Kebun mawar Aksel masih mekar di rumah putih, dirawat dari generasi ke generasi.
Aksel menanamnya setelah pensiun, ingin melihat sesuatu hidup setelah seumur hidup di es. Lara merawatnya setelah Aksel pergi. Maya merawatnya setelah Lara pergi. Dan sekarang Maya, yang sudah tua, mengajari cicitnya—Mathias kecil—cara merawatnya.
"Mathias kecil," kata Maya, lutut di tanah, menunjukkan pada anak itu cara memangkas mawar. "Kakek buyut buyutmu, Aksel, menanam mawar-mawar ini. Dia bilang, setelah seumur hidup di es—tempat tidak ada yang tumbuh—dia ingin melihat sesuatu hidup."
"Kenapa, Nenek buyut?"
"Karena es mengajari kita menghargai waktu, sayang. Dan kebun mengajari kita menghargai kehidupan. Es dan kebun—dua guru kakek buyut buyutmu."
Mathias kecil memegang gunting kebun kecil dengan hati-hati, memangkas seperti yang Maya tunjukkan.
"Nenek buyut. Kalau nenek buyut suatu hari pergi—kayak nenek Lara, kayak kakek Aksel—siapa yang akan rawat mawar ini?"
Maya menatap cicitnya. Anak yang sama bijaknya dengan Mathias yang pertama, dengan setiap anak keluarga Berg.
"Kamu, sayang. Dan papamu, Aksel kecil. Dan suatu hari, anak-anakmu. Mawar ini—seperti rumah ini, seperti cerita kita—diteruskan dari tangan ke tangan, generasi ke generasi. Tidak pernah berakhir, selama ada yang merawatnya."
Mereka berkebun bersama dalam diam yang nyaman, perempuan tua dan anak kecil, di kebun yang ditanam seorang pria yang pergi puluhan tahun lalu.
"Nenek buyut," kata Mathias kecil akhirnya. "Saya suka kebun ini."
"Nenek juga, sayang. Karena di sini, kakek buyut buyutmu masih hidup. Setiap mawar yang mekar—itu dia, masih memberi keindahan pada dunia, lewat tangan kita yang merawatnya."
Mathias kecil mengangguk, lalu menyentuh kelopak mawar merah dengan jari kecilnya, hati-hati, seperti yang diajarkan.
Dan Maya, menyaksikan cicitnya, merasakan seluruh keluarganya hadir—Aksel di kebunnya, Lara di terasnya, Mathias dengan bintang-bintangnya, semua di rumah putih, semua dalam mawar yang mekar, semua dalam anak kecil yang belajar mencintai apa yang mereka cintai.
"Cinta tidak terbatas," bisik Maya. "Bahkan lewat mawar. Bahkan lewat kebun. Bahkan lewat tangan kecil yang belajar merawatnya."
(bersambung...)