Mobil yang membawa Putri Charlotte berhenti dan tidak kunjung melanjutkan perjalanannya. Tidak lama setelah lampu di dalam mobil menyala, penutup jendela yang berada di antara mobil bagian depan dan belakang terbuka. Orang yang berada di samping pengemudi membalikkan badan dengan wajah yang tidak tenang. Sedangkan si pengemudi sedang berusaha untuk menghidupkan mobil namun tidak bisa.
"Ada yang menghentikan rombongan mobil kerajaan. Mobil tidak bisa dihidupkan kembali."
Keempat pengawal saling berpandangan dan memberikan tanda yang mengisyaratkan sebuah kondisi gawat darurat. Masing-masing dari keempat pengawal bersiap-siap dengan rencana darurat yang dipimpin oleh Catrin, pengawal wanita yang duduk paling dekat dengan Putri Charlotte.
Jantung Putri Charlotte seakan dipacu lebih kencang dari biasanya. Situasi seperti ini pernah dialami olehnya saat masih kecil dan meninggalkan kenangan buruk yang tidak bisa ia lupakan. Namun tidak ada yang bisa menenangkannya saat ini. Semua orang dewasa yang berada dalam mobil sibuk dengan rencananya masing-masing.
Masih tidak beranjak dari tempat duduknya pengawal perempuan berambut pendek merentangkan kedua tangan ke depan sambil memejamkan mata. Dalam keadaan mata terpejam, ia dapat mengetahui informasi kekuatan magis yang dikeluarkan oleh seorang penyihir, sebutan bagi makhluk hidup yang dapat menggunakan kekuatan magis.
"Catrin, ada yang menggunakan kekuatan magnet yang sangat besar untuk menghentikan kerja mesin mobil!"
Mendengar informasi dari rekannya Catrin langsung menyuruh seorang pengawal laki-laki untuk berpindah tempat duduk ke samping Putri Charlotte. Si pengawal laki-laki menyilangkan tangannya hingga mengeluarkan cahaya kebiruan sebesar genggaman tangan. Tak lama kemudian cahaya kebiruan itu membesar dan membuat kubah seukuran mobil.
Walaupun kondisi Putri Charlotte cukup aman karena perisai yang dikeluarkan oleh pengawal, perasaan Putri Charlotte tidak dapat tenang. Kedua tangannya mengepal dan badannya menjadi gemetaran. Suara-suara yang dikeluarkan oleh Catrin maupun pengawal lainnya tidak dapat didengar oleh Putri Charlotte. Tidak hanya indera pendengarannya yang hilang, indera penglihatan Putri Charlotte pun mulai kabur.
Tidak bisa, aku harus bertahan, pikir Putri Charlotte sambil menguatkan dirinya.
Butuh waktu beberapa menit bagi Putri Charlotte untuk mengembalikan pikirannya yang tiba-tiba saja kosong. Putri Charlotte memejamkan mata dan mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga. Dan setelah kembali ke dunia nyata, Putri Charlotte menyadari suatu hal yang sepertinya tidak disadari oleh orang-orang dewasa.
"Aku… mencium bau bensin," kata Putri Charlotte dengan wajah ketakutan sambil memeluk erat-erat tupainya
Catrin memandang Putri Charlotte dan rekannya secara bergantian. Sebagai pemimpin dalam misi pengawalan Putri Charlotte saat itu Catrin dipaksa untuk membuat keputusan yang berbeda dari rencana awalnya. Ia memberikan perintah kepada tiga rekan pengawalnya sesuai dengan instingnya saat mendengar perkataan dari Putri Charlotte.
"Thomas, rusakan pintunya. Semuanya segera keluar!"
Pengawal yang bernama Thomas langsung meninju pintu samping mobil hingga lepas. Pintu mobil yang lepas terjatuh bebas ke arah jurang yang berada persis di samping mobil-mobil yang sedang terparkir. Setelah membukakan jalan bagi Putri Charlotte, Thomas menyingkir ke tempat duduk yang kosong dan membiarkan Putri Charlotte dan pengawal yang membawanya keluar paling pertama.
