"Kerajaan Alexandria mungkin tidak dapat bertahan lama lagi," kata Louis sambil melihat ke atas, ke arah langit-langit yang sangat tinggi dan gelap sehingga ketinggiannya seakan hampir tak berujung.
Louis seakan berusaha menggapai langit-langit ruangan dengan tangan kanannya. Lalu berimajinasi dengan jemarinya untuk menutup cahaya yang masuk akibat lubang pada atap.
Sedangkan Leslie sudah mulai tidak sabar melihat gerakan kakeknya yang tidak dapat ia mengerti.
"Kakek, aku hanya akan meninggalkan kerajaan sementara waktu hingga yakin Putri Charlotte berada dalam kondisi yang aman. Dalam satu minggu aku akan kembali dan melanjutkan apa yang harus kulakukan."
"Tidak ada yang tahu kan dalam satu minggu akan terjadi apa saja."
"Tapi tetap saja… siapa yang bisa menjamin keselamatan Putri Charlotte?"
"Yang mengkhawatirkan Putri Charlotte tidak hanya dirimu, my dear. Walaupun Putri Alice sudah dapat mengendalikan kekuatannya dengan baik, dia hanya seorang gadis berumur lima belas tahun. Saat terjadi pemberontakan di sini, cucuku harus berada di garis paling depan untuk mempertahankan kerajaan dan darah keluarga Alexandria yang tersisa."
Louis memandang satu satunya penerus keluarganya yang tersisa dengan sorot mata yang serius namun hangat. Lalu orang tua itu menyuruh Leslie melihat ke langit-langit.
"Lihatlah gedung ini. Walau tampaknya sangat megah namun ia tetap memiliki lubang-lubang kecil yang tidak kita sadari. Suatu saat lubang-lubang inilah yang akan meruntuhkan ruangan ini."
Leslie memandang kakeknya dengan dahi yang mengerut. Ia tidak sabar untuk keluar dari ruangan rapat dengan sebuah keputusan karena Putri Charlotte pasti sedang menunggunya saat ini. Sedangkan kakeknya saat ini memberitahukan perumpamaan yang sulit dipahami kepadanya dengan kecepatan yang perlahan.
"Aku tidak mengerti perkataan Kakek, jadi apa yang ingin Kakek katakan?"
"Kamu harus tetap di sini dan berusaha menutup lubang yang ada di dalam kerajaan Alexandria satu per satu."
"Tapi… Putri Charlotte…"
"Aku berjanji Putri Charlotte akan mendapatkan keamanan yang bahkan tidak pernah kamu bayangkan."
Kerajaan Alexandria saat ini tidak terlihat tenang seperti hari-hari kemarin. Apa yang dibicarakan saat rapat oleh para petinggi kerajaan bukan hanya ketakutan semata. Kerusuhan yang terjadi di antara para pegawai kerajaan sungguh terjadi dan semakin memburuk.
Pengawal yang tersebar di seluruh penjuru Kerajaan Alexandria mulai merapat ke arah istana kediaman karena tidak berhasil meredakan amarah para pelaku kerusuhan. Satu per satu korban dari pihak pegawai kerajaan maupun para pengawal berjatuhan dalam setiap jam nya. Kemarahan para pelaku kerusuhan memuncak dan berani untuk merenggut nyawa satu sama lain. Bahkan kebakaran terjadi di beberapa kebun sebagai tanda pemberontakan terhadap kepemimpinan Kerajaan Alexandria.
Putri Charlotte melihat api yang menyala dari balkon kamarnya dengan ketakutan sambil memeluk erat tupainya. Ia berada di tempat kebakaran itu beberapa jam lalu dan kini tempat tersebut sudah dilahap oleh api. Karena setengah melamun saat melihat kebakaran yang ada beberapa kilometer dari tempatnya, Putri Charlotte tidak sadar bahwa Ethan sudah tidak lagi berada di antara kedua tangannya.
"Ethaan! Kamu bisa tersesat kalau tidak bersamaku di istana!" teriak Putri Charlotte melihat tupai kesayangannya meloncat dari pagar balkon ke arah ukiran demi ukiran pada tiang gedung di samping balkon.
Putri Charlotte membusungkan badan melewati pagar untuk melihat ke arah taman di bawah balkon. Ia melihat Ethan sedang melompat dengan cepatnya di balik semak-semak hingga dalam sepersekian detik tupai itu tak lagi terlihat oleh pandangan. Dengan terpaksa gadis itu keluar dari kamar untuk mengejar tupainya walaupun Leslie memerintahkannya untuk tetap diam dan menunggu di kamar hingga rapat selesai. Dalam pikiran putri bungsu Alexandria, ia lebih rela dimarahi oleh Leslie dibandingkan kehilangan satu temannya lagi di hari yang sama.
