Saat berumur tujuh tahun, Putri Charlotte pernah menangis tidak henti saat melihat kelinci kesayangannya mati. Ibu Putri Charlotte yang menjabat sebagai Ratu Alexandria saat itu mengatakan kepada anak bungsunya bahwa kematian hanyalah salah satu tahap dari kehidupan, yaitu tahap yang paling akhir dan saat kelinci Putri Charlotte mati, berarti tugasnya di sebuah kehidupan telah berakhir. Putri Charlotte dapat berhenti menangis karena perkataan ibunya. Karena perkataan ibunya itu juga Putri Charlotte dapat memelihara binatang-binatang lainnya dan tidak pernah menangis kembali saat binatang peliharaannya mati. Tidak seperti saat ia menangisi kematian kelinci pertamanya.
Saat kedua orang tuanya meninggal, Putri Charlotte masih memegang prinsip yang diberikan oleh ibunya. Gadis itu masih berpikir bahwa kedua orang tuanya sudah melakukan semua tugas yang harus dilakukan selama hidup di dunia. Putri Charlotte yang berumur sepuluh tahun saat itu berusaha tegar dan dapat menahan isakan tangisnya di hari penguburan orang tuanya. Putri Charlotte mengatupkan bibir, mengepalkan kedua tangan, dan berdiri dengan tegap. Walaupun air mata tetap keluar dari kedua ujung matanya, Putri Charlotte berusaha keras untuk tegar saat itu.
Setiap kali bersedih dan ingin menangis karena diperlakukan tidak adil di dalam kerajaan, Putri Charlotte juga dapat menahan tangisannya saat itu. Namun emosinya tidak dapat terbendung saat ia sedang sendirian ataupun hanya bersama dengan tupainya, Ethan.
Almarhum Ratu Alexandria mungkin mengatakan nasihat saat anaknya kehilangan sesuatu yang dicintainya supaya Putri Charlotte tidak tenggelam dalam kesedihan. Tapi ibunya tidak pernah menyangka bahwa Putri Charlotte akan lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian. Ibunya tidak pernah menyangka bahwa ia tidak dapat hadir menemani anak bungsunya saat Putri Charlotte merasa kesepian. Berkali-kali. Dalam lima tahun terakhir ini.
Di pagi hari yang dingin. Rerumputan yang berada di sebuah hamparan rumput yang luas menjadi saksi bisu atas peperangan yang terjadi. Putri Charlotte berada di tengah-tengah tumpah darah yang terjadi antara para pengkhianat dengan gêrombolan pengawal yang telah mendampinginya beberapa jam terakhir. Lagi-lagi. Putri Charlotte harus kehilangan orang-orang yang berada di dekatnya. Bahkan kehilangan orang-orang yang menemaninya di saat ia merasa hanya hidup sendirian di dunia ini.
Dari sejak pembuatan rencana pengawalan Putri Charlotte, tentu saja tidak ada yang tahu siapa sajakah yang akan melakukan tugas terakhirnya di dunia ini. Bahkan orang yang membuat rencana yaitu Leslie, tidak tahu apakah anak buahnya akan gugur di medan perang atau tidak. Resiko terburuk sudah harus ditanggung oleh pada pengawal Putri Charlotte, termasuk kematian yang tak terelakan.
Saat ini Putri Charlotte goyah karena prinsip kehidupan yang telah ia jalani selama ini. Apakah benar tugas akhir dari para pengawal adalah untuk melindungi dirinya? Mengapa begitu banyak orang harus mengorbankan diri demi dirinya?
Pikiran Putri Charlotte menjadi penuh dengan rasa bersalah. Seandainya saja ia menuruti guru pelajaran magisnya, mungkin ia bisa mengeluarkan kekuatan magis saat ini dan bisa melindungi diri sendiri. Seandainya saja ia tidak malas membaca, mungkin saja ia lebih dihargai oleh para petinggi kerajaan. Bahkan ia tidak perlu keluar dari kerajaan Alexandria bila ia diterima para petinggi kerajaan. Pikiran itu terus menerus lewat di dalam kepala Putri Charlotte sehingga ia tidak sadar bahwa pihak oposisi semakin mendekat.
Semakin pihak oposisi dekat dengan posisi Putri Charlotte, kedua pengawal yang tersisa tidak bisa berdiam diri saja. Baru saja cahaya biru sebesar tangan dikeluarkan oleh pengawal laki-laki yang berada di samping Putri Charlotte, Mors sudah menewaskannya dengan mudah. Putri Charlotte hanya bisa memejamkan mata. Selain tidak ingin melihat kematian pengawalnya satu per satu di depan matanya, ia juga sudah tidak punya harapan lagi untuk hidup. Dalam pikiran Putri Charlotte waktu kematiannya pun hanya tinggal beberapa detik lagi.