Laki-laki yang mengeluarkan perisai biru langsung menggendong Putri Charlotte dan melompat dari mobil menuju jurang di hadapan mereka. Setelah Putri Charlotte dan pengawal laki-laki berada di udara, perisai yang dihasilkan dari si pengawal menyesuaikan ukurannya menjadi sekitar dua kali besar badan manusia. Perisai bola itu turun perlahan menuju bawah tebing dan mendarat di atas tanah tanpa melukai orang yang berada di dalam perisai bola tersebut.
Ketiga pengawal lain melompat juga ke arah yang sama dengan Putri Charlotte. Tanpa perisai mereka harus menyusuri kemiringan tebing yang curam perlahan-lahan dengan sebuah tali yang diikatkan pada ujung tebing. Namun di tengah-tengah perjalanan tiga pengawal yang sedang menuruni tebing, terdengar ledakan dari mobil yang mereka tumpangi sebelumnya. Tidak lama setelah itu, para pengawal yang menuruni tebing dengan tali kehilangan keseimbangan karena talinya terputus akibat api yang menjalar.
Sementara orang-orang yang tertinggal di dalam mobil tidak dapat terselamatkan karena terjadi ledakan hebat pada kedua belas mobil yang mengantar Putri Charlotte. Ledakan hebat itu mengakibatkan hutan di sekitarnya ikut terbakar namun tidak menjalar terlalu jauh akibat udara dingin dapat menahannya pada pagi hari itu.
Si pengawal yang membawa Putri Charlotte menghilangkan perisainya, kemudian menurunkan Putri Charlotte ke atas tanah. Pohon-pohon tinggi yang rimbun telah menutup akses cahaya bulan untuk menyinari daratan yang dipijak oleh Putri Charlotte, sehingga Putri Charlotte tidak ingin bergerak ke mana pun karena tidak dapat melihat apa-apa.
Dari samping Putri Charlotte, si pengawal melemparkan bola-bola bercahaya biru berukuran bola basket yang berputar dan mengorbit pada mereka. Dengan adanya pencahayaan dari bola-bola tersebut Putri Charlotte dan si pengawal dapat melihat pohon demi pohon yang berada sejauh radius lima meter dari tempat mereka berdua berdiri.
Pengawal yang berada di samping Putri Charlotte tetap siap siaga memperhatikan kondisi sekitar saat ia dan Putri Charlotte berjalan untuk mencari tempat yang lebih terang. Sedangkan Putri Charlotte berusaha mengikuti langkah si pengawal yang cukup besar sambil menahan Ethan yang terus menerus berusaha kabur dari pelukannya.
"Aw!"
Mendengar teriakan Putri Charlotte si pengawal langsung membuat kubah perisai lagi untuk melindungi dirinya dan Putri Charlotte. Si pengawal langsung mengeluarkan dua bilah pedang dari punggungnya dan memposisikan diri pada kondisi siap siaga.
"Maafkan aku hanya digigit oleh tupaiku. Lanjutkan perjalanannya," kata Putri Charlotte dengan wajah kecewa melihat sosok kecil melompat dari tangannya ke atas tanah dan menghilang ke dalam hutan belantara.
Tidak lama kemudian Putri Charlotte bertemu dengan satu per satu pengawal lain yang berada satu mobil dengannya sebelum ini. Dari balik cahaya yang dikeluarkan oleh kekuatan magis, para pengawal terlihat terluka pada wajah mereka dan sebagian baju mereka rusak karena terkait oleh ranting-ranting pohon yang menahan mereka terjatuh ke tanah. Setiap kali para pengawal bertemu satu sama lain, mereka harus memberikan kata sandi yang berbeda-beda supaya meyakinkan orang yang mereka hadapi bukan berasal dari pihak oposisi.
Lalu Putri Charlotte melihat sosok yang memakai pakaian sama dengannya berada tidak jauh darinya. Sosok itu sedang dipapah oleh Thomas yang baru saja muncul dari antara pohon di depan mereka.
"Ada berapa banyak rambut putih yang muncul pada kepalamu?"
