Meneruskan ucapanya yang sempat terpotong karna arya tersesak ia menjutkan kembali pendapatnya.
“Gini loh yah?... ia menceritakan semua pada sang suami tentang pendapatnya dan tawaran deni. Sambil makan ayahnya menyimak semua percakapan istrinya sambil hmm hmmm tanya ja mendengarkan ucapan sang istri.
“sepertinya itu lampu hijau bukan bgtu yah. Tanya sang istri kepadanga
“mungkin. Jawabnya.
“umi sih setuju yah, umi liat deni juga anaknya baik soleh Dan kakak yang baik.
“memang ya umi sudah pernag ketemu dengan adeknya deni? Siapa namanya??
“raya. Kalau umi sih belum. Tapi arya sudah sering bertemu.
Dengan tetap fokus makan dan hanya sesekali menyimak dan menjadi pendengar setia antara ayah dan uminya dengan sesekali mendehem memberi tanda bahwa ia merespon kala uminya menyebut namanya dalam percakapan.
Tak di sangka ayahnya pun memberi respon dan tanggapan baik tentang tawaran dan lampu hijau dari deni.
“tanggapakn kamu sendiri gimana ya soal tawaran temen kamu? Tanya ayahnya
“iya gak gimana2 terserah umi dan ayah aja. Melihat respon anaknaya sepertinya tidak ada masalah. Ibu dan ayahnya saling menatap dan tersenyum. Sepetinya arya tidak keberatan. Tanpa melihat respon orng tauanya ia masih dengan santannya makan. Dengan mendengar kata terserah arya membuat hati ibunya semakin senang ia mengetahui bahwa anaknya setuju dan tidak keberatan dan menerima tawaran temannya itu.
“ya sudah kalau begitu kita jadwalka saja untuk silaturahmi kerumah deni. Memberi pendapat kepada anak dan seuaminya dengan semangat.
“terserah ayah dan umi saja. Arya menimpali. Setelah menyelesaikan makanya dan ijin untuk meninggalkan meja makan. Sambil berlalu memasuki kamar.
“Berarti minggu depan ia nak? Tanya uminya dengan dana agak tinggi karna arya sudah agak menjauh dari meja makan yang sedang membuka hendel pintu kamarnya. Tanpa menoleh dan respon, uminya paham batul dengan sikap anaknya . diamnya arya adalah setuju. Hapal dengan sikap cuek anaknya, karna dia kenal arya klau ia tidak setuju pasti ia akan protes. Tpi untuk masalah ini ia menyerahkan kepada ayah dan uminya memberi respon diam bahwa iya tidak keberatan.