Aland
“Direktur,” suara seorang laki-laki menarik pikiranku yang mengembara. Kepalaku menoleh dan mendapati Gio, tangan kananku sedang bergerak menghampiriku. Cengiran yang awalnya sudah terulas di bibirku, sekarang semakin melebar.
“Gio. Sini duduk,” ujarku sambil mengibaskan tangan. Permintaan yang terlontar dari bibirku segera dituruti oleh Gio.
Meskipun umur kami hampir sebaya, namun sosoknya sangat kontras dibandingkan dengan diriku. Aku yang lebih tinggi dan sedikit lebih kurus terlihat berbeda dengan dirinya yang lebih berisi. Helaian-helaian rambut putih telah mewarnai sebagian rambutnya.
“Apa yang bisa saya bantu, Direktur?” ujarnya dengan nada formal. Seperti biasa, aku berdecak saat mendengar responnya.
Gio sudah bersamaku sejak awal. Dia sudah kuanggap sebagai perpanjangan