Nick akhirnya tertidur pulas di atas sofa setelah menangis tak henti selama setengah jam. Tidak hanya merasa kesepian, Nick juga mengatakan semua ketakutannya pada Ethan. Tentang bagaimana ia begitu khawatir tentang apa yang akan terjadi pada kerajaan Alexandria.
Nick menceritakan semua hal yang mengganjal dalam dirinya kepada orang yang baru ditemuinya dalam kurang satu hari. Ethan merasa nasihatnya tidak sepenuhnya didengar oleh Nick, karena pada akhirnya Nick mempercayakan ceritanya kepada Ethan. Tapi Ethan hanya bisa diam dan mendengarkan cerita di balik tangisan Nick.
Ethan memandang sosok yang terbaring di atas sofa beberapa saat sebelum ia menggendong sosok itu dan membaringkannya ke tempat yang lebih nyaman. Di atas kasur. Di kamar tidur yang sudah dipersiapkan untuk Nick. Dan tentunya Ethan hanya tinggal berteleportasi tanpa perlu membuka dan menutup pintu.
Ethan kembali duduk di bagian sofa yang sama dengan sebelum ia beranjak. Lalu melanjutkan lamunannya yang sudah dilakukan sebelum Nick keluar dari kamar dan menangis di depannya.
Perkataan Olly sebelum makan siang tadi membuat Ethan terusik. Dan karena perkataan Olly juga, nasihat yang diberikan Ethan pada Nick menjadi berbeda dari yang direncanakan.
"Tidak apa-apa bila kamu menangis di depanku. Hah… Skyf… atas dasar apa kamu mengatakan hal seperti itu padanya?" gumam Ethan mengkritik dirinya sendiri.
Apakah kamu panik saat Olly mengatakan bahwa bila ia hilang kepercayaan maka rencananya akan berantakan? Ya… kamu panik bukan karena kehilangan kepercayaan. Tapi kamu panik karena takut rencanamu berantakan. Kamu terlalu nyaman dengan kondisi yang selalu dapat dikontrol selama ini.
Ethan menghela nafas panjang setelah mencapai kesimpulan dari percakapannya dengan diri sendiri.
*****
Putri Alice terbangun dari mimpi buruknya di pagi hari. Melihat sendiri kematian orang tuanya bukanlah hal yang dapat diatasi dengan mudah. Hampir setiap hari selama lima tahun ini Putri Alice harus berjuang keluar dari mimpinya di mana ia bukan hanya melihat orang tuanya dibunuh dalam mimpi itu, tapi juga melihat sosok orang yang membunuh orang tuanya.
Ketika melihat jam di dinding, jarum pendek baru menunjuk ke arah angka lima. Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Dan yang membuat Putri Alice bangun lebih pagi dari biasanya adalah ketukan keras yang berasal dari pintu kamar. Putri Alice melihat ke arah pintu tersebut dan pintu tersebut masih tersegel oleh tanaman rambat yang diciptakan olehnya sendiri untuk berjaga-jaga.
"Tuan Putri, para petinggi mengadakan rapat dadakan karena Putri Charlotte telah menghilang," kata Glazio setelah tidak mendengar ada respon dari dalam kamar Putri Alice.
Putri Alice langsung membelalakan matanya karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia beranjak dari tempat tidur, mengendalikan tanaman rambat untuk memakaikan jaket beludru ke badannya dan membuka segel di pintu.
"Jelaskan apa saja yang Anda ketahui sepanjang perjalanan ke ruang rapat," kata Putri Alice sambil mengambil langkah di depan Glazio untuk berjalan menuju ruang rapat. Pintu kamar pun tertutup dengan kekuatan tanaman yang dimiliki oleh Putri Alice.
"Nona Leslie langsung menuju tempat yang memberikan tanda darurat pada subuh hari tadi. Saat sampai di sana, ia hanya menemukan mayat para pengawal. Namun tubuh Putri Charlotte tidak ditemukan sama sekali," kata Glazio sambil mensejajarkan langkah dengan Putri Alice.
"Apakah tidak ada pengawal yang selamat? Tidak ada pengawal yang menjadi saksi dari kejadian itu?"
"Tidak, Tuan Putri…"
"Lalu… apakah mereka sudah menemukan orang yang diduga menjadi dalang dari semua ini?"
"Sebelum saya memanggil Putri Alice ada beberapa nama yang berada pada daftar yang dicurigai."
"Nama orang itu juga ada di sana?"
"Betul, Tuan Putri. Mantan kepala pengawal Alexandria, Skyf Oleander, juga berada pada daftar orang yang dicurigai."
