Sementara dua orang lain yang berada di apartemennya sedang tidur siang, Ethan lebih mudah untuk melakukan hal yang perlu dilakukan tanpa harus sembunyi-sembunyi. Setelah kejadian pagi tadi, ia belum sempat menghilangkan informasi yang dapat menjadikannya seorang tersangka kerajaan.
Ethan menggunakan kekuatan lainnya selain teleportasi. Ia menjulurkan tangan kanannya ke udara dan sebuah handphone sudah berada dalam genggamannya dalam sepersekian detik. Barang itu melayang dengan kecepatan tinggi dari jubah yang dilipat di dalam kamarnya, melewati jendela kamar dan masuk ke ruangan tempat Ethan berada dari jendela balkon.
Ethan menghapus semua informasi yang berkaitan dengan kerajaan Alexandria dalam handphonenya. Walaupun rakyat Alexandria tidak secanggih warga kota Windhill, tetap saja Ethan harus waspada bila handphone nya jatuh ke tangan yang salah.
Foto terakhir yang dilihatnya adalah seorang gadis berambut pirang ikal panjang dan sedang memakai gaun putih yang cantik. Ia adalah salah satu putri dari anak kembar kerajaan Alexandria. Dan foto tersebut pun harus dihapus oleh Ethan.
Ethan menyandarkan diri pada sandaran sofa. Lalu ia menutup matanya. Satu per satu kejadian yang mengganjal dalam pikirannya terlintas begitu saja saat matanya terpejam.
Bila dapat memilih, Ethan ingin kembali pada momen di mana ia belum mengetahui segala ancaman yang berada di kerajaan Alexandria. Saat itu Ethan sudah berencana untuk memisahkan diri dengan kerajaan Alexandria. Tepat setelah ia menjalankan tugas terakhirnya yaitu menjaga mendiang Ratu yang menjabat dua generasi sebelum ini, yang berarti adalah nenek dari Putri Charlotte dan Putri Alice.
Selama menjaga mendiang Ratu, Skyf Oleander tidak perlu menyamar menjadi orang lain di kota Windhill. Kerajaan Alexandria saat itu juga masih dipandang sebagai sebuah kerajaan makmur yang peduli terhadap rakyat sekitar.
Desa Windhill yang saat itu masih berada di bawah pemerintahan kerajaan Alexandria dapat berkembang pesat akibat sokongan dari kerajaan. Di Desa Windhill tidak ada yang tidak mengenal sosok Ratu yang bijaksana dan penuh belas kasih yang selalu bepergian dengan seorang pengawal pribadi yang merangkap sebagai kepala pengawal kerajaan.
Setelah Ratu memberikan tahta kepada anaknya, yaitu Ayah dari Putri Charlotte dan Putri Alice, Skyf mengundurkan diri sebagai kepala pengawal kerajaan. Setelah itu Skyf hanya bertugas sebagai pengawal pribadi Ratu dan tetap menemaninya hingga Ratu menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak hanya mempunyai Skyf sebagai pengawal pribadinya, mendiang Ratu juga sangat memanjakan Skyf. Apalagi Skyf memang dikenal oleh seluruh pihak kerajaan sebagai seseorang yang berwajah awet muda.
Dua generasi bukanlah waktu yang sebentar sehingga generasi saat ini tidak banyak orang mengenal Skyf sebagai orang yang pernah berjasa di balik kepemimpinan seorang Ratu. Bahkan setelah ia mengundurkan diri dari kepala pengawal kerajaan, keberadaan Skyf tidak pernah terawasi oleh pihak kerajaan.
Hidup Skyf yang awalnya tenang kini menjadi lebih bergejolak setelah ia diminta kembali untuk menjaga keturunan terakhir dari keluarga Alexandria. Dengan ikut campur melawan pengkhianat kerajaan, Skyf sudah mengetahui bahwa dirinya menjadi salah satu daftar tersangka atas hilangnya Putri Charlotte. Bahkan ia pun sudah dapat memprediksi bahwa Putri Alice akan ikut mempermasalahkannya. Bagaimanapun, Putri Alice dan dirinya pernah bertemu pada momen yang membuat Putri Alice tidak dapat memaafkannya.
Ethan mengambil nafas panjang. Namun saat ia mau menghembuskannya dengan perlahan, suara berisik di sampingnya mau tidak mau membuatnya membuka mata terlebih dahulu. Meditasi pernafasan yang katanya membuat orang lebih tenang tidak akan membuat Ethan lebih tenang bila suara Pedro yang cempreng terus mengganggu telinganya.
"Nick di mana? Sedang tidur? Kamu tidak tidur di dalam saja, Skai….. eh Ethan?" tanya Pedro yang hampir saja menyebutkan nama asli dari Ethan kembali.
Ethan melirik ke arah Pedro dengan kesal. Namun Pedro yang terlihat setengah bangun setengah tidur hanya menggosok-gosokkan tangan ke mata sambil menguap berkali-kali.
"Berapa lama kamu tersadar dari tidurmu? Lima detik?" tanya Ethan sambil melihat ke arah jam tangan di tangan kirinya.