"Lima, satu helai tersembunyi di balik telingaku," kata Thomas menjawab pertanyaan istrinya yang sudah lebih dulu berada dalam gêrombolan bersama Putri Charlotte. "Aku menemukannya dalam perjalanan, ia terlempar dari ledakan mobil di atas," lanjut Thomas sambil melirik ke arah wanita yang ia papah.
Sosok berjubah yang sengaja diperintahkan untuk menirukan penampilan Putri Charlotte memperlihatkan luka bakar yang diterimanya pada sebagian kaki dan tangannya. Putri Charlotte hanya bisa menelan ludah untuk menahan rasa takutnya. Bila satu pengawal saja sudah mengalami luka separah ini bagaimana dengan pengawal yang lain, pikir Putri Charlotte.
"Bagaimanakah dengan pengawal yang lain?"
"Saya orang pertama yang dapat keluar dari kaca yang telah dipecahkan di mobil ke sebelas. Sepertinya tidak ada orang lain yang dapat keluar setelah saya, Tuan Putri."
Putri Charlotte menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia menjadi tidak tega saat memikirkan jumlah pengawal yang akan menjadi korban dalam pengawalan dirinya. Putri Charlotte membalikkan badan dan berusaha melihat ke arah mobil yang ditumpanginya. Berharap supaya puluhan pengawal yang lain masih bisa selamat dan menyusulnya.
"Tuan Putri, kita harus segera mencari tempat untuk bersembunyi. Kita belum mengetahui berapa banyak musuh kita," kata Catrin yang berjalan paling depan sebagai pemimpin rombongan.
Putri Charlotte mengangguk berkali-kali sambil menguatkan dirinya sendiri. Seandainya hanya mereka ber-enam yang tersisa ia hanya perlu tetap hidup agar perjuangan para pengawal tidak sia-sia, kata Putri Charlotte dalam hati.
"Aku melihat sedikit cahaya dari sana," kata Thomas pada rekan-rekannya.
Sesuai dengan petunjuk dari Thomas, gêrombolan yang bersama dengan Putri Charlotte berjalan ke arah cahaya yang ditunjuk. Saat sampai di ujung perjalanan dengan kegelapan total mereka melihat padang rumput yang sangat luas seperti tak berujung. Cahaya bulan menyinari hamparan rumput dan memperlihatkan gerakan tanaman akibat angin yang berhembus.
Melihat cahaya pada bola-bola biru yang dihasilkannya tidak akan berpengaruh sepanjang mereka melintasi padang rumput, pengawal laki-laki yang mempunyai kekuatan membuat perisai langsung menghilangkan semua kekuatannya dalam satu jentikan jari. Sedangkan Catrin mengamati lahan terbuka dengan mata yang menyipit. Ia menganalisa seluruh titik yang dapat menjadi potensi untuk menjadi tujuan mereka dan potensi dari pihak oposisi untuk bersembunyi.
"Tempat seperti ini adalah tempat paling bagus bagi para musuh untuk mengeliminasi kita satu per satu," kata Catrin melebarkan tangan kirinya supaya tidak ada satu pun orang yang mendahului posisinya.
Catrin memejamkan mata untuk berpikir. Tidak hanya dilatih untuk menjadi seorang pengawal, selama ini ia telah dilatih oleh Leslie sebagai pemimpin yang harus dapat menilai kondisi dengan secepat dan setepat mungkin. Walaupun tidak ada satu pun pengawal yang bisa memastikan bahwa pilihan yang akan diambilnya adalah keputusan yang tepat atau tidak. Bahkan Leslie sekalipun.
Anggota rombongan ikut terdiam dan menunggu perintah dari Catrin, termasuk Putri Charlotte yang saat ini mau tidak mau mengikuti apa pun yang disarankan oleh para pengawal agar dapat melanjutkan perjalanannya. Entah perjalanan menuju Kerajaan Toba maupun kembali ke Kerajaan Alexandria.
Saat Catrin membalikan badan, semua anggota rombongan memperhatikan Catrin dengan seksama.
"Kita akan menyusuri padang rumput dengan terbagi atas dua kelompok. Kelompok yang memancing musuh dan kelompok yang tidak boleh terlihat sama sekali karena Putri Charlotte termasuk di dalamnya"