Aroma kopi yang kuat telah membangunkan Putri Charlotte pada pagi hari ini. Saat membuka matanya, Putri Charlotte sempat tersentak karena tidak melihat suasana pada kamar tidurnya di kerajaan Alexandria.
“Ah… aku sedang berada di tempat orang yang sudah menolongku,” gumam Putri Charlotte sambil menggosok mata dengan tangan kanannya.
Putri Charlotte menoleh ke arah kanan dan melihat tirai yang menutup seluruh sisi ruangan. Lalu Putri Charlotte menoleh ke arah kiri dan melihat sebuah pintu putih yang berada di samping lemari. Gadis itu pun memilih arah yang kiri.
Pintu di sebelah kiri ranjang terhubung dengan kamar mandi. Terdapat sebuah shower, kloset dan meja marmer panjang dengan wastafel dan kaca besar di dinding. Sebuah tumpukkan baju, handuk dan sikat gigi sudah berada di atas meja marmer. Walaupun tempat tidur dan kamar mandinya masih tidak bisa mengimbangi kamar tidur Putri Charlotte di kerajaan Alexandria, tapi semua keperluan pribadi Putri Charlotte sudah dipersiapkan layaknya seorang tuan putri.
“Aku kira kamu akan tidur lebih lama lagi."
Sebuah suara muncul dari arah kiri setelah Putri Charlotte selesai mandi, berpakaian, lalu membuka pintu kamar.
Putri Charlotte menengok ke arah datangnya suara dan melihat seorang laki-laki berambut hitam dibelah pinggir sedang duduk di kursi tinggi di depan meja pantry. Dalam bayangan Putri Charlotte, laki-laki yang sedang dilihatnya memang sama dengan sosok yang menggendongnya saat berada di padang rumput. Tapi suasana saat ini cukup nyaman dan aman untuk membuat Putri Charlotte tidak bersikap siap siaga.
Skyf menurunkan kopi yang baru saja diteguknya dengan perlahan. Lalu Skyf beranjak dari tempatnya dan membuka kulkas. Ia mengeluarkan sebuah piring dengan sebuah sandwich yang tertutup oleh plastik, membuka plastik itu dan memasukkannya ke dalam microwave.
"Sarapan dahulu, baru kita berbicara," kata Skyf mempersilahkan Putri Charlotte mengambil tempat duduk di samping tempat duduknya. Putri Charlotte berjalan perlahan menuju pantry sambil beberapa kali menarik baju lengan panjangnya yang terasa kebesaran.
"Aku belum mau makan."
Skyf memandang Putri Charlotte sambil menaikkan alisnya. Bola mata Putri Charlotte berputar ke arah kiri untuk menghindari pandangan dari Skyf.
"Tapi perutmu mengatakan hal yang lain," kata Skyf setelah mendengar suara yang menandakan Putri Charlotte sedang kelaparan untuk kedua kalinya. Putri Charlotte langsung menunduk karena merasa malu atas suara yang dikeluarkan dari perutnya.
Microwave pun berbunyi yang menandakan makanan sudah dapat dikeluarkan. Skyf mengeluarkan piring dari dalam microwave dan memotong makanan di atasnya menjadi empat bagian. Lalu ia memakan salah satu bagiannya.
"Aku sudah mencobanya terlebih dahulu. Tidak ada racun di dalam makanan ini," kata Skyf setelah beres mengunyah roti berisi telur, selada dan saus yang sederhana.
"Te….rima kasih."
Putri Charlotte memakan sandwich yang berada di hadapannya perlahan-lahan sambil berpikir bahwa Skyf seakan bisa membaca pikirannya. Putri Charlotte merasa takjub sekaligus cukup tenang karena Skyf melakukan salah satu prosedur kerajaan seperti tadi.
"Mau minum apa? Teh, kopi, sûsu atau jus?"
"Sûsu cokelat… kalau ada," kata Putri Charlotte terdengar sedikit bersemangat. Skyf tersenyum kecil saat mendengarnya.
"Sepertinya udara seperti ini lebih pas kalau minum yang hangat." Tanpa diminta jawaban, Putri Charlotte mengangguk-angguk beberapa kali sambil mengunyah potongan sandwich keduanya.
Lagi-lagi Skyf tersenyum melihat anggukan penuh semangat dari Putri Charlotte. Senyuman itu disimpan oleh Skyf sendiri saat Putri Charlotte terlalu fokus memakan sandwich nya.
Pintu apartemen terbuka tiba-tiba dan sosok yang dikenal oleh Putri Charlotte muncul dari sana. Sosok itu mempunyai senyum lebar yang khas karena memperlihatkan kepolosan anak kecil.
"Kamu sudah bangun!"
Bahkan suara dari sosok itu pun tidak akan dilupakan oleh Putri Charlotte. Suara yang begitu bersemangat bahkan saat memperkenalkan dirinya pertama kali di arena pertarungan, tempat dan suasana yang tidak pas untuk berkenalan.
"Namamu… Pedro kan?" tanya Putri Charlotte yang mengundang anggukan dari Pedro.
"Aku habis membuang sampah karena bangun kesiangan tadi. Aku harus membereskan diri terlebih dahulu…."
Perkataan dan langkah kaki Pedro harus terhenti karena Skyf berdeham keras saat anak laki-laki itu berjalan ke arah kamar tidur Putri Charlotte.
