Pada lantai dua bar terdapat beberapa pintu di satu sisi koridor dan jendela-jendela yang mempunyai motif sama dengan lantai satu berada di sisi lain koridor. Ada beberapa pintu yang dikhususkan untuk karyawan dan ada satu pintu di ujung koridor yang biasa ditempati oleh pemilik bar, yaitu Keanu. Ethan berdiri di depan pintu ruangan Keanu lalu mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali.
"Ya, masuklah." Terdengar suara berat dari dalam ruangan yang diketuk oleh Ethan.
Ethan membuka pintu dan terlihat sebuah ruangan memanjang sebesar lima belas meter persegi. Di dekat pintu terdapat meja yang dipenuhi dengan buku dan dokumen yang berantakan. Sedangkan sisi lain yang tampak lebih rapi dipenuhi oleh pajangan wine pada beberapa rak kayu. Di antara rak-rak itu terdapat dua buah sofa dengan meja bundar kecil.
Ethan memilih untuk berjalan ke arah meja yang berantakan. Mengamati seseorang yang sedang sibuk mencari sesuatu di balik meja tersebut.
"Kamu kehilangan barang lagi, Keanu?" tanya Ethan sambil melirik orang yang sedang berjongkok dan meja yang berantakan.
"Aku tidak dapat menemukan kunci mobilku. Cucuku akan datang meminjam mobil sebentar lagi," kata Keanu yang sedang sibuk mengeluarkan barang dari laci ke atas meja.
Sekali lagi Ethan melirik meja yang berantakan. Ia lebih mencurigai kunci yang dicari berada di atas meja dibandingkan pada tempat yang sedang dibongkar oleh Keanu.
Setelah meyakinkan diri bahwa di sekitar ruangan itu hanya ada dirinya dan Keanu, Ethan merapikan seluruh dokumen dan buku di atas meja dengan sekali jentikan. Selain kertas-kertas dan buku-buku yang sudah tersusun menjadi masing-masing satu tumpukkan, terlihat sebuah kunci mobil hitam yang terhubung dengan gantungan beruang putih.
"Sepertinya beruang itu sudah menunggumu di atas meja."
Keanu yang tersadar dengan perkataan Ethan langsung berdiri dengan susah payah. Ia menahan pinggangnya yang agak sakit. Namun wajah Keanu yang kesakitan berubah menjadi ceria di balik kumis dan jenggot putihnya saat melihat barang yang ia cari-cari selama setengah jam.
"Hahahaha…. Kamu selalu datang pada saat yang tepat, Ethan!"
Suara tawa dari laki-laki yang sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun itu memenuhi ruangan dengan suasana yang menghangatkan. Ethan hanya tersenyum saat Keanu menepuk-nepuk bahunya dan berjalan ke arah sofa di bagian ruangannya yang lain.
"Kamu harus mempekerjakan seorang sekretaris, Keanu," kata Ethan berjalan menyusul Keanu untuk duduk di sofa.
"Masih belum perlu. Lagipula aku masih punya kamu…." Suara berat Keanu terhenti dan memandang Ethan yang tampak serius. "Sudah waktunya kah?"
"Belum. Tapi orangnya sudah berada denganku."
Keanu mengangguk-angguk setelah mendengar perkataan Ethan. Wajahnya yang ceria kini berubah serius mengikuti lawan bicaranya. Ia beranjak dari tempatnya dan mengambil salah satu botol wine dari rak kemudian menuangkannya pada gelas kaca yang ditelungkupkan di atas meja bulat.
"Thanks," kata Ethan mengambil gelas yang berisi wine dan mencicipinya. Sementara itu Keanu menuangkannya juga untuk dirinya sendiri.
"Kamu datang pada hari cutimu pasti ada sesuatu yang serius yang ingin kamu katakan."
"Iya. Aku ingin memperkerjakannya di sini. Ternyata aku masih terlalu takut bila terlalu sering melepasnya sendirian."
"Bukankah ada bocah kecil itu yang menjaganya? Bocah itu tinggal di tempatmu juga kan?"
"Aku lebih khawatir dengan pemikirannya yang tidak biasa. Ia bahkan begitu mudahnya percaya pada orang yang baru ditemuinya kurang dari satu malam." Ethan meneguk wine lalu memandang ruang kosong di depannya beberapa saat. Mengingat kembali Nick yang begitu mudah menangis di depannya tadi siang.
"Apakah ia tahu bahwa identitas lainmu?" Pertanyaan Keanu yang sama dengan pertanyaan Olly langsung dijawab oleh Ethan dengan gelengan kepala.
"Tidak mungkin ia tahu."
"Pikirannya mungkin tidak. Tapi intuisinya mungkin mengatakan hal yang berbeda."
