Suara pintu kamar yang terbuka membuat Putri Charlotte langsung membuka mata dan pikirannya berada dalam kondisi siap siaga. Tapi setelah seorang pelayan wanita yang sama dengan pelayan bertugas tadi pagi meminta maaf padanya dari ambang pintu, Putri Charlotte menghela nafas dengan lega.
"Hampir saja saya melemparkan lampu meja ke arah Anda," kata Putri Charlotte sambil memejamkan mata karena masih setengah tersadar.
Saat pintu terbuka tanpa izin, Putri Charlotte memang bereaksi untuk melindungi diri karena suara-suara yang berada di dekat Putri Charlotte sudah direkam oleh pikiran bawah sadar sebagai ada ancaman. Walaupun tidak mempunyai kekuatan magis, banyak kultur kerajaan yang sudah dilatihkan kepada Putri Charlotte sehingga ia terbiasa untuk bertahan hidup dari berbagai resiko yang dapat terjadi.
"Ma... maafkan saya, Tuan Putri… Pintu...nya ter....bu...ka... jadi sa… saya pikir… Putri Charlotte sedang berkemas-kemas. Sa… saya diberikan perintah oleh Nona Leslie un...untuk memastikan barang-barang yang harus dibawa oleh Tu… Tuan Putri," kata si pelayan dengan gagap karena ketakutan.
Putri Charlotte yang kini sudah sepenuhnya sadar memandang si pelayan sambil tersenyum. Lalu Putri Charlotte memanggil si pelayan dengan mengibaskan tangan kanannya di udara.
"Sebagai hukumanmu… setelah membantuku membereskan barang, tolong carikan aku tupai berwarna merah kecoklatan dengan corak putih pada bagian depan tubuhnya. Ia meloncat dari balkon ini, menuju ke taman. Tapi aku tidak dapat menemukannya," kata Putri Charlotte dengan bahasa yang tidak formal, seperti mengobrol dengan teman sebayanya.
"Tu...tuan Putri… Bagaimana saya mencarinya?"
Yang dimaksudkan oleh pelayan tersebut adalah bagaimana caranya si pelayan dapat mencari seekor tupai yang sudah keluar dari istana. Bahkan bila berada di istana pun, rasanya membutuhkan waktu berhari-hari untuk menemukannya.
"Kamu bisa meneriakkan nama Ethan di sepanjang perjalanan."
Si pelayan hanya bisa tersenyum gugup. Sebaik apapun majikannya, tetap saja Putri Charlotte adalah seorang tuan putri yang masih berumur lima belas tahun, pikir si pelayan sambil merasa tidak adil akan hukumannya itu.
Seharusnya saat tengah malam Putri Charlotte sudah tertidur pulas di dalam kamarnya. Setelah membuat pelayan wanita menangis saat datang kembali ke kamar Putri Charlotte tanpa membawa seekor tupai, mau tidak mau Putri Charlotte harus tetap berjalan ke arah pintu utama istana. Menuju tempat di mana selusin mobil limousin sudah terparkir mengelilingi air mancur di halaman depan istana.
"Di setiap mobil terdapat empat pengawal dan satu pengawal yang berpenampilan sama seperti Putri Charlotte untuk sebelas mobil selain yang dinaiki oleh Tuan Putri. Saat malam hari, dua belas mobil akan terus berdampingan. Saat matahari sudah terbit, dua belas mobil akan menyebar," kata Duncan dari bawah tangga kepada Leslie yang keluar dari pintu utama bersama Putri Charlotte dan bersiap menuruni tangga.
Putri Charlotte melirik ke arah pakaiannya sendiri. Sebuah jubah bertudung yang berwarna hijau lumut dengan tas kulit berwarna coklat. Berarti saat ini ada sebelas orang sepertiku dalam setiap mobil di hadapanku ini, pikir Putri Charlotte dengan pemikiran sederhana.
Sementara Leslie dan Duncan masih membicarakan tentang keamanan Putri Charlotte, Grotto menghampiri Putri Charlotte sambil memberikan sebuah tas kecil dari kertas daur ulang. Putri Charlotte tersenyum lebar saat membuka isinya saat itu juga.
"Terima kasih, Grotto! Kamu sudah menemukannya."
"Sebaiknya Tuan Putri langsung memasukkannya ke dalam tas, supaya para pengawal tidak menganggapnya sebagai ancaman."
Putri Charlotte mengangguk dengan semangat dan langsung memasukkan tas kecil itu ke dalam tas kulitnya yang lebih besar.
"Bersabarlah, Ethan. Kamu bisa tidur di dalam tas kalau sudah bosan," bisik Putri Charlotte yang masih tersenyum karena tidak dapat menahan rasa bahagia saat melihat tupainya sudah kembali.
"Semoga saya masih bisa melihat senyuman Tuan Putri seperti ini kembali," kata Grotto sambil menundukkan badan dan tersenyum.
