Saat Maya tahu waktunya semakin dekat, dia memanggil cucu-cucunya—Maja kecil dan, lewat Aksel kecil, cicit Mathias kecil—dan mewariskan apa yang dia jaga.
"Maja kecil," kata Maya, memegang tangan cucunya yang sekarang sudah dewasa, penulis seperti nenek buyutnya. "Kau penjaga cerita keluarga kita sekarang. Jurnal-jurnal nenek Lara, buku-bukunya, bukumu sendiri. Jaga semuanya. Ceritakan terus."
"Saya janji, Nenek."
"Dan Mathias kecil," kata Maya pada cicitnya, yang masih muda. "Kau membawa nama Mathias yang pertama. Suatu hari, kau akan cukup besar untuk mendengar es. Aksel kecil—papamu—akan membawamu ke gletser, seperti seluruh keluarga kita. Dengar es, sayang. Dan ingat cerita kita."
"Iya, Nenek buyut."
Maya menatap mereka—generasi keempat dan kelima keluarga Berg—dan merasakan kedamaian yang dalam.
"Keluarga kita," katanya pelan, "dibangun di atas satu kebenaran. Yang Maja yang pertama ajarkan, lewat kakek Aksel. Yang nenek Lara habiskan hidupnya membuktikan. Cinta tidak terbatas."
"Bukan oleh jarak—nenek buyut Lara perempuan Indonesia yang menemukan cinta di Antartika, ujung dunia. Bukan oleh perbedaan—dua dunia bertemu di es. Bukan oleh kematian—kami kehilangan banyak, dan tetap mencintai mereka semua."
"Dan sekarang nenek wariskan kebenaran itu pada kalian. Bawa dengan baik. Cintai sepenuhnya, dengan semua risikonya. Karena cinta—selalu, selalu—layak."
Maya menatap rumah putih di sekelilingnya—koridor dengan lukisan Mathias, rak dengan buku-buku keluarga, kamar dengan bintang-bintang fluoresen, kebun dengan mawar Aksel.
Hampir seabad cinta, dalam satu rumah.
"Nenek bahagia," bisiknya. "Sangat. Nenek hidup penuh—seperti nenek Lara, seperti kakek Aksel. Dan nenek siap, saat waktunya datang. Untuk pergi ke mereka semua. Untuk berkumpul lagi."
Dia menggenggam tangan cucu dan cicitnya.
"Tapi nenek tidak akan benar-benar hilang. Nenek akan ada—di cerita yang kalian ceritakan, di nama-nama yang kalian teruskan, di bintang-bintang yang kalian jaga, di mawar yang kalian rawat, di es yang kalian dengar."
"Cinta tidak terbatas. Itu yang nenek wariskan pada kalian. Jaga dengan baik."
(bersambung...)