Leslie memberikan informasi kepada Near bagaimana Near bisa mencapai kediaman orang yang akan membawa truk ke kota Windhill. Letak kediamannya hampir dekat dengan perbatasan dinding kerajaan Alexandria sehingga Near harus pergi sekarang juga untuk mengejar jadwal keberangkatannya di malam hari.
Awalnya Near tidak ingin mengikuti ide dari Leslie karena berniat mencari ayahnya ke hutan di luar wilayah kerajaan Alexandria. Namun Putri Charlotte meyakinkan dirinya bahwa ayahnya pasti bisa menjaga keselamatan dirinya sendiri hingga mereka bertemu kembali.
Setelah mendapatkan bujukan dari Putri Charlotte, Near akhirnya setuju. Ia menguburkan niatnya untuk mencari ayahnya dan berjanji akan kembali mencari ayahnya dan mengunjungi Putri Charlotte apabila sudah dapat melindungi dirinya sendiri, tidak seperti sekarang. Laki-laki itu mendekati Putri Charlotte dan memandang orang di hadapannya dengan wajah sedih. Putri Charlotte membalas pandangan Near dengan senyuman yang dipaksakan.
“Sampai bertemu kembali... Near,” kata Putri Charlotte dengan suara yang serak karena hampir saja menangis.
Lalu Putri Charlotte mendekati Near dan memeluk laki-laki yang mempunyai tinggi sepantaran dengannya itu.
Near mengatupkan bibirnya saat mendengar isakan Putri Charlotte. Sambil menahan rasa sakit di badannya, ia membalas dengan suara “ya” yang lemah dan menepuk bahu Putri Charlotte beberapa kali. Berusaha menenangkan Putri Charlotte sekaligus menguatkan dirinya sendiri.
Saatnya pun tiba. Near membalikkan badan lalu berjalan cepat menuju arah ladang rumput yang seakan tidak berujung.
Putri Charlotte hanya bisa memandang punggung Near yang semakin lama semakin menjauh. Saat punggung Near sudah tidak terlihat, setetes air mata pun mengalir dari ujung mata gadis itu dan membasahi pipi hingga dagunya. Leslie yang melihat tuan putrinya menangis hanya bisa menepuk-nepuk bahu Putri Charlotte dengan pelan.
"Kamu kembalilah ke asramamu untuk berkemas. Aku akan menemuimu di kediaman istana jam tiga sore," kata Leslie menoleh pada anak laki-laki yang tersisa.
Darren mengangguk-angguk mendengar perintah dari Leslie. Anak laki-laki itu pun berlari ke arah asrama pegawai dan meninggalkan Putri Charlotte dan Leslie.
"Tuan Putri… para pengawal akan datang mencari Anda, Anda harus mengikuti skenario saya."
Dengan intonasi yang tegas Leslie menjabarkan skenario yang sudah dirancangnya. Hal yang paling pertama dilakukan dari skenario adalah ia akan menemani Putri Charlotte bersembunyi di dalam sebuah kandang kuda. Lalu ia meninggalkan Putri Charlotte sendirian saat terdengar gerombolan pengawal yang sedang mencari tuan putrinya.
Mereka berdua langsung melakukan skenario yang telah dijelaskan sebelumnya. Tibalah gerombolan pengawal di kandang tempat Putri Charlotte bersembunyi. Tidak perlu waktu lama, para pengawal langsung menemukan Putri Charlotte yang sedang meringkuk dan berpura-pura terlihat ketakutan di pojok kandang. Kemudian Putri Charlotte digiring oleh para pengawal menuju mobil yang baru saja datang. Leslie hanya memandangi skenario awal berjalan lancar dalam kondisi menghilangkan diri dengan kekuatannya.
Saat seorang pengawal membuka pintu belakang mobil, sosok kecil berwarna merah meloncat langsung ke dalam karpet mobil. Membuat pengawal tersebut melindungi badan Putri Charlotte dan bersiap siaga.
"Tidak apa-apa. Hewan ini adalah tupai kesayanganku," kata Putri Charlotte sambil tersenyum.
Seakan tidak ingin membiarkan Putri Charlotte bersedih berlarut-larut, alam semesta menyuruh seekor tupai untuk menemaninya, pikir anak bungsu Kerajaan Alexandria sambil masuk ke dalam mobil dengan memeluk Ethan.