Putri Charlotte menyusuri koridor lantai dua, menuruni tangga, dan terpaksa harus menyaksikan pandangan sinis dari para petinggi saat melewati koridor lantai satu yang mengarah pada ruang rapat. Ia mau tak mau beradu pandang dengan Putri Alice dari kejauhan. Walaupun tatapan kakaknya tetap dingin seperti biasa, si adik merasakan perbedaan saat itu.
Dalam beberapa saat ada keinginan Putri Charlotte untuk menghampiri Putri Alice dan menanyakan kondisinya. Namun Putri Alice mengalihkan wajah lalu berjalan berdampingan dengan Glazio menuju arah yang berbeda dari posisi Putri Charlotte.
Menghilangnya Putri Alice dari pandangan membuat Putri Charlotte fokus kembali pada tujuan utama, yaitu mencari Ethan. Ia menyusuri koridor lantai satu, mencari dapur kerajaan dan keluar dari gedung melalui pintu dapur. Saat ini ia menghindari diri untuk bertemu dengan Leslie sebelum bertemu dengan Ethan sehingga memilih pintu belakang untuk keluar dari gedung.
Belum sempat menemukan tupai kesayangannya, Putri Charlotte melihat pemandangan yang tidak biasa. Grotto sedang berbicara pada seseorang di jembatan yang menghubungkan kediaman keluarga Alexandria dengan kediaman para petinggi dan pegawai yang melayani istana.
Putri Charlotte tahu dengan pasti bahwa Grotto tidak terlalu banyak berbicara pada orang lain selama ini, namun kali ini mulut Grotto tampak tak berhenti bicara. Sosok itu membelakangi arahcpandang Putri Charlotte sehingga hanya terlihat posturnya yang tinggi dan tegap serta berambut hitam. Postur tubuh seperti itu cukup asing di antara para bangsawan yang tinggal di istana dan lebih cocok mengenakan baju pengawal dibandingkan jubah panjamg hitam.
Putri Charlotte tak sadar bahwa ia sudah mengamati Grotto dalam beberapa menit. Melupakan pencarian Ethan dan tidak sadar akan kedatangan orang lain di bapik punggungnya.
"Sudah kubilang, Tuan Putri jangan meninggalkan kamar sebelum saya mengunjungi Anda."
Bisikan Leslie di telinga Putri Charlotte, membuat Putri Charlotte bergidik dan hampir berteriak. Setelah melihat Leslie yang sedang berdiri sambil melipat tangan di d**a, Putri Charlotte mulai panik.
"Aaa….saya sedang mencari tupai saya."
"Saya mohon, Tuan Putri. Saat ini bukan saat yang tepat untuk bermain-main," kata Leslie sambil menghela nafas dengan keras.
"Saya sedang mencarinya, kemudian melihat Grotto berbicara dengan seseorang yang asing. Apakah Anda melihatnya juga?"
Leslie mengamati Putri Charlotte dan merasa gadis itu tidak berbohong. Jadi Leslie menengok ke sekitar mereka tapi tidak melihat siapapun berada di sekitar mereka.
"Saya akan mencarikan tupai untuk Anda, Tuan Putri. Anda sebaiknya bersiap-siap…"
Leslie kembali menghela nafas dengan berat. Begitu beratnya ia harus memberitahu apa saja yang akan ditempuh oleh Putri Charlotte setelah ini. "Ada suatu hal yang harus saya beritahukan pada Anda, Tuan Putri."
Putri Charlotte kembali ke dalam kamarnya dalam wajah yang murung. Tak hanya karena informasi yang diterimanya dari Leslie mengenai kepergiannya dari Kerajaan Alexandria, tapi juga karena ia tidak berhasil menemukan Ethan.
"Bahkan Grotto tidak dapat menemaniku keluar dari kerajaan ini karena masalah kesehatannya. Dan sekarang aku tidak menemukan Ethan di mana pun," gumam Putri Charlotte sambil merebahkan diri di atas kasurnya.
Bagaimana dengan orang-orang dari keluarga Toba?
Apakah mereka mau menerimaku untuk tinggal di sana?
Apakah tinggal di sana lebih baik daripada tetap berada di istana Alexandria seperti ini?
Apakah ada teman-teman yang baik hati seperti Near dan Darren?
Apakah ada tupai yang mau mendengarkan keluh kesahku seperti Ethan?
Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus melintasi pikiran Putri Charlotte saat ia membaringkan badan. Namun ia tidak sadar bahwa badannya sudah letih atas kejadian yang menimpanya. Matanya semakin lama semakin berat untuk dibuka. Dan putri bungsu Alexandria pun tertidur sebelum melakukan perjalanan yang panjang pada malam harinya.