Maya menua di rumah putih, seperti ibunya sebelumnya.
Dia dan Eirik—keduanya sekarang tua, pensiun dari penelitian es—menghabiskan tahun-tahun mereka menjaga rumah putih, merawat kebun, dan, di atas segalanya, menjadi kakek-nenek.
Mathias kecil—generasi kelima—tumbuh, dan Maya menghabiskan setiap waktu yang dia bisa dengannya, seperti Lara dulu dengan Aksel kecil dan Maja kecil.
"Nenek buyut Maya," kata Mathias kecil suatu hari—dia memanggilnya begitu, karena Maya neneknya Aksel kecil, buyutnya Mathias kecil. "Kenapa ada bintang di langit-langit kamar saya?"
Maya tersenyum—pertanyaan yang sama, lintas lima generasi, dimulai dari anak yang menempel bintang-bintang itu.
"Bintang-bintang itu, sayang, untuk mengenang seseorang yang sangat istimewa. Namanya Mathias—seperti kamu. Mathias yang pertama. Dia hidup hampir seabad lalu, dan dia menempel bintang-bintang karena dia takut gelap."
"Ada Mathias lain?"
"Iya, sayang. Kamu Mathias juga. Kamu membawa namanya. Dia pergi ke surga waktu masih kecil, jadi keluarga kita menjaga namanya hidup—lewat kamu."
Mathias kecil menatap bintang-bintang fluoresen di langit-langit.
"Nenek buyut. Mathias yang pertama masih takut gelap?"
Maya tertawa pelan—jawaban yang sama, lintas lima generasi.
"Tidak, sayang. Tidak ada lagi gelap untuk Mathias yang pertama. Karena dia membuat cahayanya sendiri—bintang-bintang ini. Dan cahayanya masih menjaga kita semua. Bahkan kamu, sekarang."
Mathias kecil tersenyum, puas.
"Nenek buyut. Cerita. Cerita tentang es."
Dan Maya mulai bercerita—cerita yang sudah diceritakan ratusan kali, lintas generasi, di rumah yang sama, di bawah bintang-bintang yang sama.
"Dulu, hampir seabad lalu, ada perempuan Indonesia bernama Lara. Dia pergi ke Antartika—tempat paling dingin di dunia—untuk lari dari hati yang patah. Dan di sana, di es, dia menemukan cinta. Dia menemukan pria bernama Aksel..."
Mathias kecil mendengarkan, matanya pelan menutup, sampai dia tertidur di bawah bintang-bintang fluoresen yang Mathias yang pertama tempel hampir seabad lalu.
Maya menyelesaikan ceritanya pelan, walaupun cicitnya sudah tidur. Lalu mencium keningnya.
"Selamat tidur, Mathias kecil. Seluruh keluarga menjaga kau—yang hidup dan yang sudah pergi."
(bersambung...)