"Lima…. Detik…. Eh, Iya! Aku sudah sadar sekarang!" teriak Pedro langsung tersadar begitu Ethan mulai menghitung mundur dari angka lima.
"Jadi sudah bisa mendengar perkataanku?"
Pedro mengangguk dengan bola mata yang membesar. Takut dengan konsekuensinya di saat ia tidak mendengarkan Ethan dengan seksama.
"Aku akan pergi sampai malam. Bila terjadi sesuatu yang mencurigakan kamu harus memastikan Nick tidak terluka lalu hubungi aku secepatnya. Ok?"
Pedro mengatupkan kedua bibirnya ke dalam untuk menahan dirinya sendiri berbicara tidak perlu. Lalu ia mengangguk berkali-kali.
"Kamu bisa memanaskan masakan siap saji dari kulkas. Jangan lupa siapkan juga untuk Nick. Di malam hari siapkan juga s**u cokelat panas untuknya," kata Ethan masih melihat Pedro dengan pandangan tajam.
"Aku… boleh mengajaknya bermain lagi?"
"Terserah. Asal jangan membiarkannya keluar dari apartemen ini. Aku belum membuatkan kartu identitas untuknya. Ada pertanyaan lagi?"
Pedro menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ethan beranjak dari tempat duduknya, menepuk bahu Pedro dan bersiap-siap untuk pergi.
Setelah menutup pintu ruang apartemennya, Ethan berjalan di sepanjang koridor lantai 39 yang sepi. Tempat tinggalnya saat ini mengharuskan Ethan berperilaku sebagai manusia biasa dan bukan sebagai orang yang dapat mengeluarkan kekuatan magis. Jadi Ethan harus mengandalkan kaki untuk berpindah tempat karena teleportasi adalah salah satu kekuatan yang harus ia lakukan dengan penuh pertimbangan.
Ethan keluar dari gedung apartemen dan berjalan beberapa blok dari sana. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit sebagai tempat tinggal tergantikan oleh gedung-gedung yang mempunyai maksimal empat lantai.
Mobil-mobil melintas di sepanjang jalan pada malam hari di pusat kota Windhill. Sedangkan orang-orang menciptakan arus sendiri di atas trotoar. Di samping kiri dan kanan arus mobil yang tak pernah sepi.
Di setiap perempatan jalan hampir selalu terdapat kumpulan orang yang membuat barisan sejajar untuk menunggu lampu lalu lintas di hadapan mereka berganti warna dari merah menjadi hijau. Dan saat lampu berwarna hijau, barisan manusia tersebut melintas di depan mobil-mobil yang berhenti.
Setiap orang yang berada di luar gedung mempunyai tujuannya masing-masing. Ada yang sedang sekedar berjalan-jalan bersama teman atau keluarganya. Ada yang memang hidup dan bekerja di sepanjang trotoar, entah sebagai pedagang ataupun penyanyi jalanan. Dan banyak orang yang hanya sekedar melewati jalanan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menyeberangi jalan dan melintas dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti yang dilakukan Ethan saat ini.
Ethan berjalan di antara arus manusia seakan-akan ia sama sekali tidak berbeda dari orang-orang disekitarnya. Tidak ada yang bisa membedakan apakah salah satu dari kumpulan manusia di salah satu bagian Kota Windhill adalah penyihir atau bukan. Tidak ada yang mengenal Ethan sebagai orang yang dapat menggunakan kekuatan magis selama Ethan berjalan.
Saat sudah berada di depan gedung yang mempunyai tiga lantai, Ethan memperlambat langkahnya. Kusen jendela berwarna putih dan lampu gantung di sepanjang jendelanya memberikan warna pada batu bata merah yang menopang gedung itu. Saat Ethan melihat ke arah dalam dari jendela, sofa demi sofa sudah dipenuhi oleh beberapa pêlanggan. Kebanyakan pêlanggan yang masuk ke dalam gedung itu memilih tempat di dalam ruangan karena cuaca cukup dingin bila berada di luar terlalu lama. Ethan masuk gedung dan langsung disapa oleh orang sekitarnya.
"Hei, Ethan! Kamu datang terlalu pagi untuk shift malam. Temani kami minum dahulu," kata seorang laki-laki berperawakan besar dan berkulit hitam yang sedang duduk di sofa. Orang itu berada di antara kelima temannya yang juga mengenal Ethan.
"Tidak, terima kasih. Aku perlu menemui Keanu sekarang," kata Ethan mengibaskan tangan di udara sebagai tanda untuk menolak ajakan salah satu pêlanggan bar.
Ethan berjalan mendekati meja bar yang ada di pojok ruangan. Seorang bartender yang memakai kemeja putih melirik ke arah Ethan sebentar lalu menuangkan minuman beralkohol ke dalam sebuah gelas kecil yang sudah berisi es batu.
"Keanu sedang berada di ruangannya," kata si bartender tanpa melihat ke arah Ethan. Bartender itu sedang melayani seorang pêlanggan di depannya.
"Thanks," jawab Ethan singkat sambil berjalan ke samping meja bar. Melewati sebuah pintu yang selalu dibiarkan terbuka saat bar beroperasi.