Angin musim dingin di Melbourne berembus kencang di luar,mengetuk-ngetuk dinding kaca kamar VIP Grand Hyatt di kawasan Collins Street. Di dalam ruangan, kehangatan penghangat ruangan sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuh Queen.
Gaun pengantin putih berbahan brokat satin premium dengan potongan klasik itu mendadak terasa amat berat, seolah seluruh beban masa depan finansial keluarganya diletakkan secara paksa di atas pundaknya.
Di depan cermin rias yang megah, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Rasanya begitu sempurna tanpa cela-- tipe tata rias mahal yang mampu menyembunyikan mata lelah, gurat kecemasan, dan senyum yang dipaksakan selam berjam-jam di atas pelaminan.
Melalui jendela tinggi di belakangnya, kelap-kelip lampu kota Melbourne tampak buram terhalang titik-titik air gerimis yang mulai turun. Di luar, sayup-sayup masih terdengar suara musik jazz lambat dari area ballroom, menandakan pesta pernikahan mewah yang di hadiri para pebisnis elite dari Belanda dan Australia itu baru saja benar-benar usai setelah tamu terakhir pulang.
Pintu kamar berdebat pelan, memecah keheningan yang mulai merayap pekat. Melalui pantulan cermin, Queen melihat Axel masuk. Pria itu sudah melepas jas tuksedo hitamnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang di biarkan terbuka, menampilkan kesan frustasi yang tertahan.
Wajahnya datar, kelelahan terpahat jelas di sudut matanya, namun ketajaman sepasang mata gelap itu tidak berkurang sedikit pun saat menatap sekeliling ruangan yang di penuhi karangan bunga mawar putih.
''Orang tuamu baru saja kembali ke hotel merek di Crown Towers," kata Axel. Suaranya terdengar berat dan serak, khas seseorang yang baru saja men habiskan waktu berjam-jam tersenyum palsu dan menyapa ratusan kolega bisnis kelas atas.
Queen membaikkan tubuhnya perlahan, menggila pinggiran gn lebarnya yang menjuntai di atas karpet tebal agar tidak terinjak, "Terima kasih sudah menemani mereka Sampai akhir, Axel."
Axel tidak langsung menjawab. Ia berjalan di sudut ruangan, menuangkan air putih ke dalam gelas kaca lalu meneguknya hingga habis dalam sekali napas.
Setiap gerakannya terasa sngat efisien, kamu, dan penuh perhitungan. Tidak ad kehangatan seorang pengantin baru di sana. Susan di antara mereka sedingin malam-mapam bulan Juli di Victoria.
''Kita tidak perlu berpura-pura lagi sekarang,'' ucap Axel setelaheletakkan gelas dengan ketukan pelan namun terdengar tegas di atas meja marmer.
Ia berbalik, bersedekah, lalu menatap Queen dengan pandangan yang lurus namun terasa berjarak ribuan kilometer. "Pesta melelahkan ini sudah selesai. Senyum yang kita pamerkan di depan puluhan kamera media dan majalah bisnis tadi hanya bagian dari strategi komunikasi untuk menstabilkan harga saham gabungan dua perusahaan besok pagi di AEX dan ASX. Tugas kita hari ini sudah tuntas."
Queen tidak perlu menjadi seorang detektif untuk tahu urusa apa atau dengan siapa suaminya akan pergi di malam pertama mereka. Aroma parfum wanita asinng beraroma manis buah yang sempat tercium samar dari merah jas tuksedo Axel saat mereka di paksa berdansa romantis di pelaminan tadi sudah memberikan jawaban yang teramat benderang.
Pacar pria itu--seorang wanita lokal atau mungkin sesama ekspatriat yang telah lama mendampinginya di kota ini--pasti sedang menunggu di salah satu apartemen mewah di pusat kota, barangkali sedang merayakan kesepakatan bisnis yang ironisnya mengorbankan kebebasan dan harga diri Queen sebagai seorang istri sah.
"Hati-hati di jalan, " ucap Queen, suaranya tetap terdengar lembut, selatan dan setenang permukaan air Yarra River di malam hari yang pekat. Tidak ada nada menuntut, tidak ada getaran cemburu yang ia tunjukkan. Ia tau posisinya sejak awal.
Axel sempat menhan langkah kakinya tepat di ambang pintu selam beberapa detik. Ia menoleh sedikit, mentap istrinya yang masih berdiri tegak berselimut gaun pengantin mewah yang memikat, tampak begitu rapuh namun sekaligus tegar di bawah pendar lampu kristal.
Ada kilatan keraguan yang melintas sngat cepat di mata Axel melihat ketabahan wanita itu, namun ego yang besar dan rasa bersalah pada kekasih yang telah menunggunya segera menghapus riak emosi tersebut dalam sekejap.
"Jangan menungguku pulang,'' ujar Axel pendek tanpa intonasi, sebelum akhirnya menarik gagang pintu, melangkah keluar koridor hotel yang sepi, dan menutupnya dengan dentuman halus yang meninggalkan gema panjang.
Seketika itu juga, kamar hotel yang luas tersebut mendadak terasa teramat dingin dan mencekam. Queen menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisirongga dadanya yang terasa sesak oleh pasukan udara yang menipis akibat korset gaun yang terlalu ketat. Ia berbalik lagi menghadap cermin besar. Tangan yang sedari tadi ia sembunyikan di balik lipatan kain gaun tampak gemetar hebat.
Perlahan,Queen mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, melepas mutiara berlian berkilau yang menyemat rambutnya dengan hati-hati.
Ketika denda berkilau penanda status barunya itu di letakkan di atas meja rias dengan bunyi gemerincing halus, pertahanannya runtuh. Senyum palsu yang ia pelihara dengan susah patah sejak fajar menyingsing akhirnya luruh total, di gantikan oleh setetes air mata hangat yang jatuh membasahi pipinya, mengalir tanpa suara di tengah keheningan malam musim dingin Melbourne yang membekukan.