Udara di kawasan Toorak--salah satu daerah paling elite di pinggiran kota Melbourne--terasa menusuk hingga ke tulang. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi, namun langit musim dingin masih menyisakan semburat kelabu yang pekat.
Queen berdiri di dekat jendela dapur yang besar, memandangi halaman belakang rumah baru mereka. Kabut tebal menyelimuti rumput hijau yang basah, sementara pohon-pohon pak yang meranggas berdiri kamu seperti pilar-pilar batu.
Rumah bergaya arsitektur Georgia modern ini sangat megah, namun terasa mati. Tidak ada suara selain deru halus dari mesin penghangat ruangan pusat yang bekerja tanpa henti. Di atas meja konter dapur yang terbuat dari marmer Carrara putih, sebuah kunci rumah cadangan dan secari kertas dari asisten Axel tergeletak begitu saja.
Queen menghembuskan napas panjang, menciptakan uap tipis di udara. Ia belum tidur sama sekali sejak Axel meninggalkannya di hotel semalam. Matanya terasa perih, tetapi tubuhnya menolak untuk beristirahat.
Sebagai wanita yang di besarkan dalam keluarga kelas ats Eropa yang menjunjung tinggi tata krama dan pengabdian, diam dan merenungi nasib bukanlah pilihannya. Dengan gerakan lambat namun pasti, ia memulai menyingsikan lengan kardigan wol rajut berwarna krem yang di pakaianya.
Ia membuka lemari pendingin besar di sudut dapur. Isinya hmpir kosong, hanya ada beberapa botol mineral, s**u almon, dan sekotak telur yang tampaknya baru di sediakan oleh layanan pengurus rumah mereka.
Queen memutuskan untuk membuat menu sarapan yang paling sederhana namun hangat: roti panggang dengan telur orak-arik mentega.
Bunyi mentega yang meleleh di atas wajan anti lengket menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian. Aroma gurih mulai memenuhi dapur, sedikit mengusir atmosfer asing yang mencekam.
Queen menata makanan itu di atas piring porselen putih, lalu menyeduh secangkir teh Earl grey yang harum bergamot dari cangkir porselen Inggris miliknya. Baginya, aroma teh ini adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya merasa tetap menapak bumi di tempat yang baru ini.
(Klik)
Tepat saat ia meletakkan cangkir di atas meja makan panjang, terdengar suara klik dari pintu depan. Jantung Queen berdesir pelan. Ia menoleh ke arah koridor utama. Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat.
Detik berikutnya, sosok Axel muncul di ambang pintu dapur. Pria itu masih mengenakan kemeja putih yang sama dengan semalam, namun mantel wolnya tersampir di lengan.
Rambutnya sedikit berantakan di tiup angin Melbourne, dan wajahnya tampak jauh lebih lelah. Namun, aroma parfum wanita yang manis khas kafe lokal di pusat kota yang sempat ia singgahi.
Axel dpat menghentikan langkahnya selama beberapa detik saat melihat Queen beras di dapur, lengkap dengan apron tipis dan rambut yang dicepol rapi.
Matanya melirik ke arah dia piring sarapan yang sudah tersaji dj atas meja. Ada kilatan keterkejutan yang melintas di wajah datarnya, sebelum ia kembali menguasai diri dan memasang ekspresi dinginnya yang biasa.
"Kamu sudah bangun, " ucap Axel, suaranya terdengar lebih serak dari semalam. Ia berjalan menuju meja konter, meletakkan mantel dan ponselnya di sana.
"Selamat pagi, Axel, " balas Queen dengan senyum lembut yang tampak sangat natural, seolah ia tidak baru saja melewati malam yang menghancurkan harga dirinya. "Aku baru saja membuat sarapan sederhana. Mau makan bersama?"
Axel menatap piring di depannya, lalu beralih menatap Queen. Tatapannya tajam, mencoba mencari gurat kemarahan atau sindiran di wajah istrinya. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata jernih yang memandangnya penuh ketulusan.