Putri Alice memicingkan mata dan mengepalkan tangannya. Di pagi hari yang dingin, emosi Putri Alice sudah memanas. Ia tidak bisa tenang setiap kali mendengar nama orang itu disebut.
Begitu Putri Alice duduk pada salah satu sisi pada meja bundar, rapat dibuka oleh Leslie sebagai pemimpin kerajaan sementara. Ia menjelaskan segala informasi yang ditemuinya kepada para petinggi kerajaan. Kemudian Mara Jezebeth selaku sekretaris kerajaan yang merangkap sebagai guru magis mengumumkan daftar nama yang menjadi sebagai tersangka pênculikan Putri Charlotte.
"Saya menjadikan Skyf Oleander tersangka. Saya melihat sendiri orang tersebut berada di tempat kejadian saat Ratu Josephine meninggal."
Perkataan Putri Alice membuat ruang rapat menjadi ramai. Para petinggi memandang wajah Putri Alice dengan tidak percaya.
"Putri Alice tidak mengatakannya selama ini karena masih ragu dengan identitas pembunuh ibunya, namun beliau sudah mendapatkan cukup informasi saat ini," kata Glazio menambahkan perkataan Putri Alice untuk meyakinkan semua orang yang berada di ruang rapat.
"Dan Nona Leslie… Anda seharusnya memberitahukan kepada saya sebelum berangkat menuju tempat kejadian," kata Alice memandang Leslie dengan sorot mata yang tajam.
"Betul sekali, Anda telah melepas tanggung jawab sebagai pemimpin kerajaan walaupun hanya beberapa jam saja," kata Mara Jezebeth mengundang anggukan dari beberapa petinggi kerajaan.
"Pertanyaannya adalah apakah tanggapan kalian semua yang tidak setuju saat saya memberikan tanggung jawab kerajaan sementara pada Putri Alice di hari kemarin?! Bagaimana kalian mempertanggungjawabkan pilihan kalian terhadap keselamatan Putri Charlotte?!" teriak Leslie sambil menggebrak meja kayu di depannya.
Semua orang terdiam. Termasuk Putri Alice dan Mara yang sebelumnya memberikan pendapat dengan gamblang. Putri Alice bahkan menahan nafasnya, seakan dengan menahan nafas dapat memperlambat detak jantungnya yang bekerja dengan cepat.
"Kalian selalu ingin mempertahankan kerajaan sesuai prosedur, lihatlah hasilnya sekarang!"
Sementara Leslie sengaja memancing suasana pada rapat itu, Glazio tetap berusaha memberikan pendapatnya.
"Tetap saja, Nona Leslie. Anda meninggalkan kerajaan Alexandria dan tidak memperhitungkan Putri Alice."
"Saya setuju dengan Glazio. Bagaimanapun saya adalah kakak dari Putri Charlotte. Saya berhak membuat pilihan sendiri apakah saya sendiri yang datang ke tempat kejadian dan bukan Anda, Nona Leslie!" kata Putri Alice membalas perkataan Leslie dengan volume suara yang meninggi. Wajah Putri Alice sudah memerah akibat emosi yang dikeluarkannya, terlebih lagi ia melihat orang yang dibentaknya hanya memberikan senyuman dengan tenang.
"Tentu saja saya tidak perlu mengatakannya pada kalian, karena saya tahu ada pengkhianat di antara para petinggi di sini. Seandainya saja saya memberitahu pada salah satu orang yang berada di sini, pastilah ia tidak akan tinggal diam dan menghapus jejak yang ditinggalkan di tempat kejadian."
Perkataan Leslie membuat seluruh anggota rapat menjadi riuh ramai kembali. Semua orang saling memandang satu sama lain dan tidak berhenti memberikan pendapat.
"Kami sudah membuat daftar nama tersangka yang berniat membunuh Putri Charlotte dan daftar itu lebih masuk akal daripada perkataanmu. Mana buktinya?" kata Mara dengan intonasi yang kesal.
"Percuma saja bila saya memberikan buktinya di sini. Saya hanya mengatakan yang saya ingin katakan bahwa ada pengkhianat yang ingin membunuh Putri Charlotte di antara para petinggi. Bila kalian tidak percaya, kalian bisa menyerang saya saat ini juga."
"Apakah Anda mengancam kami, Nona Leslie?"
"Siapa yang bisa menjamin bahwa bukan Anda yang berkhianat? Anda sengaja datang ke tempat kejadian sendirian untuk melenyapkan barang bukti kan?"
Sementara para petinggi banyak yang mengkritisi Leslie, Leslie hanya diam di tempat duduknya dengan tenang. Ia memejamkan mata dan menyilangkan tangan di dâda.