Malam kedua di rumah sakit. Kondisi Cherry kembali menurun. Dia tidur dengan terus mengigau menyebut nama Papanya. Barry dan si mbak yang bergantian menjaga Cherry kini sama-sama ada di dalam ruangan itu.
Mereka berdua saling bertatapan. Bingung harus bagaimana. Apakah sakitnya Cherry itu karena menahan rasa ingin bertemu Papanya?
Si mbak mencoba mengelus lengan Cherry. Barangkali dia jadi jauh lebih tenang.
Wanita itu mendesah, menghela nafas.
Keduanya kembali duduk bersebelahan di sofa panjang yang disediakan di ruangan VIP itu.
"Cherry itu, anak kesayangan Papanya. Sampai pada akhirnya Papanya pergi dengan wanita lain dan Mamanya juga pergi, untuk selamanya." Si mbak mungkin satu-satunya saksi hidup yang tahu semua sisi keluarga itu.
Dia adalah yang paling tahu segala persoalan