"Aku akan bertemu dengan Ayah dan Ibu sebentar lagi," kata Putri Charlotte dalam hati sambil tetap memejamkan mata sementara satu per satu pengawal Putri Charlotte berteriak kesakitan saat ditumbangkan oleh Mors.
Saat memejamkan matanya, Putri Charlotte merasa tiba-tiba ada orang yang mengangkat kaki dan punggungnya. Dalam seketika Putri Charlotte pun tidak dapat mendengarkan apapun lagi dari sekitarnya. Tidak ada langkah kaki maupun teriakan dari para pengawal yang berusaha bertarung dengan pihak oposisi.
"Apakah aku sudah tidak berada di dunia lagi?" tanya Putri Charlotte dalam hati.
Karena terlalu nyaman dengan suasana yang damai dan kehangatan yang tiba-tiba mengalir ke seluruh badannya, Putri Charlotte memutuskan untuk tetap menutup matanya. Sampai akhirnya sebuah suara berat yang terdengar asing tertangkap oleh indera pendengarannya.
"Hei, buka matamu."
Putri Charlotte membuka matanya perlahan dan melihat wajah seorang laki-laki yang kira-kira berumur seperti para pengawalnya. Kulitnya putih dan mempunyai hidung yang mancung. Kedua bola mata yang berwarna coklat muda memandang Putri Charlotte dengan tajam. Rambutnya yang hitam sebagian besar tertutup oleh tudung jubah dan menyisakan poni yang acak-acakan di sekitar dahinya.
"Aku… berada di mana?" tanya Putri Charlotte masih tetap memandang wajah yang berada di hadapannya.
"Tempat yang sama sebelum kamu menutup matamu. Bila sudah sadar, kamu berlindunglah diri dulu dengan anak laki-laki di sana. Aku mau menyelesaikan urusanku dulu," kata sosok berjubah hitam dengan cepat dan intonasi yang datar.
Putri Charlotte langsung membelalakan mata karena sadar bahwa ia belum kehilangan nyawanya. Ia melihat sekitar dan mendapati dirinya masih berada di padang rumput yang sama dengan beberapa menit lalu hanya saja tidak ada satu pun orang yang diketahui oleh Putri Charlotte di sekitarnya saat ini. Selain sosok yang sedang menggendong dirinya, terdapat dua sosok berjubah hitam yang berada tidak jauh dari posisi Putri Charlotte.
"Tu...turunkan aku," kata Putri Charlotte dengan gaya informal sama seperti orang yang mengajaknya bicara.
Setelah Putri Charlotte menapakkan kakinya di atas tanah, dua sosok berjubah hitam langsung mendekati Putri Charlotte. Satu sosok berjubah laki-laki mempunyai tinggi badan yang lebih pendek dari Putri Charlotte dan sosok berjubah perempuan mempunyai tinggi badan yang lebih tinggi dari Putri Charlotte. Mengingat sosok berjubah hitam sempat diisukan berada di asrama para pegawai kerajaan Putri Charlotte langsung memasang wajah waspada.
"Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu. Tugas kami di sini adalah untuk melindungimu," kata sosok perempuan yang membuka tudung jubahnya supaya membuat Putri Charlotte tidak khawatir.
Di balik tudung jubah yang tampak misterius, terdapat seorang gadis yang hanya berumur beberapa tahun lebih tua dari Putri Charlotte. Rambutnya coklat tua sepanjang bahu dengan satu ikatan di belakang lehernya. Gadis itu menatap Putri Charlotte sambil tersenyum hingga mengeluarkan lesung pada pipinya. Parasnya yang terlihat polos membuat Putri Charlotte tidak begitu mencurigainya.
Tidak mau kalah dari rekannya, seorang anak laki-laki sebaya Putri Charlotte pun memperlihatkan wajahnya. Anak laki-laki itu berambut cepak dengan warna merah tua dan mempunyai mata besar yang terlihat antusias. Dan wajahnya yang memperlihatkan wajah anak kecil itu membuat Putri Charlotte sepenuhnya merasa tidak terancam.
"Namaku Pedro! Sepertinya kita seumuran," kata Pedro dengan suara yang bersemangat sambil tersenyum lebar hingga memamerkan giginya. "Orang yang sedang berkelahi di luar sana adalah Skyf. Dia adalah Olly!"
"Pedro, cepat buat pelindung dulu sebelum kamu banyak bicara," kata Olly menoleh ke arah rekannya yang saat ini sudah berhadapan dengan salah satu pihak oposisi yang mengincar Putri Charlotte.
Putri Charlotte menoleh dan mendapati sosok berjubah hitam yang menggendongnya tadi sedang berhadapan dengan Mors dan hanya berada beberapa ratus meter dari posisinya. Pikiran Putri Charlotte yang sempat teralihkan oleh Pedro dan Olly kini kembali panik.