Clare
“Udah kenyang?” tidak dapat menjawab pertanyaan Dave dengan mulut yang penuh, aku hanya menganggukkan kepala. Mengamati Dave yang duduk di sebelahku.
Sedikit tersipu saat Dave hanya memandangku tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya. Apalagi dengan senyuman yang terpasang di bibirnya. Kutundukkan kepala dan kutelan kunyahanku. Menyembunyikan pipiku yang memerah lebih tepatnya.
“Kamu? Itu masih ada. Kok nggak dihabisin? Udah makan di kantor?” tanyaku begitu aku yakin sudah dapat mengendalikan rona wajahku.
Dave hanya meringis. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahku dan membuka mulutnya. Matanya bersinar saat dia memberi isyarat padaku untuk menyuapinya dengan bulatan mochi yang tadi kupilih bersama beberapa dessert lainnya.
“Paul, kayak biasa, selalu aja ngomel kalo telat