Olly menghela nafas dengan keras. Percakapannya dengan Ethan pada siang hari ini tidak mencapai pada kesimpulan yang sama.
"Lambat laun kamu harus mengatakan yang sebenarnya padanya."
"Ya… mungkin saja. Atau mungkin juga tidak."
"Hey!"
Suara Olly yang meninggi membuat Nick dan Pedro menoleh ke arah dapur bersamaan. Olly langsung mengibas-ngibaskan tangannya. Menandakan bahwa tidak terjadi apa pun yang harus diperhatikan.
"Skyf, jangan membuat gadis itu marah. Kalau marah ia sangat menyeramkan," kata Pedro melihat ke arah televisi kembali tanpa merasa berdosa.
"Pedro, kamu mengucapkan nama yang salah," bisik Nick pada teman bermain di sampingnya. Pedro baru tersadar kemudian memandang Ethan dengan senyum yang gugup.
"Dan jangan membuat Ethan marah. Karena kamu bisa tidak diberikan makan untuk malam ini," kata Olly memandang Pedro sambil sembunyi-sembunyi melirik ke arah Ethan. Hanya dengan memandang Pedro dalam diam, Ethan sudah bisa memberikan intimidasi yang tak bisa dilawan oleh Pedro.
"Maafkan aku, Ethan. Aku tidak akan mengulanginya!"
Setelah keempat orang di dalam apartemen Ethan selesai makan siang, Olly berpamit untuk pulang ke rumahnya karena harus membantu ibunya menjaga tempat makan. Pedro yang belum sepenuhnya beristirahat akibat mengeluarkan kekuatan magis yang cukup besar pada kejadian di padang rumput pagi hari ini, langsung tertidur pulas di ranjang Ethan. Sementara itu Nick kembali ke kamarnya sendiri dan bermaksud untuk beristirahat juga.
Nick sudah memandang cermin di atas wastafel selama lebih dari lima menit. Sebenarnya pada awalnya ia hanya ingin melihat penampakan dirinya setelah menyamar menjadi laki-laki. Tapi pada akhirnya Nick malah menghabiskan waktu dengan melamun sambil berdiri.
Bagaimanakah keadaan kerajaan Alexandria? Apakah Putri Alice baik-baik saja? Apakah Leslie sudah dapat menyelesaikan kerusuhan para pegawai kerajaan? Apakah pihak kerajaan tahu bahwa para pengawal berkhianat dan berusaha membunuhku?
Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di pikiran Nick dan membuat kekhawatiran yang sempat hilang kini muncul kembali. Setiap kali ia sedang sendirian, mau tidak mau Nick mengulang semua kejadian yang telah dialaminya dalam pikiran. Lalu ia akan memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi akibat kejadian tersebut.
Nick membayangkan setelah Thomas mengeluarkan sinyal bahaya ke langit, pihak kerajaan akan melihatnya dan mendatangi tempat kejadian. Dan saat pihak kerajaan datang, hanya ada puluhan badan yang tak bernyawa di sana. Sedangkan sosok Putri Charlotte tidak dapat ditemukan. Bukankah hal tersebut akan membuat pihak kerajaan menjadi gempar?
"Sampai kapan aku harus bersembunyi di sini? Walaupun Ethan dan teman-teman sepertinya dapat dipercaya, tapi tetap saja mereka bukanlah orang yang mempunyai ikatan denganku," kata Nick dalam hati.
Dan setelah ia berbicara pada dirinya sendiri, Nick mendapatkan sebuah jawaban. Ia segera keluar dari kamar mandi lalu keluar dari kamar tidur.
"Kamu bisa merusakkan pintu bila selalu membukanya seperti itu," kata Ethan saat mendengar daun pintu terbuka dengan kasar hingga mengeluarkan suara saat bertabrakan dengan dinding.
"Ah...iya… aku terbiasa membuka pintu yang sangat berat," kata Nick sambil menutup pintu yang dibukanya dengan lebih pelan. Nick melihat wajah laki-laki di hadapannya dengan seksama. Bertanya-tanya apakah Ethan dapat diganggu atau tidak.
Ethan yang merasa sedang diperhatikan melirik ke arah sofa yang kosong sebagai isyarat pada Nick untuk duduk di sana.
"Kamu tampak ingin mengatakan sesuatu," kata Ethan memulai pembicaraan.
Nick menelan ludahnya. Mempersiapkan pemikirannya yang telah membuatnya mengeluarkan aura antusias yang dapat dibaca oleh Ethan.
"Aku ingin mencari seseorang di kota ini. Kamu bisa membantuku kan?"
Ethan memandang sosok yang sedang duduk pada sofa yang tegak lurus dengan tempat duduknya saat ini. Sosok itu terlihat seperti anjing yang berantusias saat sedang meminta makanan pada majikannya. Ethan memegang dahinya dengan tangan kanannya. Berusaha menghilangkan imajinasi anehnya yang sering muncul.
"Ada seseorang yang kamu kenal di kota ini?"
"Iya. Ia mungkin sudah tiba di kota Windhill pada siang hari ini."