"Ah… iya… aku akan pakai kamar mandimu ya, Skyf." Lalu Pedro berjalan ke arah sebaliknya, ke arah pintu yang terletak di seberang pintu kamar tidur Putri Charlotte.
Putri Charlotte meneguk air putih setelah selesai menelan hasil kunyahan terakhir di dalam mulutnya. Lalu Putri Charlotte mengangkat cuping cangkir yang berisi sûsu cokelat hangat untuk menemaninya melihat ke sekitar ruangan.
Bola mata Putri Charlotte bergerak naik turun saat menyusuri setiap sudut ruangan. Banyak hal tidak penting yang ingin ditanyakan oleh Putri Charlotte karena banyak benda yang tidak pernah ia lihat selama berada di kerajaan Alexandria dan tidak mengerti fungsinya sama sekali. Namun ia belum terlalu percaya dengan kedua orang dalam ruangan ini untuk lebih banyak berbicara.
Skyf memberikan ruang pada Putri Charlotte untuk membereskan sarapannya dan sedang berdiri di balkon yang berada di ujung ruangan. Setelah beres mengamati ruangan memanjang yang dipenuhi dengan dapur, meja pantry, meja makan dan meja dengan sofa mengelilinginya, pandangan Putri Charlotte kini berlabuh pada Skyf yang sedang menyeruput kopi sambil melihat pemandangan di luar. Laki-laki itu mempunyai badan yang tegap dan berisi, namun karena tinggi badannya cukup tinggi Skyf terlihat agak kurus.
Putri Charlotte menyipitkan matanya untuk melihat wajah Skyf yang yang tampak dari samping. Putri Charlotte menyimpulkan bahwa wajah laki-laki itu termasuk paling tampan di antara semua laki-laki yang dikenal oleh Putri Charlotte di kerajaan Alexandria, setelah Ayah Putri Charlotte sendiri, tentunya.
Skyf tiba-tiba memutar badan ke arah Putri Charlotte dan Putri Charlotte tersedak oleh sûsu cokelat yang diminumnya karena terkejut. Skyf hanya memasang wajah kebingungan karena tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Putri Charlotte saat itu.
"Ja..di.. apa yang mau kamu bicarakan? Dan kalian ini siapa? Kenapa melindungiku? Dan kenapa membawaku ke tempat ini?" tanya Putri Charlotte agak mendongak saat Skyf sudah berada di hadapannya.
Dalam beberapa detik Skyf memandang Putri Charlotte yang sudah memasang wajah serius. Lalu Skyf menaruh cangkir kopi di atas pisin dan duduk di bangku tinggi paling pinggir. Menyisakan dua bangku di antara dirinya dan tempat duduk Putri Charlotte.
"Ada dua hal yang kamu mungkin pertanyakan : hal yang perlu kamu ketahui dan hal yang tidak perlu kamu ketahui. Aku hanya akan menjawab yang pertama."
Putri Charlotte tidak merespon perkataan Skyf sama sekali karena berusaha memahami maksudnya namun tetap tidak mengerti. Jadi Putri Charlotte memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu.
"Kita sedang berada di kota Windhill. Aku diminta untuk melindungimu hingga kondisi kerajaan Alexandria cukup aman untuk ditempati olehmu. Aku tidak bisa mengatakan siapa yang mengutusku karena begitu kamu bertemu dengan orang yang bisa menggunakan kekuatan pikiran, informasi mengenai orang itu akan terbongkar dan mempersulit keadaan. Percaya saja bahwa orang tersebut benar-benar ingin melindungimu."
Putri Charlotte mengangguk namun pikirannya tetap berkelana untuk mencari orang yang mengutus Skyf. Apakah dari pihak kerajaan? Ataukah kerabat Ayah dan Ibu di luar kerajaan? Apakah Ayah Leslie yang menjadi sempat penasihat kerajaan paling bijaksana yang selalu dibicarakan oleh Ayah? Pertanyaan-pertanyaan Putri Charlotte dalam kepalanya terpaksa harus dihentikan karena Skyf menjentikan jari di depannya. Skyf tahu gadis di depannya sudah tidak memperhatikan perkataannya.
"Dan bagaimana kondisi mereka yang berada di area pertempuran kemarin? Apakah ada yang selamat?"
Skyf langsung menggeleng dan membuat Putri Charlotte menjadi murung.
"Tapi orang yang mereka lindungi tetap selamat. Mereka tidak akan menyesal telah mengorbankan nyawanya seperti itu," kata Skyf sambil menepuk-nepuk kepala Putri Charlotte.
"Ya… aku selalu berusaha berpikir seperti itu setelah tahu bahwa aku masih hidup," kata Putri Charlotte memaksakan diri tersenyum.
"Apakah aku bisa melanjutkan pada tahap rencana yang harus dilakukan?"
"Ya, silahkan."
"Setelah ini kamu harus menyamar menjadi warga Kota Windhill. Sesuai rencanaku, kamu akan menyamar sebagai keponakanku. Dan untuk mencegah pemikiran dari orang sekitar tentang ada perempuan yang menginap di tempatku, kamu juga akan menyamar sebagai laki-laki."
Putri Charlotte masih belum merespon perkataan Skyf selama beberapa detik. Namun ekspresi wajahnya perlahan berubah.
"Apa?? Menjadi laki-laki??"