Ethan menoleh ke samping dan melihat Keanu sedang menepuk-nepuk dadanya. Mengisyaratkan ada sesuatu dalam badan seseorang yang bukan berasal dari pikiran yang bernama intuisi.
"Haha… mungkin saja. Intuisi untuk membuatnya bertahan hidup?" kata Ethan yang sudah mendapatkan secercah jawaban atas tindakan Nick karena perkataan Keanu. Sisa seperempat wine pada gelas kaca dihabiskan Ethan dalam sekali teguk.
Sementara Keanu menuangkan kembali wine ke dalam gelas Ethan dan gelasnya sendiri, terdengar suara langkah kaki yang berisik dari ujung koridor lantai dua. Semakin lama langkah kaki itu menjadi semakin terdengar.
"Dia bisa bekerja di sini kapan saja. Sebelumnya pertemukan saja ia denganku sekali," kata Keanu cepat-cepat memberikan solusi atas pemikiran Ethan sebelum percakapan mereka terganggu.
"Thanks, Keanu."
"Aku akan selalu bantu apapun yang bisa kulakukan untuk teman lamaku."
Pintu ruangan Keanu terbuka untuk kedua kalinya, namun kali ini tanpa suara ketukan pintu. Seorang perempuan berumur seperempat abad sudah berada di ambang pintu dengan nafas tersengal-sengal. Matanya memandang Keanu dan Ethan secara bergiliran.
"Hei, Ethan! Kakek, di mana kuncinya?" sapa perempuan itu dengan singkat pada Ethan dengan wajah datar.
"Di meja…. Reika, hati-hati…."
Belum sempat Keanu melanjutkan nasihatnya, cucunya, Reika sudah keluar dan menutup pintu ruangan yang diakhiri dengan suara bantingan. Keanu yang agak terkejut mendengar suara terlalu keras langsung menghela nafas panjang.
"Tidak aneh kalau dia masih belum punya pasangan," kata Keanu masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang akibat bantingan pintu dari cucunya.
"Hmpft… semangatnya bukan menurun dari orang lain," kata Ethan tersenyum sambil melirik sosok yang sudah tua di sampingnya.
Keanu beranjak dari tempatnya. Berusaha mengelak saat dikatakan mempunyai semangat yang sama dengan Reika. Walaupun begitu Ethan dapat melihat bahwa Keanu setuju dengan pendapatnya karena Keanu mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah… seperti kataku, kamu bisa membawanya kapan saja padaku. Sekalian aku bisa melihat putri dari kerajaan Alexandria saat ini dengan mata kepalaku sendiri."
"Namanya Nick Halberd. Ia akan menjadi keponakanku, Keanu."
Keanu yang sedang berjalan ke arah mejanya tiba-tiba menoleh ke belakang dengan wajah penuh tanda tanya. Memandangi temannya yang masih duduk di sofa.
"Membuatnya menjadi laki-laki? Wow… bisa meyakinkan seorang tuan putri untuk menyamar menjadi seorang laki-laki. Itu bukan hal yang biasa." Lagi-lagi keraguan yang sempat dikatakan oleh Olly pada Ethan terulang kembali pada perkataan Keanu.
"Aku sudah mengatakan bahwa pemikirannya tidak biasa. Walaupun agak menyusahkan, kelemahannya bisa dimanfaatkan."
"Perempuan itu bila sudah menyangkut perasaan…. Bisa mempunyai intuisi yang kuat untuk sebuah kebohongan. Berhati-hatilah."
"Aku tidak berbohong. Hanya tidak mengungkapkan yang sebenarnya."
"Lalu bila pada saatnya tiba apakah kamu akan mengatakan semuanya padanya?"
"Aku hanya perlu menjaganya supaya saat itu tidak pernah tiba."
Keanu tertawa sambil tetap memperhatikan wajah Ethan dari mejanya. Ethan tahu persis perkataan yang akan dikatakan oleh Keanu setelah mendengar tawa yang tidak asing. Ethan menghela nafas panjang dan wajahnya sudah berubah menjadi malas.
"Kamu terlalu percaya diri dengan rencanamu karena kekuatanmu yang sangat hebat. Berhati-hatilah."
"Aku tidak… ah sudahlah…"
"Kamu belum pernah jatuh kembali setelah sekian lama, Skyf… mungkin sekarang saatnya."
Ethan terdiam mendengar perkataan Keanu, terlebih saat nama aslinya disebut. Seakan Keanu benar-benar ingin mengingatkan saat di mana Ethan tidak berdaya karena suatu hal tersebut.
Kejatuhan yang dialami oleh Ethan pada masa lalu adalah hal yang sangat menyakitkan dan tidak terlupakan. Bahkan walaupun sudah berlangsung lama, kata-kata Keanu masih dapat membuka luka lama yang selalu ditutup rapat oleh Ethan.