Maya Berg meninggal di rumah putih, di usia delapan puluh tahun lebih, dikelilingi keluarga.
Dia pergi dengan tenang, seperti ibunya, seperti ayahnya—di rumah yang dia cintai, dengan orang-orang yang dia cintai di sekelilingnya.
Eirik memegang tangannya. Maja kecil di sisi lain. Aksel kecil dan Mathias kecil di kaki tempat tidur.
"Eirik," bisik Maya pada suaminya—yang sudah bersamanya lebih dari lima puluh tahun, sejak tepi gletser di Svalbard. "Terima kasih. Untuk menemukan saya di es. Untuk seluruh hidup ini."
"Maya," kata Eirik, air mata di mata tuanya. "Es memberi saya kau. Hadiah terbesar dalam hidup saya."
"Kita dengar es bersama, dulu. Di Svalbard. Ingat?"
"Setiap hari, Maya. Aku ingat setiap hari."
Maya tersenyum lemah. "Es bilang aku tidak sendirian lagi, kau bilang. Itu masih benar. Aku tidak pernah sendirian lagi. Sejak es itu. Sejak kau."
Dia menatap keluarganya—anak, cucu, cicit, semua berkumpul.
"Mas Mathias menunggu," bisiknya. "Dan mama Lara. Papa Aksel. Mama Maja. Mereka semua menunggu. Aku bisa hampir merasakan mereka, dekat sekarang."
"Mama," kata Maja kecil, menangis. "Jangan pergi."
"Maja kecil," kata Maya lembut. "Ingat apa yang nenek Lara ajari. Hidup harus dijalani, bukan disimpan dalam takut kehilangan. Jangan sedih terlalu lama. Hidup—untuk nenek juga. Tulis cerita kita. Jaga rumah putih. Dan tahu—nenek tidak hilang. Nenek ada di kalian semua."
Dia menutup mata, dan napasnya melambat, satu per satu, seperti matahari yang tenggelam di musim dingin Bergen—lembut, pelan, tanpa perlawanan.
"Cinta tidak terbatas," bisiknya, kata-kata terakhirnya, kalimat keluarga, kebenaran yang dia habiskan hidupnya membuktikan.
Lalu Maya Berg pergi—untuk berkumpul dengan semua yang dia cintai, yang sudah pergi sebelumnya.
Mereka memakamkannya di pemakaman keluarga, di samping ibunya Lara dan ayahnya Aksel, dekat Mathias dan Maja.
Keluarga yang dimulai di es Antartika, beristirahat bersama di tanah Bergen.
Dan rumah putih—dijaga sekarang oleh Maja kecil dan Aksel kecil, generasi keempat—terus berdiri, penuh dengan kenangan, dengan cinta, dengan cerita yang menolak berakhir.
(bersambung...)