"Sebentar… apa maksudmu aku akan menjadi laki-laki?" tanya Putri Charlotte membelalakan mata ke arah Skyf. Di saat yang sama pula Pedro keluar dari kamar Skyf dengan handuk melingkar di bahunya.
"Pedro akan membantu merubah penampilanmu," kata Skyf tenang sambil melihat ke arah Pedro yang sedang menunjuk dirinya sendiri dengan kebingungan.
"Aku tidak masalah bila berada di kota Windhill. Bahkan aku tidak masalah bila menjadi rakyat biasa. Tapi bila harus menjadi laki-laki aku keberatan."
"Tuh, kan… aku juga sudah mengatakannya…"
Belum sempat Pedro melanjutkan perkataannya Skyf sudah memotongnya.
"Apakah kamu siap untuk dipertanyakan oleh setiap orang-orang yang kamu kenal nanti : apa saja yang sudah dilakukan oleh seorang gadis tinggal bersama dengan pamannya?"
"Aku kan tinggal jawab tidak melakukan apa-apa," kata Putri Charlotte dengan nada kesal.
"Kalau ada yang sengaja membuat isu tidak baik tentangmu?"
"Siapa yang berani membuat isu seperti itu?!"
"Kalau memang ada apakah kamu tidak akan kepikiran?"
Putri Charlotte sudah membuka mulutnya untuk berdebat. Namun tidak ada kalimat yang tepat untuk membalas perkataan Skyf. Di saat isu tidak baik terjadi padanya, Putri Charlotte pasti akan terus memikirkannya. Sama halnya seperti kasus Behdad yang diisukan tidak baik oleh pihak kerajaan.
Pedro yang awalnya ingin membantu Putri Charlotte pun kini hanya bisa terdiam melihat keheningan di dalam ruangan. Perkataan terakhir Skyf sudah membuat Putri Charlotte berusaha mempertimbangkan rencana penyamaran menjadi seorang laki-laki.
"Selama ini aku pun menyamar menjadi orang lain. Jadi setelah ini tidak ada yang boleh memanggil namaku dan kamu dengan nama asli."
Karena terbawa emosi, Putri Charlotte berusaha menenangkannya dengan mengambil gelas berisi air mineral yang berada di sampingnya. Putri Charlotte mengambil nafas panjang lalu menatap Skyf kembali dengan wajah pasrah.
"Jadi namaku… akan berubah menjadi apa? Namamu juga berubah menjadi apa?"
"Namamu akan berubah menjadi Nick Halberd. Aku juga akan mempunyai nama belakang yang sama denganmu…. Namaku… Ethan Halberd."
Seketika air yang berada di dalam mulut Putri Charlotte tersembur ke luar. Putri Charlotte tidak dapat menelan minumannya karena terlalu terkejut dengan nama yang didengarnya.
"Ma… maaf!"
Skyf terdiam beberapa saat sambil memandang dua kursi di hadapannya beserta barang di sekitarnya yang sudah tergenang oleh air. Adegan di mana seorang tuan putri memuncratkan air dari mulutnya benar-benar tidak ada dalam kamus Skyf.
"Pedro, tolong bersihkan pantry ini. Sepertinya Putri Charlotte belum siap untuk penyamarannya. Beritahu aku bila kamu sudah siap," kata Skyf beranjak dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Putri Charlotte menggeleng-gelengkan kepala sendiri walaupun sudah tidak ada Skyf. Pasalnya bukan penyamaran menjadi laki-laki yang membuatnya terkejut, tapi ia baru saja mendengar kembali nama tupainya yang menghilang.
"Ethan? Aku tidak salah dengar kan?" tanya Putri Charlotte pada dirinya sendiri.
"Aku juga sering dimarahi bila mengatakan nama aslinya… tapi sulit sekali memanggilnya sebagai… Ethan," kata Pedro yang tiba-tiba menggenggam sebuah pel elektrik di tangannya.
Putri Charlotte masih mengucapkan nama Ethan berkali-kali dalam pikirannya. Tapi tetap saja sosok yang keluar dalam pikiran adalah seekor tupai, bukan sosok laki-laki dewasa.
Putri Charlotte memegang kepalanya sambil menggeleng-gelengkan kepala kembali. Sementara Pedro masih berkutat dengan barang-barang yang harus dibersihkannya.
"Oiya… ngomong-ngomong sebenarnya kamu mempunyai kekuatan magis apa? Aku melihatmu bisa mengeluarkan baja, tapi bisa mengeluarkan dinding transparan juga. Sekarang kamu bisa mengeluarkan barang aneh itu, dan kemarin kamu mengeluarkan pedang," kata Putri Charlotte dengan nada yang berintonasi naik dan turun.
"Aku menyebutnya…kekuatan mengubah dimensi! Bagaimana? Keren kan?"
