Di usia tuanya, Maya melakukan satu perjalanan terakhir.
Dia tidak bisa lagi ke Antartika—tubuhnya terlalu rapuh, jantungnya seperti jantung ayahnya dulu. Tapi dia bisa, dengan bantuan Aksel kecil dan Eirik, pergi ke Folgefonna—gletser tempat ayahnya dulu mengajarinya mendengar es, tempat dia mengajari Aksel kecil, tempat lima generasi keluarga Berg pernah berdiri.
Mereka membawanya naik dengan hati-hati, perlahan, ke tepi dataran es. Maya tidak bisa berjalan jauh, tidak bisa mendaki seperti dulu. Tapi dia bisa berdiri di tepi gletser, dengan es membentang putih di depannya, dan itu cukup.
"Papa membawa saya ke sini pertama kali," kata Maya pada Aksel kecil, suaranya lemah tapi jernih. "Saat saya tujuh belas. Dia ajari saya mendengar es. Dan saya dengar—untuk pertama kali."
"Saya tahu, Mama. Mama bawa saya ke sini juga. Saya juga dengar di sini."
"Bantu saya turun, sayang. Saya mau menyentuh es. Sekali lagi."
Aksel kecil dan Eirik membantu Maya berlutut—pelan, hati-hati—dan Maya meletakkan tangan tuanya yang gemetar di permukaan es Folgefonna.
Dan dia mendengarkan, untuk mungkin terakhir kalinya, es berbicara.
Keheningan yang besar. Keagungan yang membuatnya merasa kecil. Dan—setelah hidup yang penuh dengan cinta dan kehilangan, dengan es dan kata-kata, dengan generasi yang datang dan pergi—Maya merasakan sesuatu yang dalam dan menenangkan.
Seluruh keluarganya, hadir. Di es. Lara dan Aksel. Mathias dan Maja. Semua yang sudah pergi, dan semua yang masih ada—Eirik di sampingnya, Aksel kecil menopangnya, dan jauh di Bergen, Maja kecil dengan buku-bukunya dan Mathias kecil dengan bintang-bintangnya.
"Saya dengar kalian," bisik Maya pada es. "Seluruh keluarga. Di es ini. Seperti selalu."
Air mata membeku di bulu mata tuanya.
"Papa," katanya pelan. "Saya dengar es untuk papa. Seumur hidup saya, seperti janji saya. Dan saya ajari Aksel kecil mendengar juga. Dan dia akan ajari Mathias kecil. Warisan papa—aman. Mengalir terus."
Dia menatap es yang membentang—es yang memberi keluarganya segalanya, lintas generasi.
"Terima kasih, es," bisiknya. "Untuk berbicara pada Lara, dulu. Untuk mempertemukan dia dengan papa. Untuk memberi keluarga kami cinta yang tidak terbatas."
Lalu, dengan bantuan anaknya dan suaminya, Maya berdiri, dan menatap gletser untuk terakhir kalinya, dan tersenyum.
(bersambung...)