Rumah putih di pinggiran Bergen berdiri selama hampir seabad.
Dijaga oleh generasi demi generasi keluarga Berg. Dari Aksel dan Lara yang membangun keluarga di sana. Lewat Maya yang menjaganya. Dan suatu hari, lewat Aksel kecil, lalu Mathias kecil, dan seterusnya.
Banyak yang berubah dalam seabad. Bergen tumbuh dan berubah. Dunia tumbuh dan berubah. Tapi rumah putih tetap—dijaga, dicintai, penuh dengan kenangan lima generasi.
Dan di kamar yang sama—kamar dengan bintang-bintang fluoresen—setiap generasi anak keluarga Berg tidur, saat mereka kecil, saat mereka berkunjung.
Bintang-bintang fluoresen yang Mathias yang pertama tempel—anak yang pergi waktu sebelas tahun, hampir seabad lalu—masih di langit-langit. Beberapa sudah pudar. Beberapa sudah diganti dengan hati-hati, replika yang dibuat persis, supaya konstelasi tetap utuh. Tapi tradisi keluarga jelas: bintang-bintang itu tidak pernah dihilangkan. Selalu dijaga.
Karena bintang-bintang itu adalah Mathias—anak yang takut gelap, yang membuat cahayanya sendiri.
Suatu malam, Maya—sangat tua sekarang—naik ke kamar itu sendirian. Dia berbaring di tempat tidur tua, di bawah bintang-bintang fluoresen, dan menatapnya.
"Mas Mathias," bisiknya pada bintang-bintang—kakak yang tidak pernah dia temui, tapi yang bayangannya menemani seluruh hidupnya. "Saya tua sekarang. Lebih tua dari yang pernah saya bayangkan. Tapi bintang-bintangmu masih bersinar."
"Saya bawa kamu ke Antartika, dulu, seperti janji saya waktu umur dua belas. Sekarang Aksel kecil bawa kamu ke es juga. Dan ada Mathias kecil sekarang—cicit, yang membawa namamu, yang tidur di bawah bintang-bintangmu."
"Lingkaran yang kamu mulai—dengan bintang-bintang dan lukisan, saat kamu masih kecil—masih berputar. Hampir seabad kemudian. Kamu tidak pernah tahu, mas. Kamu pergi terlalu cepat untuk tahu. Tapi cinta yang kamu beri—pada mama, pada papa, pada keluarga yang belum kamu temui—mengalir terus, sampai sekarang, sampai saya, sampai cicit yang membawa namamu."
Air mata mengalir di pipi tua Maya.
"Cinta tidak terbatas, mas Mathias. Kamu salah satu yang mengajari keluarga kita itu. Dan kami membuktikannya—lima generasi sekarang. Lima generasi cinta, dari satu anak yang menempel bintang karena takut gelap."
Bintang-bintang fluoresen bersinar redup di gelap—lebih redup dari seabad lalu, tapi masih bersinar.
(bersambung...)