Pukul 9 malam, Josh sudah berada di depan gerbang rumah orang tuanya dengan pikiran kalau saja bukan karena Gerry, sang manajer, yang mulai uring uringan, tak akan juga dia datang kesini.
"Malam tuan." Pak Steven Satpam di rumah itu menyapanya dan langsung membukakan gerbang.
"Makasih yah pak Stev..." Josh memasuki halaman rumah orang tuanya yang besar ini, lalu memarkirkan motornya di dalam garasi.
Dalam perjalanan memasuki rumah, Josh berpikir, dia harus segera mengakhiri tekanan dari papanya ini. Baginya papanya sudah sangat keterlaluan terhadap hidupnya, tidak bisa dia membiarkan terus, sampai kapan dia akan terus dibayang bayangi tekanan papanya.
Selama ini dia merasa sudah lebih dari cukup menghargai papanya, Mengingat bagaimana pemikirannya saat kecil dulu ingin membalas kedua orangtuanya karena terlalu sibuk dengan perusahaan, yaitu dengan meninggalkan kedua orang tuanya. Awalnya dia berpikir untuk keluar dari kehidupan orangtuanya agar orangtuanya sadar bahwa dia tidak perlu dengan segala kerja keras orangtuanya yang kata mereka untuk dia itu, atau agar orang tuanya merasakan bagaimana hidup mempunyai anak tapi seperti tak mempunyai anak, sebagaimana dia dulu merasakan bagaimana mempunyai orang tua tapi seperti tak memiliki keluarga. Namun setelah beranjak dewasa dia berpikir untuk tidak terlalu keras, demi mamanya, apalagi dia anak satu satunya.
Seharusnya dia tidak datang seperti ini jika papanya menyuruhnya datang, tapi dia tetap datang menuruti perintah papanya meski mengulur waktu. Seharusnya dia tidak lagi menginjakkan kakinya di rumah ini, namun dia masih sering kerumah besar ini meski sekedar untuk tidur. Dia merasa masih menjadi seorang anak yang menghargai kedua orang tuanya, meski dia marah karena mereka dulu menyakiti perasaannya.
Bagaimana bisa papanya masih berani mengatur ngatur hidupnya, apalagi atas nama perusahaan. Menyuruhnya segera menikah daripada selalu muncul dengan banyak wanita di pemberitaan sehingga menyebabkan kehilangan investor.
Akibat tekanan itu wanita yang dicintainya meninggalkannya. Josh sangat kesal.
Dari depan pintu samar samar dia mendengar gema suara televisi. Bisa dia tebak papanya atau mamanya atau keduanya sedang berada di ruang tengah.
Saat dia tiba di ruang itu, benar saja Ronan Narendra, pria paruh baya yang masih tampan dengan wajah strictnya duduk menatap TV, sementara Jully Leander, wanita paruh baya yang sangat cantik, hanya menatapnya ketir.
Mereka pasti telah mengetahui kedatangannya karena suara knalpot motor besarnya yang khas tentu dapat terdengar sampai ke sini, dan telah bersiap untuk memarahinya, khususnya sang papa, pikirnya.
Josh langsung mengambil posisi duduk di salah satu sofa yang ada di samping kiri sofa panjang yang di duduki papa dan mamanya. Dia siap berhadapan dengan papanya.
"Sepertinya ada juga yang mau kamu sampaikan?" Raut wajah Ronan sinis menatap Josh, yang biasanya akan langsung naik ke lantai 2 saat pulang.
"Ada... Silahkan papa duluan..." sahut Josh langsung memasang ekspresi tegas didepan papanya.
"Kenapa kamu marah marah dan pergi seenaknya setelah papa menunjukkan foto foto itu?!"
"Tentu saja karena aku tidak suka cara papa!
"Hm!" Ronan mendengus, "suka tidak suka itu bukanlah hal yang penting! Kamu berbohong selama ini! Kamu membohongi papa! itulah intinya."
Josh terdiam. Sejak dulu, papanya tidak suka dengan pemberitaan pemberitaan yang ada tentang dia dengan wanita wanita. Bagi papanya dia tukang mempermainkan wanita, karena hanya main main dan tidak serius.
Dia pun mengaku dia memiliki 1 orang yang dia cintai kepada papanya, saat dia sudah menemukan Megan. Pengakuan itu untuk meyakinkan papanya bahwa dia tidak pernah bermain main dengan wanita seperti gagasan papanya terhadapnya. Begitulah mencari bagi Josh.
Papanya meminta dia segera menikah untuk membuktikan kata katanya. Dia meminta waktu kepada papanya dan mengupayakan itu dengan Megan, namun Megan meninggalkannya.