Sementara mobil bergerak menuju istana, Putri Charlotte memandang ke luar jendela sambil menghela nafas panjang. Matahari begitu terik siang hari ini namun tidak berhasil membuat pandangannya menjadi cerah. Arah pandangan gadis itu berlabuh pada titik terjauh yang dapat dilihatnya sambil membayangkan punggung Near perlahan menghilang dan tidak dapat berada di samping dirinya kembali.
Mata Putri Charlotte mengerjap beberapa kali untuk menahan tangisan. Lalu ia memandangi tupai kesayangan yang sedang berada di atas pangkuannya. Ethan bergeming dan matanya mengarah pada wajah Putri Charlotte seakan seekor tupai mencoba mengerti kesedihan yang dialami oleh manusia
“Saat ini aku hanya mempunyai satu teman yaitu kamu, Ethan.”
Sisa dari skenario yang direncanakan Leslie berjalan dengan mulus. Putri Charlotte berhasil meyakinkan para petinggi kerajaan dengan skenarionya yaitu ia bercerita saat mendatangi asrama pegawai, ia langsung dikejar-kejar oleh para pemuda sehingga harus bersembunyi di balik kandang kuda. Darren mengeluarkan beberapa kuda dari kandangnya sebagai pengalihan. Dan beberapa dari pemuda itu terluka karena ditendang oleh gerombolan kuda.
Karena jasa Darren dalam melindungi Putri Charlotte, ia akan diberikan penghargaan khusus sehingga dapat bekerja di kediaman istana. Darren langsung menyetujui tawaran yang diberikan oleh Leslie dari awal. Ia rela bekerja walaupun hanya sebagai tukang kebun. Karena bila ia tetap berada bersama pegawai lainnya nyawanya akan cukup terancam bila para pemuda yang menyerangnya sudah membocorkan identitasnya sebagai teman dari Near. Sedangkan Near Geraldine tidak ada pada daftar skenario yang dibuat oleh Leslie. Nama Near tidak disinggung sama sekali sehingga keberadaannya dapat terabaikan.
Sayangnya ada dampak lain yang tidak diperhitungkan dari sebuah rencana yang dibuat oleh Leslie. Para petinggi kerajaan mengadakan rapat dadakan yang diadakan atas dasar keselamatan Putri Charlotte yang terancam. Walaupun Putri Charlotte hanya terluka ringan, para petinggi kerajaan mempermasalahkan resiko yang dapat diterima bila Putri Charlotte berurusan kembali dengan kerusuhan secara langsung. Keberanian Putri Charlotte yang langsung bereaksi menuju lapangan membuat para petinggi resah.
"Seorang putri kerajaan bertindak gegabah seperti itu, bukankah akan banyak masalah untuk ke depannya?"
"Bagaimana bila Putri Charlotte sudah bersekutu dengan para pegawai kerajaan untuk melakukan kudeta?"
"Apakah Putri Charlotte diancam oleh para pegawai kerajaan?"
Kalimat demi kalimat yang berkesan pesimis terdengar dari seluruh penjuru dalam ruang rapat. Leslie, Putri Alice dan Grotto hanya bisa diam mendengarkan keluhan para petinggi lain mengenai tindakan Putri Charlotte.
"Bukankah sebaiknya Putri Charlotte diasingkan dahulu dari kerajaan Alexandria hingga lebih dewasa dalam bersikap? Apalagi kerusuhan yang diinisiasi para pegawai kerajaan sepertinya tidak akan selesai dalam hitungan hari."
Akhirnya rapat dadakan para petinggi kerajaan Alexandria siang hari itu menemukan solusi yang disetujui oleh hampir semua anggota rapat yaitu malam ini Putri Charlotte akan bermigrasi sementara ke kerajaan Toba yang rajanya saat ini menjadi kerabat dari almarhum Raja dan Ratu. Migrasi dilakukan pada malam hari untuk meminimalisir terjadinya pencegatan keberangkatan Putri Charlotte oleh para pelaku kerusuhan.
"Saya akan ikut mendampingi Putri Charlotte," kata Leslie mengundang wajah penuh pertanyaan dari para anggota rapat.