Saat itu Putri Charlotte tidak sempat menanyakan arti dari perkataan Grotto karena Leslie sudah memanggilnya dari bawah tangga. Duncan membuka pintu belakang limousin yang terparkir tepat tegak lurus dengan pintu istana dan Putri Charlotte berjalan ke arah pintu yang terbuka itu. Sesaat setelah Leslie memberikan salam perpisahan pada Putri Charlotte, pandangan mata Putri Charlotte menemukan sosok yang sedang memandangnya dari jendela koridor lantai dua istana.
Wajah dari sosok yang sedang berdiri di jendela tidak begitu jelas. Namun Putri Charlotte sudah hafal dengan gaun yang biasa dikenakan oleh Putri Alice. Sebuah gaun berwarna hitam panjang dengan rok yang mengembang. Dan sosok di balik jendela tersebut sedang menggunakan gaun yang sama.
Tiga detik adalah waktu yang dihabiskan oleh Putri Charlotte untuk memandangi kakaknya, Putri Alice dari kejauhan. Putri Charlotte tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Putri Alice saat itu. Bahkan Putri Charlotte tidak mengerti mengapa kakaknya masih mengantarnya pergi walaupun hanya dari jarak yang berjauhan. Tapi dalam hati yang terdalam Putri Charlotte bersyukur mempunyai tiga detik yang berharga dalam hidupnya sehingga ia mempunyai keyakinan bahwa Putri Alice masih menjadi kakaknya saat ini. Pintu mobil ditutup. Dan dua belas mobil siap untuk berangkat dari kerajaan Alexandria menuju kerajaan Toba.
Putri Charlotte duduk di dalam mobil dengan bola mata yang berputar. Pandangannya menyusuri setiap sosok yang duduk di hadapannya dari mulai pengawal yang menghadap ke arah jendela hingga pengawal yang berada di seberang tempat duduk Putri Charlotte dan menghadap ke arahnya. Lalu pandangan Putri Charlotte berlabuh pada mini bar yang menjadi ciri khas dari sebuah limousine yang berada di sebelah kanan.
Semua pengawal menunduk dengan hormat saat Putri Charlotte memandang mereka. Walaupun saat ini Putri Charlotte tidak memerlukan kesopanan yang membuat suasana menjadi kaku.
"Apakah di dalam mobil yang lain terdapat pengawal sebanyak ini juga?" tanya Putri Charlotte menatap seorang pengawal wanita berambut pirang panjang yang diikat satu ke atas. Pengawal wanita itu yang berada paling dekat dengan tempat duduk Putri Charlotte.
"Benar, Putri Charlotte."
"Apakah di semua mobil para pengawal berpasangan dau laki-laki dan dua perempuan seperti di sini?"
"Tidak, Putri Charlotte. Nona Leslie sengaja mengatur mobil yang membawa Tuan Putri sendiri. Menurut Nona Leslie, Tuan Putri seharusnya akan merasa lebih nyaman bila ditemani oleh pengawal perempuan."
Tidak perlu waktu lama bagi Putri Charlotte untuk mencairkan suasana di antara dirinya dan para pengawal. Bahkan Putri Charlotte berhasil membujuk para pengawal untuk mengeluarkan Ethan dari tasnya. Dari keempat pengawal tidak ada yang dapat menolak bila permintaan tersebut diucapkan dari seorang tuan putri yang memancarkan pandangan sangat memelas.
Putri Charlotte pun dapat memancing cerita dari para pengawal, seperti mereka adalah dua pasang suami istri hingga menceritakan tentang Nona Leslie yang belum juga mempunyai pasangan. Percakapan yang terjadi di sepanjang dini hari membuat Putri Charlotte lupa bahwa ia sedang meninggalkan kerajaan yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama lima belas tahun.
"Beliau mengatur semuanya termasuk menaruh sûsu cokelat di sana?" kata Putri Charlotte menunjuk beberapa liter kotak sûsu yang tersusun di ujung meja bar.
Keempat pengawal di mobil tersebut tertawa kecil bersama Putri Charlotte karena kepolosan dari tuan putrinya yang bertanya banyak hal pada mereka. Mengingat jumlah pengawal kerajaan Alexandria yang luar biasa banyaknya selama ini para pengawal tersebut tidak pernah berpikir akan berbincang-bincang dengan Putri Charlotte sesantai ini. Mereka hanya mendengar berita tentang Putri Charlotte ataupun berpapasan dalam kondisi formal.
Setelah beberapa lama bercanda bersama para pengawal, Putri Charlotte mulai menguap. Kecemasan Putri Charlotte yang perlahan menghilang oleh obrolan ringan sudah tergantikan dengan kenyamanan yang menimbulkan rasa kantuk.
"Tidurlah, Putri Charlotte. Setelah keluar dari pegunungan, kita akan beristirahat dahulu di sebuah desa. Saya akan membangunkan Tuan Putri bila saatnya tiba."
Putri Charlotte mengangguk dan pengawal wanita yang paling dekat dengan Putri Charlotte beranjak untuk mengambilkan selimut dan bantal dari lemari di bawah meja bar. Baru saja Putri Charlotte memejamkan matanya, tiba-tiba saja mobil diberhentikan dengan mendadak. Membuat semua orang yang berada di dalam mobil bersiap siaga untuk ancaman yang mungkin akan datang.