Diana menapaki langkahnya pada tanah bekas hujan semalam. Ia menatap teduh pada nisan itu seolah menatap sorot mata kekasih yang begitu dirindukan
“ Hai kau datang?” Sapa sosok yang berdiri di depannya. Mata biru yang menenangkan, senyuman yang begitu tulus dan indah, tentu saja itu hanya bayangan Diana. Kenyataannya adalah, ia berdiri berhadapan dengan puing puing kenangan, pusara yang menyimpan jasad Harry di dalamnya
“ Apa kabar? Kau pasti sudah tenang di sana. Maafkan aku karena mungkin akan mengganggu ketenanganmu. Tapi mungkin saja aku tidak akan bisa datang lagi setelah ini.” Tutur Diana membelai nisan itu lembut.
“ Harry, andai aku bisa... Aku ingin menukar nyawaku denganmu. Aku yakin kau akan lebih kuat dan tegar menghadapi semua ini. Jauh lebih kuat dariku dan jauh lebih tegar