Naomi
“Seriusan? Beneran?” suara pekikanku cukup membuyarkan cerocosan kedua anggota tim wardrobe. Menghentikan lontaran perkataan mereka berdua.
Tanganku terangkat. Jemariku meraih onggokan kain yang bahkan tidak layak dipakai oleh seorang wanita. Pakaian yang katanya mereka siapkan untuk dikenakan Clare sewaktu proses syuting hari ini.
Di bawah hujaman mataku ke arah mereka, kedua anggota tim itu saling melempar pandangan. Ketakutan dan tatapan putus asa mereka membuatku semakin geram. Meremas dan melemparkan gumpalan kain ke arah mereka benar-benar menggoda. Karena menjambak dan meneriaki mereka tidak mungkin kulakukan. Tidak kalau nama baik dan reputasi Clare dipertaruhkan.
“Jelasin sekali lagi. Aku mungkin salah denger sama omongan kalian. Coba ngomong lagi yang jelas. Jangan ada