Putri Charlotte mengangguk-angguk dengan takjub. Ia masih melihat alat yang dipegang oleh Pedro tapi belum tau fungsinya sama sekali.
"Jadi kamu bisa menciptakan suatu benda berdimensi?"
"Bukan, bukan. Sebenarnya aku mengubah benda, bukan menciptakan. Tapi aku bisa mengubah apapun menjadi yang aku pikirkan, seperti kancing ini," kata Pedro merogoh saku di bajunya dan puluhan kancing kecil berada di atas telapak tangannya. "Aku bisa saja mengubah cangkir Skyf menjadi alat pel. Tapi bila bentuknya berubah, aku akan dimarahi olehnya. Jadi aku harus mempersiapkan barang yang kecil dan praktis untuk aku ubah kapan pun aku mau."
"Woow! Aku baru tahu ada kekuatan seperti itu," kata Putri Charlotte bersemangat namun dibalas dengan wajah Pedro yang kebingungan.
"Tapi kekuatan seperti ini sudah ada di buku sejarah dunia magis loh! Kata Olly sih…" kata Pedro dengan menurunkan volumenya pada kalimat kedua.
"Ah… sebenarnya aku tidak suka baca buku." Putri Charlotte tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku juga tidak suka! Olly yang memberitahuku karena dia sangat suka baca. Tapi aku bisa langsung tertidur saat membaca halaman pertama."
Kesamaan frekuensi dan karakter dari Putri Charlotte dan Pedro membuat mereka berdua cukup cepat menjadi akrab. Percakapannya dengan Pedro membuat pikiran Putri Charlotte teralihkan dari kejadian di pagi hari tadi. Bahkan Putri Charlotte sudah melupakan ketidaknyamanannya saat bersama dengan orang asing.
Putri Charlotte langsung menanyakan banyak hal kepada Pedro, termasuk alat yang bisa menyerap air dan mengeluarkan suara (alat pel elektrik), cahaya yang dihasilkan dari langit-langit (lampu LED yang ditanam pada langit-langit) dan kotak tipis hitam yang digantung di dinding (televisi datar). Serta benda-benda lain yang tidak pernah dilihat oleh Putri Charlotte di dalam kerajaan Alexandria.
Pedro dengan semangatnya memberitahukan benda yang ditanyakan oleh Putri Charlotte satu per satu. Dan Pedro pun jadi mengetahui banyak hal yang tidak ada di kerajaan Alexandria.
"Terakhir kali aku datang ke kota Windhill adalah lebih dari tujuh tahun lalu. Saat itu Ayah dan Ibu masih ada. Tapi aku juga hanya mendatangi rumah yang aku kenal. Di sana tidak banyak alat secanggih ini," kata Putri Charlotte saat Pedro menyalakan televisi dan memperlihatkan ketajaman gambar bergerak di dalamnya.
"Dalam tujuh tahun banyak teknologi yang berubah, Charlotte! Oiya, kamu juga pasti akan kaget melihat ini," kata Pedro memanggil Putri Charlotte sudah seperti temannya sendiri.
Putri Charlotte membelalakkan matanya ketika melihat sebuah benda berukuran sebesar genggaman tangan di hadapannya dapat mengeluarkan gambar yang jernih seperti televisi. Pedro memperagakan beberapa gerakan pada layar dan memperlihatkan tombol telepon pada layar tersebut.
"Ini handphone jaman sekarang. Pasti tujuh tahun lalu handphone nya yang kamu tahu masih belum berwarna kan?"
Putri Charlotte menutup mulut dengan kedua tangannya sangking tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebuah handphone yang dimilikinya hanyalah digunakan untuk telepon maupun SMS. Bahkan Putri Charlotte tidak bisa memakai handphone di semua wilayah kerajaan karena cukup sulit mendapatkan sinyal. Dan sinyal telepon dalam kerajaan hanya berasal dari pemancar yang letaknya beberapa kilometer dari kerajaan Alexandria dan diperkuat oleh penyihir yang mengerti tentang elektronik.
"Skyf pasti akan memberikanmu handphone seperti ini juga. Sebelum kamu mendapatkannya, kamu bisa memakai handphone milikku dulu," kata Pedro dengan penuh semangat.
Kehebohan yang ditimbulkan oleh Putri Charlotte dan Pedro membuat Skyf keluar dari kamarnya. Saat ini Skyf seakan melihat dua anak ayam yang sedang bersemangat mencari cacing di tanah. Heboh dan berisik.
Putri Charlotte yang menyadari Skyf sudah keluar dari kamarnya langsung berhenti bertanya pada Pedro. Putri Charlotte dan Skyf berpandangan dalam beberapa saat sebelum Putri Charlotte memberanikan diri untuk menginisiasi percakapan.
"Jadi… sekarang aku bisa dipanggil sebagai Nick? Ya kan, Ethan?"