"Tunggu… apakah kamu bilang kata tiba?" Nick mengangguk tanpa mengetahui arah perkataan Ethan. "Berarti ia bukan berasal dari kota ini? Dia berasal dari kerajaan?"
"Ah… iya…. Dia teman baikku…"
"Tidak. Kamu tidak bisa menemuinya."
"Tapi dia sudah menolongku dan ia lari dari kerajaan Alexandria karena dituduh berkhianat."
"Jadi ia sekarang menjadi buronan? Pastinya tidak."
"Ke...napa? Kenapa aku tidak dapat menemui teman baikku sendiri?"
"Saat ini kamu bukan sedang bermain-main. Kamu menyamar menjadi keponakanku karena kamu harus bersembunyi. Dan semua orang yang akan kamu temui akan membuat identitasmu terbongkar."
"Near tidak seperti itu! Ia akan melindungiku bila terjadi sesuatu padaku."
"Lalu di manakah dia saat semua pengawalmu diserang? Siapa yang melindungimu saat itu?"
"Di...dia tidak bisa berada di sana saat itu."
"Lalu siapa yang berada di sana?"
Nick menunduk dan berusaha mencari jawaban yang bisa mengarahkan pembicaraan untuk dapat mencari Near. Namun ia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku belum berterima kasih pada kalian karena menyelamatkanku," kata Nick dengan masih menundukkan kepala.
"Kami tidak perlu terima kasih darimu. Kami hanya ingin kamu percaya dengan apa yang sudah kami rencanakan."
"Aku percaya…"
"Tapi kamu tidak perlu percaya dengan kami."
Nick mendongak dan melihat wajah Ethan tidak berubah. Pandangannya tetap tajam seakan dapat melihat pikiran orang yang sedang diajak bicara olehnya.
"Aku… tidak mengerti."
"Kamu hanya perlu percaya pada orang yang mengutusku bahwa ia benar-benar ingin melindungimu. Tapi kamu tidak perlu percaya dengan orang-orang yang kamu temui saat ini dan untuk ke depannya. Setiap kali kamu bertemu dengan seseorang, apakah orang itu adalah saudaramu sendiri ataukah teman baikmu sendiri, jangan percaya pada mereka. Pertanyakan selalu apa yang sedang mereka lakukan. Motif apa yang membuat mereka melakukan sesuatu."
Nick mendengarkan perkataan Ethan kata demi kata dengan seksama. Walaupun tidak mengerti alasannya, Nick merasa lebih tenang setelah mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Ethan. Seakan ada aliran energi yang menyelimuti jiwanya dan menenangkan keresahannya selama ini.
"Aku terpaksa mengatakan hal ini padamu karena empatimu yang terlalu besar. Kamu dengan mudah percaya pada kami bertiga dan hal itu dapat melukai dirimu sendiri. Jadi saat kamu bertemu dengan lain, tolong ingat perkataanku barusan. Jangan memberikan kepercayaan pada mereka. Kamu harus selalu waspada."
Nick memandang Ethan tanpa merespon apa-apa. Ia masih bertanya-tanya dalam hatinya mengapa kata-kata Ethan membuatnya ingin mengeluarkan air mata. Untuk seseorang yang terbiasa ditinggalkan, Nick bukan mencerna nasihat Ethan menggunakan pikirannya. Nick menangkap perhatian yang diberikan Ethan lewat perasaannya.
"Kamu sudah tidak mendengarkan?"
Nick menggeleng-gelengkan kepala. Lalu ia mengusap mata kanannya dan air mata pun jatuh dari sana. Nick menarik nafas dengan cepat yang terdengar sebagai isakan tangis. Kondisi itu membuat Ethan kebingungan.
"Hei… "
"Tidak apa-apa. Aku sungguh tidak apa-apa," kata Nick tersenyum namun masih tetap mengeluarkan air mata. "Aku… hanya merasa kesepian."
Ethan mendekatkan badannya ke arah Nick lalu menepuk kepalanya beberapa kali dengan pelan. Lalu tangan Ethan turun dari kepala Nick untuk memegang bahu Nick yang sedikit bergetar dan menepuk-nepuk bahunya juga.
"Aku tidak tahu kenapa bisa menangis di depanmu. Padahal aku tidak pernah menangis di depan orang lain."
Ethan beranjak dari tempatnya. Setengah berjongkok di depan Nick dan menggenggam kedua tangan gadis di depannya.
"Mungkin kamu merasa menangis di depan orang lain akan membuatmu merasa lemah. Tapi saat kamu menahan tangisanmu di depan orang lain, kamu sudah berjuang dengan keras. Tidak ada orang lemah yang bisa melakukannya."
Nick menangis dengan lebih keras setelah mendengar kata-kata Ethan. Di balik tangisannya, Nick masih berusaha berbicara.
"Apakah… aku terlihat lemah sekarang karena menangis seperti ini?"
"Tidak. Kamu bisa menangis seperti ini hanya di hadapanku jadi kamu masih tetap menjadi seseorang yang mempunyai hati yang kuat."