu datang.
Rina memimpin dengan baik. Sangat baik. Ada keputusan yang bahkan lebih cepat daripada yang biasanya Valeri ambil, dan hasilnya benar. Ada dua masalah besar yang selesai tanpa satu pun surel masuk ke kotak masuknya.
Valeri merasa bangga. Ia juga merasa tidak nyaman, dan ia membenci dirinya sendiri karena merasa begitu.
Ada satu kalimat yang muncul di kepalanya dan langsung ia usir: berarti aku tidak sepenting itu.
Ia meletakkan laporan itu, memandang langit-langit selama beberapa detik, lalu mengambilnya lagi dan membacanya sampai habis. Kalau timnya bisa berjalan tanpa dirinya, itu artinya ia pernah membangun sesuatu dengan benar. Ia mengulang kalimat itu dalam hati sampai terasa masuk akal.
Dalam rapat pukul sepuluh, ia hampir mengambil alih seluruh agenda.
Ia sudah membuka mulut untuk melanjutkan slide kelima, tangannya sudah bergerak ke arah pengendali proyektor, ketika sesuatu menahannya. Ia teringat wajah Jason pada hari-hari pertama setelah lelaki itu meninggalkan kursi CEO. Bagaimana Jason duduk di rapat dan menggenggam mejanya sendiri supaya tidak bicara. Bagaimana ia pernah berkata bahwa yang paling berat bukan kehilangan jabatan, tetapi kehilangan alasan untuk merasa penting.
Valeri menurunkan tangannya.
"Rina, lanjutkan," katanya. "Kau yang paling paham perkembangannya."
Rina tampak sedikit terkejut, lalu melanjutkan. Valeri mendengarkan. Ia menulis catatan, mengajukan dua pertanyaan, dan tidak sekali pun mengambil alih papan.
Masalah muncul menjelang siang.
Ponselnya bergetar di atas meja saat rapat kedua baru berjalan dua puluh menit. Nama pengasuh muncul di layar, lalu disusul pesan dari Jason.
Aruna demam. 38,4. Sudah kuhubungi dokter, jadwal periksa jam satu. Kau mau pulang, atau mau ikut lewat panggilan video? Dua-duanya tidak apa-apa.
Valeri membaca pesan itu tiga kali.
Kalimat terakhirnya yang membuat matanya panas. Dua-duanya tidak apa-apa. Jason tidak menyuruhnya pulang, dan tidak juga menahannya.
Ia memilih pulang.
Ia membatalkan rapat dengan mitra dari Singapura yang sudah dijadwalkan sejak tiga minggu lalu. Sepanjang perjalanan ke lift, satu suara di kepalanya terus mengulang hal yang sama: mereka akan berpikir kau sudah tidak serius, ini hari pertamamu, kau baru kembali setengah hari.
Rina mengejarnya sampai ke koridor.
"Bu."
"Maaf. Aku tahu ini—"
"Kami bisa melanjutkan," potong Rina. "Ibu sudah membangun sistem untuk itu."
Valeri berhenti sebentar. Lalu ia mengangguk dan pergi.
Demam Aruna ternyata akibat imunisasi yang diberikan dua hari sebelumnya.
Dokter memeriksanya dengan tenang, menempelkan stetoskop, menghitung napasnya, lalu menutup map dan tersenyum.
"Reaksi wajar, Bu. Banyak minum, jangan dibungkus tebal-tebal. Besok sudah turun."
"Tidak perlu obat?"
"Kalau rewel sekali, boleh penurun panas. Kalau tidak, tidak usah."
Valeri keluar dari ruang praktik sambil menggendong Aruna yang tertidur dengan pipi merah dan napas hangat di lehernya. Di parkiran, Jason melirik istrinya.
"Kau menyesal pulang?"
"Tidak." Valeri menggeser rambut dari dahi bayinya. "Tapi aku juga tidak merasa hebat. Rasanya cuma seperti memilih satu pintu dan menutup pintu yang lain."
Menjelang sore, suhu Aruna sudah turun. Menjelang malam, ia sudah kembali menendang-nendang selimutnya dengan penuh semangat, seolah tidak pernah membuat siapa pun membatalkan rapat.
Valeri duduk di tepi ranjang, masih memakai blus kerjanya yang belum sempat diganti.
"Aku ingin menjadi ibu yang hadir dan pemimpin yang dapat diandalkan," katanya. "Rasanya seperti selalu mengecewakan salah satunya."
Jason duduk di sampingnya.
"Mungkin masalahnya bukan dirimu," katanya. "Mungkin standar bahwa seseorang harus hadir sempurna di dua tempat sekaligus memang mustahil."
"Orang lain bisa."
"Orang lain juga sedang berpura-pura bisa."
Valeri menoleh. "Itu menghibur atau menakutkan?"
"Belum kuputuskan."
Mereka menghabiskan malam itu di meja makan dengan kalender dan dua gelas teh yang mendingin.
Valeri menetapkan dua hari kerja dari rumah, Selasa dan Kamis, dan ia menuliskannya di kalender bersama sebagai janji, bukan sebagai kemungkinan. Jason memindahkan rapat yayasan ke hari-hari ketika Valeri berada di kantor. Pengasuh mendapat waktu istirahat yang layak dan hari libur yang jelas, bukan sisa waktu dari kelelahan orang lain.
Orang tua Valeri menawarkan diri untuk datang kapan saja.
"Jangan kapan saja," kata Valeri kepada mamanya di telepon. "Sebut harinya. Kalau kapan saja, nanti aku terbiasa menelepon Mama tiap kali panik, dan Mama tidak akan pernah bilang tidak."
Mamanya diam sebentar di ujung sana. "Kapan kau jadi sedewasa ini?"
"Baru tadi siang."
Malam itu, setelah semua orang tidur, Valeri membuka laporan yang dikirim Rina dan membalasnya dalam empat baris. Tidak lebih. Ia menutup laptopnya dan pergi tidur.
Kembali bekerja tidak berarti Valeri meninggalkan keluarganya. Pulang ketika anak sakit juga tidak menghapus kemampuannya sebagai pemimpin. Ia hanya sedang belajar bahwa kehidupan baru membutuhkan ukuran keberhasilan yang baru pula.