Kelompok pertama dari keempat pengawal Putri Charlotte yang tersisa adalah kelompok yang memancing gerak-gerik pihak oposisi. Sosok yang memakai pakaian seperti Putri Charlotte berjalan berdampingan dengan Thomas. Mereka berdua menyusuri padang rumput dengan rumput ilalang setinggi bahu mereka dengan setengah membungkuk. Sedangkan Catrin bertugas mengawasi dua anggota kelompok pertama itu dari jarak beberapa meter di belakangnya.
Catrin menyiapkan posisi yang pas di antara rerumputan untuk menggunakan sênjata apinya yang berjenis sniper rifle. Dengan bidikan teleskopik pada sênjata apinya mata Catrin menelusuri seluruh medan yang akan ditempuhnya dengan keempat rekannya. Mungkin saja ada musuh yang bersembunyi di balik padang rumput bersama-sama mereka atau pun berada di balik hutan sekitar satu kilometer dari posisi mereka. Sedikit saja terdapat pergerakan di balik bidikan teleskopiknya, maka Catrin harus langsung bertindak dan memberikan arahan yang tepat untuk semua rekannya.
Karena tidak terlihat pergerakkan apa pun dari balik bidikan teleskopiknya, Catrin menaruh sênjata apinya di punggung kembali. Dengan penuh keyakinan bahwa tidak akan ada musuh beberapa meter di sekitarnya, Catrin bergerak dengan agak cepat supaya bisa mengimbangi kecepatan kedua orang di depannya. Namun tidak ada yang menyangka bahwa selama ini pihak oposisi berada di belakang mereka. Sebuah panah dilepaskan ke arah Catrin dan berasal dari arah hutan yang telah mereka lewati beberapa menit sebelumnya. Sebuah panah yang tak terelakan berhasil menancap tepat pada jantung Catrin.
"Di belakang kalian!" teriak Catrin sebelum ia terjatuh dan kehilangan nyawa.
Thomas yang mendengar suara dari belakang punggungnya, langsung menoleh ke arah datangnya suara.
"Catrin!!!" teriak Thomas saat melihat pemimpinnya terjatuh beberapa meter di depannya.
Thomas menahan nafas saat melihat jumlah musuh yang harus dilawannya. Sepanjang penglihatan Thomas, pihak oposisi yang muncul satu per satu dari hutan yang telah mereka lewati berjumlah tidak kurang dari dua puluh orang. Mereka muncul dengan google di mata mereka untuk dapat melihat di saat gelap sekalipun. Sebelum ini pihak oposisi juga berada di hutan yang sama dengan gêrombolan Putri Charlotte dan mereka telah membunuh satu per satu sisa pengawal yang bukan berada di pihak mereka dan membela pihak Putri Charlotte. Mereka hanya tinggal menunggu waktu yang tepat sebelum melenyapkan sisanya.
Seorang wanita membawa busur panah dan ia sedang mengambil anak panah kembali untuk mengisi kekosongan pada busurnya setelah berhasil memanah Catrin. Selain memakai panah sênjata yang digunakan oleh pihak oposisi adalah sênapan. Hanya ada seseorang yang berjalan dengan langkah yang percaya diri tanpa sênjata apa pun menghampiri tempat Catrin terjatuh. Memastikan bahwa Catrin benar-benar sudah tewas.
"Mors, kamu akan menyesali perbuatanmu pada kerajaan!" teriak Thomas pada orang yang sedang menginjak badan Catrin yang sudah tak bernyawa.
"Tenang saja. Setelah ini tidak akan ada pihak kerajan yang tahu kejadian ini. Karena kalian semua akan mati di sini," kata Mors tersenyum penuh kemenangan.
Mors memberikan tanda pada anak buahnya yang berada di antara pohon-pohon. Mors dan anak buahnya juga memakai seragam pengawal sama seperti Thomas dan seharusnya mereka berada di pihak yang sama. Namun saat itu mereka mengarahkan sênapan pada Thomas dan rekan Thomas di sampingnya.
Putri Charlotte dan sisa gêrombolan merupakan kelompok kedua. Kelompok kedua langsung bertiarap saat keluar dari hutan belantara dan menyusuri rerumputan dengan menggeser kaki ke arah depan perlahan-lahan seperti yang dilakukan oleh militer saat menyusuri medan perang. Sebisa mungkin mereka tidak memperlihatkan gerakan yang mencolok dibandingkan kelompok kesatu. Namun nama Catrin yang diteriakan oleh Thomas membuat kelompok kedua menghentikan gerakannya.
"A...aku tidak bisa merasakan kekuatan Catrin lagi. Bahkan tidak ada aura Catrin di sana….," kata pengawal wanita berambut pendek memandang Putri Charlotte dan pengawal laki-laki di sampingnya.
Kematian Catrin benar-benar membuat seluruh orang yang berada di pihak yang sama dengan Catrin menjadi terpuruk. Terutama pengawal laki-laki yang berada di samping Putri Charlotte. Pengawal itu tidak dapat menahan air mata saat melihat istrinya sudah tiada sedangkan ia hanya bersembunyi di balik rerumputan. Beberapa detik kemudian kembang api dilepaskan ke arah langit yang masih gelap oleh Thomas. Sebuah tanda yang diberikan pada pihak kerajaan saat para pengawal tidak dapat bersembunyi lagi dari pihak oposisi.