Keteguhan wanita di hadapannya ini perlahan membuat Axel merasa tidak nyaman. Ada secuil rasa bersalah yang mendadak mencubit hatinya, mengingat dari mana ia menghabiskan malam pertamanya segi seorang suami.
"Aku hanya punya waktu lima belas menit sebelum pergi ke kantor pusat di South bank, " kata Axel dingin, namun ia tetap menarik salah satu kursi marmer dan duduk di sana.
"Tidak apa-apa. Lima belas menit sudah cukup untuk sarapan yang hangat, " jawab Queen tenang. Ia ikut duduk di seberang Axel, memisahkan jarak yang terasa begitu lebar di antar mereka.
Mereka mulai makan dalam keheningan yang kaku. Hanya terdengar denting halus ujung garpu yang beradu dengan porselen. Axel mengunyah makanannya dengan cepat, sementara pikirannya kembali melayang pada perdebatannya dengan sang kekasih beberapa jam yang lalu di apartemen Collins Street.
Wanita itu menangis, menuntut janji bahwa Axel tidak akan pernah menyentuh Queen dan akan segera menceraikannya begitu urusan bisnis keluargaereka selesai.
Axel telah memberikan janji itu dengan tegas. Namun sekarang, saat melihat bagaimana Queen merawat rumah ini tanpa banyak bicara, janji itu mendadak terasa seperti beban yang menghimpit dadanya.
"Bagaimana rumahnya? Apa ada yang kurang?" tanya Axel tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa mengangkat kepalanya dari piring.
Queen meletakkan gapunya pelan. "Rumahnya sangat bagus dan luas. Hanya saja, persediaan di dapur agak menipis. Siang nanti aku berencana pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa keperluan memasak."
Axel menghentikan gerakan tangannya. Ia mendongak, menatap Queen dengan dahi sedikit berkerut. "Kamu tidak perlu repot. Aku bisa menyuruh asistenku atau memesan layanan katering harian untukmu. "
Queen menggeleng, senyumnya tidak pudar. "Aku lebih suka memasak sendiri, Axel. Lagipula, aku butuh aktivitas agar bisa lebih cepat beradaptasi dengan udara dikota ini. "
Axel terdiam selama beberapa saat. Ia menatap jemari Queen yang rampung dan bersih, lalu teringat bahwa wanita di hadapannya ini adalah putri seorang bangsawan bisnis Eropa yang terbiasa dilayani sejak kecil.
Namun di sini, di bawah atapnya, dia memilih untuk menyentuh dapur dan mengurus keperluan domestik tanpa mengeluh sedikitpun tentang kepergian suaminya semalam.
Axel meneguk s**u almonnya hingga tandas, lalu berdiri dari kursinya. Ia menyambar mantel dan ponselnya kembali. "Terserah kamu. Aku sudah meminta asistenku untuk mengirimkan sebuah mobil dan sopir yang bisa mengantarmu keman saja. Jangan pergi sendirian, Melbourne sangat dingin bulan ini. "
"Terima kasih, Axel," ucap Queen, ikut berdiri untuk mengantar suaminya sampai ke pintu depan.
Axel tidak menjawab lagi. Ia melangkah cepat menuju pintu utama, membuka pintu yang langsung menyemburkan angin dingin ke dalam lorong rumah, lalu melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.
Setelah pintu tertutup rapat, Queen kembali ke dapur. Ia menatap piring milik axel yang kini telah kosong. Sebuah helaan napas kecil lolos dari bibirnya. Pernikahan ini memang sebuah transaksi yang beku, namun seperti musim dingin di Melbourne yang pasti akan berganti, Queen berbisik dalam hati bahwa ia akan tetap menjaga kelembutan hatinya, meski pria yang dicintainya memilih untuk tetap mengunci rapat pintunya sendiri.