Josh belum sempat memperkenalkan Megan kepada orang tuanya. Begitupun saat Megan meninggalkanya dan putus hubungan. Papanya tak pernah tau. Yang papanya tau hanyalah dia mengaku memiliki wanita yang dia cintai, dan papanya masih menunggu bukti untuk percaya bahwa dia benar pria yang serius dengan wanita dimata papanya, yaitu dengan menikah.
Namun di tinggalkan Megan tentu membuat Josh melanjutkan petualangan hatinya mencari wanita, hingga papanya tidak sabar karena mendengar lagi pemberitaan tentangnya. Papanya pun menyelidikinya dan terjadi seperti ini.
Dia tidak pernah berbohong kepada papanya secara teknis, tapi dengan keadaan sekarang tentunya dia terlihat berbohong oleh papanya.
"Aku kehilangan orang yang aku cintai...!" Aku Josh terbuka saja kepada papanya karena semua sudah seperti ini.
"haha!" Ronan tertawa sinis.
"...Semuanya karena papa! Papa terlalu banyak tekanan kepadaku!" Josh menjadi tersulut dengan ekspresi papanya yang meremehkannya.
"Bilang saja kalau kamu mau menghindar?!"
"Pa..." Jully menahan Ronan agar pembicaraan jangan menjadi runyam dan berujung bertengkar lagi.
"Kamu sudah ketahuan bohong, begini caramu?! mau menyalahkan papa?!!..." Suara Ronan meninggi. "...Sejak awal memang tidak ada kan? Omongan kosong semua! kamu hanya main main dan tidak serius dengan wanita!"
"Aku tidak pernah berbohong! Papa yang terlalu berpikiran picik padaku!" Sahut Josh tetap dengan pendiriannya.
"Tch..Haha!" Ronan hanya tertawa meremehkan pernyataan Josh.
"Papa Berhentilah mengusik hidupku seperti ini! Papa selalu berpikiran picik padaku, menekanku, mengatur ngatur aku. Papa hanya mengacaukan hidupku!" Josh berapi api, dia ingin menyudahi tekanan papanya.
"Mengacaukan hidupmu? Berkaca dulu kamu sebelum menentang papa!" Ketus Ronan.
"Tekanan papa membuat orang yang aku cintai pergi meninggalkan aku!"
"Segala Omong kosong!"
"Aku mencintai wanita ini, kita baik baik saja tapi karena aku selalu terbayang bayang permintaan papa aku jadi menekannya, Dia menjadi tidak nyaman dan pergi! Itu semua karena papa menekanku!" Josh meluapkan semua kekesalannya kepada Ronan yang selama ini belum dia ungkap.
Ronan terdiam sejenak. Sedari tadi perkataan Josh hanyalah omong kosong baginya, tapi ekspresi Josh kali ini seperti tidak berbohong. "Hm!..." dengus Ronan "...Orang yang kebanyakan tidak serius, akan tidak diseriusi pada saatnya!"
Kali ini Josh terdiam, papanya masih saja menganggapnya tidak serius setelah pengakuannya. Tapi dia terpikirkan sesuatu, mungkinkah Megan memang tidak serius dengannya.
"Bukan papa! Kelakuanmu sendirilah yang mengacaukan hidupmu. Dan bukan hanya hidupmu juga. Papa, mama, perusahaan juga! Sudahlah! Semuanya yang keluar dari mulutmu hanyalah terdengar seperti alasan bagi papa! Dari semuanya ini yang papa mau bilang padamu adalah kamu mau papa nikahkan saja!"
"Ha? Apa? HaHaha." Mendengar akhir pernyataan papanya itu Josh tertawa, 'kehabisan akal papa sampai harus beri ancaman ngawur begitu?' Herannya dalam hati tak mau menganggap serius.
"Kamu tertawa? Kamu pikir ini bercanda? Richard Fredrick, konsulat di kanada, sahabat papa. Papa ingin menikahkan kamu dengan anaknya. Kebetulan dia ingin menikahkan putrinya."
"Tch!! Apa apan!" Josh mendengus, tapi dia merasa sepertinya memang benar, dan papanya sudah merencanakan sesuatu, "Apakah papa gila? Papa pikir aku mau?!" Josh pun protes.
"Kamu harus mau, Kenapa tak mau?! Kamu tak punya siapa siapa kan sekarang?! Ini benar benar kesempatan yang bagus menurut papa, anaknya sahabat papa... Ah..." Ujar Ronan bersemangat sambil membayangkan, Josh hanya berdiam "... Sudah saatnya kamu berubah, kamu sudah 27 tahun! Saatnya kamu mulai serius sekarang..."
"Aku bilang berhentilah menekan dan mengatur ngatur aku. Lalu apa ini? Aku bisa mengurus diri sendiri! "
"Bisa apa kamu?? Yang kamu bisa hanya menghancurkan perusahaan papa! Kamu tidak bisa dibiarkan. Sampai kapan kamu mau begini?! Sampai perusahaan papa habis?" Tekan Ronan.