"Kita hanya bisa berharap Nona Leslie datang membawa bala bantuan," kata si pengawal wanita melihat percikan api yang berada di udara dengan pandangan yang penuh berharap. Setelah melihat jumlah dari pihak oposisi yang masih bertahan, harapan untuk dapat melawan menjadi menyusut drastis. Rasa takut bercampur amarah memenuhi pikiran dari gêrombolan yang masih berusaha melindungi Putri Charlotte. "Setiap mobil ganjil adalah anak buah dari Nona Leslie. Jadi sisanya adalah pengkhianat," tambahnya.
Mata Putri Charlotte membelalak. Lebih dari dua puluh pengawal yang mengantar dirinya keluar dari kerajaan adalah pengkhianat.
"Nona Leslie tidak pernah percaya pada Duncan. Mengapa para petinggi harus minta bukti seperti pada hari ini dulu baru mereka percaya?"
Sebuah tembakan terdengar dari salah satu sênapan pihak oposisi yang mengarah Thomas sebagai targetnya. Tidak ada yang korban dari peluru yang diluncurkan kali ini karena Thomas berhasil menghalau peluru tersebut dengan perisai baja yang keluar dari badannya. Sepersekian detik kemudian Thomas sudah melindungi wajahnya dengan helm baja. Sedangkan pengawal wanita yang berada di samping Thomas mempersiapkan diri kuda-kuda sebelum kecepatan tinggi membawanya ke belakang pengawal oposisi dan menusuk musuhnya dengan pisau hingga tewas.
Sementara beberapa pengawal yang memegang sênapan sudah dapat diatasi oleh pengawal wanita yang mempunyai kecepatan tinggi sebagai kekuatan magisnya, Thomas berlari maju ke arah Mors. Thomas menghilangkan perisai di tangan kirinya dengan kekuatan magis, lalu menaikkan pedangnya ke udara dengan kedua tangan sebagai awalan untuk menebas musuh di depannya.
Thomas seakan sudah menebas musuhnya, namun yang ditebas hanyalah bayangannya saja. Tidak hanya salah menebas, Thomas bahkan dijatuhkan dengan mudah ke tanah oleh wujud asli dari Mors. Tidak lama kemudian bayangan hitam yang dikeluarkan oleh Mors telah menahan badannya menjadi tidak bergerak dan kemudian membuat Thomas tidak bisa bernafas.
Kelompok kedua yang sedang melindungi Putri Charlotte hanya bergerak sedikit demi sedikit namun tetap bersembunyi di balik rerumputan dan tidak dapat membantu kelompok pertama untuk bertarung. Bagaimana pun kekuatan penyihir pendukung tidak bisa efektif melawan musuh yang dapat membuat kekuatan bayangan. Kecepatan bayangan bisa disamakan dengan kecepatan cahaya atau bisa disamakan dengan kekuatan teleportasi. Begitu menemukan targetnya, orang berkekuatan bayangan bisa berpindah dari posisinya saat itu menuju suatu benda yang disinari cahaya dan mempunyai bayangan.
Salah satu cara melawan kekuatan bayangan adalah kegelapan. Oleh karena itu Mors tidak bisa leluasa mencari Putri Charlotte karena berada di hutan gelap. Namun kembali ke hutan gelap bukanlah pilihan yang baik untuk melawan Mors. Walaupun anak buah Mors mayoritas tidak mempunyai kekuatan magis, kekuatan perisai dan kekuatan penglihatan yang dipunyai oleh kelompok kedua tidak bisa dipakai untuk berperang saat ini.
Baru saja kedua pengawal yang berada di kelompok kedua berharap pada kedua pengawal lain di kelompok pertama untuk memperlambat gerakan pihak oposisi, Thomas dapat ditumbangkan dengan mudah oleh Mors. Dan wanita yang mempunyai kecepatan tinggi di kelompok pertama pun berhasil ditumbangkan oleh busur yang sama yang digunakan untuk membunuh Catrin.
Setelah semua kelompok pertama tidak dapat melanjutkan tugasnya untuk melindungi Putri Charlotte, Mors sebagai pemimpin dari pihak oposisi kerajaan memerintahkan seluruh pasukannya yang tersisa untuk mencari Putri Charlotte yang sedang bersembunyi. Sekitar sepuluh orang dari anak buah Mors yang tersisa langsung berjalan berpencar sambil menyibakkan rerumputan yang menghalangi jalannya.
"Tinggal... sisa kita bertiga…," kata pengawal perempuan sambil menahan tangisnya karena sudah tidak bisa merasakan kehadiran suaminya, Thomas.
Dengan kondisi yang tidak dapat melawan, kelompok kedua hanya bisa berdiam di tempat. Berharap posisi mereka tidak ditemukan setidaknya sampai bala bantuan dari kerajaan datang.