"Bagaimana mungkin Anda meninggalkan…"
"Saya menyerahkan kepemimpinan sementara pada Putri Alice. Dalam peraturan pun disebutkan penyerahan kepemimpinan dapat dilakukan apabila terjadi kejadian yang krusial seperti ini," kata Leslie dengan penuh keyakinan.
Putri Alice hanya terdiam saat diserahkan tanggung jawab sebagai pemimpin sementara kerajaan Alexandria. Sedangkan para petinggi lain hanya bisa saling berpandangan dan tidak siap untuk membantah.
"Apakah dengan pernyataan Anda, Anda meremehkan keamanan yang akan dilakukan tim pengawal?" kata Glazio dengan senyuman penuh arti sambil melirik ke arah Duncan yang sedang berjaga di pintu masuk.
"Apakah Anda juga tidak memperhitungkan resiko tak terbatas yang dapat terjadi pada Putri Charlotte sehingga menolak perintah saya?"
Ketegangan yang terjadi antara Leslie dan Glazio membuat rapat tidak mencapai mufakat. Ketidaksepakatan antara pemimpin kerajaan dan mayoritas suara akhirnya terjadi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
"Saya…. Alice Dutchswan Alexandria Bersedia menjadi pemimpin kerajaan sementara Alexandria," kata Putri Alice di tengah keheningan ruang rapat.
Leslie tampak puas dengan pernyataan satu-satunya orang yang mempunyai darah dari keluarga Alexandria di ruangan itu. Dan saat ini mayoritas para petinggi sedang melihat ke arah Putri Alice dengan tidak percaya.
"Resiko yang akan menimpa Putri Charlotte memang sangat tinggi, hingga tak terbatas. Tapi resiko yang akan diterima Putri Alice dalam kerusuhan ini juga tidak bisa diabaikan. Bahkan resikonya sama-sama tak terbatas."
Suara yang biasanya tidak pernah terdengar di antara para petinggi tiba-tiba muncul saat pintu utama terbuka.
Sosok yang sudah cukup tua dengan rambut dan jenggot berwarna putih masuk ke dalam ruang rapat dengan dipapah oleh seorang pelayan wanita. Beliau adalah orang yang dituakan di kerajaan Alexandria. Louis Zenevieva Aquila, kakek dari Leslie yang menjabat sebagai penasihat kerajaan dua generasi sebelum generasi saat ini.
Leslie memandang kakeknya dengan mata membelalak. Atas dasar apa beliau memberikan pendapat di dalam rapat dan membantah keputusan cucunya sendiri, pikir Leslie dalam hati.
"Dalam peraturan disebutkan bahwa mantan penasihat kerajaan bisa memberikan pendapat dalam rapat walaupun ia tidak diundang secara langsung," kata Louis menatap cucunya dengan wajah yang datar
"Masukan dari tetua sudah seharusnya dipertimbangkan, bukan begitu Nona Leslie?" kata Glazio dengan intonasi yang membuat Leslie kesal namun tak berkutik.
"Saya perintahkan kepala pengawal dapat memberikan keamanan yang tidak ada celah untuk kesalahan sama sekali."
Kalimat dari Leslie memberikan kesimpulan akhir atas rapat dadakan dalam migrasi Putri Charlotte malam ini. Perkataan kakeknya membuat Leslie tidak berkutik.
Setelah selesai rapat, semua petinggi kerajaan keluar dari ruangan satu per satu hingga meninggalkan dua orang saja yaitu Leslie dan Louis. Tidak hanya marah atas interupsi kakeknya saat rapat, Leslie berani mengancam kakeknya atas perkataannya.
"Seandainya terjadi kesalahan pada pengawal yang mendampingi Putri Charlotte, sayayang akan menjebloskan Anda sendiri ke dalam penjara atas dasar usaha pembunuhan keluarga kerajaan."
"Bukankah itu yang mereka mau, my dear Leslie?"
Leslie mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan Louis. Ekspresinya seakan mengatakan bahwa kakeknya bisa saja salah menangkap perkataan dirinya karena sudah terlalu tua untuk memikirkan kerajaan.
"Apa maksud Kakek?"
"Menjauhkanmu dan Putri Charlotte dari kerajaan ini, bukankah pengkhianat kerajaan akan merasa senang dapat mengatasi dua orang sekaligus?"