"perusahan perusahan perusahan, selalu perusahaan aku muak pa aku muak! Itu urusan kalian kenapa melibatkan aku!"
"Josh..." Kali ini Josh yang ditegur Jully.
"Kamu mau mulai lagi?!!!" Tantang Ronan kesal.
"Aku akan lebih berhati hati pa..." Josh sungguh frustrasi, tapi dia mencoba sabar dan terus membujuk agar tak berakhir bertengkar seperti sebelum sebelumnya, tapi papanya sepertinya sulit untuk memahaminya.
"Tidak!" Ronan teguh.
"Tch! Pa aku tidak pernah bermain main dengan wanita. papa tau apa sih? aku bersumpah! Aku selalu serius. Aku juga ingin menikah, tapi semuanya butuh proses, papa pikir itu masalah sepele mendapatkan pasangan hidup?"
"Ya sudah, kamu kan juga ingin menikah?! Apa lagi? Menikahkan kamu itu sepele, tapi kelakuan kamu ini yang tidak sepeleh, kalau dibiarkan! semuanya bisa hancur, hidupmu juga... Pokoknya Papa akan menikahkanmu! Tidak usah panjang lebar dan berdebat lagi. Kamu bilang papa selalu ikut campur kan? Kamu lupa papa memberi kamu kesempatan selama ini, papa membiarkanmu kok. tapi apa? saatnya papa benar benar ikut campur!"
"No thanks!"
"Ini bukan tawaran ini perintah!!..."
Josh Berdiri. Dia merasa tidak ada gunanya datang ke rumah ini dan ingin pergi, papanya tak bisa berkompromi. Sebaiknya dia memang tidak usah datang dan menghindar saja selalu, daripada seperti ini menjadi terjerat dengan rencana papanya.
"Papa belum selesai! Kebiasaan kamu!..."
"Tidak ada guna aku kesini. Aku datang agar kita bisa lebih dekat dan saling paham. tapi sudahlah marilah terus hidup begini!" Josh berpikir mungkin saja memang tidak ada harapan atas hubungannya dengan papanya untuk menjadi hangat. papanya akan terus berpikiran picik dan menjadi sosok egois baginya.
"Josh..." Panggil mamanya ketika melihat Josh pasti akan keluar lagi.
"Duduk Kamu! kalau tidak, papa telepon Mark sekarang!"
"Papa mau apa? Selalu bilang mau menghentikan karirku. Papa mau melakukan apa untuk itu? lakukanlah jangan hanya mengancam."
"Menantang kamu? Silahkan! kamu keluar dari ruangan ini, lalu besok papa akan konfrensi media, pertama tama papa akan mempermalukan agensimu lalu papa akan menuntut. papa akan bawa ke ranah hukum senua ini. Kamu mau lihat? Silahkan Saja!"
"Tch!" Josh terhenti, dia tak menyangka rencana papanya begitu. Percaya tak percaya, sikap papanya itu lumayan untuk bisa menghancurkannya, tapi dengan begitu bukan hanya dia yang bisa hancur, tapi juga papanya.
"Pa..." Tahan Jully.
"Saya tidak main main ma! Ini end gamenya! Dia mau menghancurkan saya. itulah rencana busuknya! saya tau dia dendam dengan saya makanya dia begini."
Josh menatap papanya. 'Papa sadar selama ini perasaanku padanya?!' Batin Josh. Dia melihat papanya yang sedang tidak memandangnya. Wajah papanya memerah, sudah menyebut nyebut 'saya' bahkan kepada mamanya. Papanya jelas sangat marah.
"Papa bicaralah baik baik." Mamanya dengan ketir berbicara kepada papanya, terlihat memohon. "Josh..." Lalu mamanya juga merintih kepadanya.
"Sudahlah, tidak ada gunanya. Pergilah Kamu! Mari hancur bersama!" Ronan mengusir Josh.
"Papa...?"
"Apa ma?!!!..." Ronan berteriak membuat Jully tersentak. "...Semua juga karena kamu ma! Dari awal saya tak suka dia begini. Saya mau menuntut agensinya tapi kamu menahan nahan saya! Inilah yang kita dapatkan. Mau apa kita sekarang?!!! Anak kita ini sedang menghukum kita!! orang tuanya!!! Salah kamu ma... salah kamu!!!"
"Berhentilah menyalah nyalahkan mama!!!" Marah, Josh berteriak kepada papanya sangat keras. Mamanya sampai terbelalak menghadap kepadanya, juga papanya yang tadinya berpaling. Lalu Josh berjalan pergi, tapi berputar arah, menuju lantai dua."
"Josh?" Panggil mamanya supaya dia duduk dan melanjutkan pembicaraan agar tak berakhir seperti ini.
"Aturlah sesuka hati seperti yang kalian mau..." Josh berlalu ke kamarnya. Papa mamanya tak bersuara lagi hanya menatapnya hening.