Ibuku meninggal saat aku berusia lima tahun. Usia yang terlalu muda untuk mengerti arti duka, tapi cukup untuk mengingat rasa sepi yang menggigit. Hari itu hujan deras. Orang-orang memakai baju hitam. Aku berdiri memeluk boneka kain usang, bingung mengapa semua orang menangis.
Sejak saat itu, dunia menjadi sunyi. Rumah yang dulu hangat berubah dingin dan kosong.
Ayah? Entah ke mana perginya. Tak lama setelah pemakaman, ia pergi meninggalkan desa. Katanya mencari pekerjaan ke kota. Tapi ia tak pernah kembali.
Hanya Tante Rani yang datang mengetuk pintu. Dengan mata sembab, ia memelukku lama. “Aira ikut Tante, ya... Kamu nggak sendiri.”
Rumah Tante Rani kecil, hanya satu kamar untuk kami berdua. Dindingnya retak, lantainya dingin, dan atapnya bocor kalau hujan. Tapi di situlah untuk pertama kalinya sejak ibu pergi, aku merasa aman.
Setiap malam sebelum tidur, Tante Rani akan membacakan cerita—walau hanya dari koran lama. Kadang ia menyanyikan lagu-lagu yang dulu dinyanyikan ibuku. Suaranya serak, tapi hangat.
“Ra,” katanya suatu malam sambil mengelus rambutku, “hidup ini gak selalu adil. Tapi kita bisa tetap baik, tetap lembut. Kamu anak baik. Nggak apa-apa kalau kamu sedih. Nangis aja kalau perlu.”
Aku menangis malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan Ibu. Dan aku tahu... pelukan Tante Rani mungkin tak bisa menggantikan segalanya, tapi cukup untuk membuatku bertahan.