Nick langsung masuk ke dalam kamar mandi ketika Ethan mengajaknya pergi ke luar. Saat melihat dirinya sendiri di cermin, Nick kebingungan sendiri. Rambutnya sudah terlihat rapi bahkan tanpa disisir. Wajahnya tidak perlu ditambahkan bedak atau make up lainnya karena penampilannya saat ini adalah sebagai laki-laki. Dan busana yang dipakainya saat ini hanyalah pakaian kebesaran dari Olly.
Nick sedang berpikir bahwa bersiap-siap pergi ke luar gedung apartemen ternyata hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja, tidak seperti saat di kerajaan Alexandria. Saat berada di istana Alexandria para pelayan bersikeras untuk memakaikan pakaian terbaik untuk Putri Charlotte. Bila pada hari itu Putri Charlotte diharuskan memakai gaun, waktu yang dibutuhkan dari awal berpakaian hingga siap keluar kamar adalah tidak kurang dari setengah jam.
"Apakah aku dapat pergi dengan penampilan seperti ini?" tanya Nick setelah keluar kamar dengan wajah kebingungan.
"Apalagi yang harus kau siapkan?" tanya Ethan balik. Ethan masih berdiri di tempat yang sama yaitu di depan pintu kulkas.
Nick masih melihat ke arah pakaian yang dikenakannya sepanjang ia melangkah ke arah Ethan karena ragu bahwa penampilannya sudah cukup layak untuk bepergian ke luar. Dan saat Nick melewati meja pantry dan berbelok, ia tidak sengaja menginjak sesuatu. Saat melihat ke arah bawah, sepasang sepatu kets berwarna biru muda berada persis di bawah kakinya. Lalu Ethan memberikan kaus kaki putih yang masih terbungkus plastik pada Nick.
"Aku bukan orang yang mengerti fashion jaman sekarang. Tapi setidaknya aku harus membelikanmu dulu alas kaki yang sesuai. Besok pergilah dengan Olive untuk membeli pakaian dan kebutuhan lainnya."
Nick sempat bingung dengan nama yang disebutkan oleh Ethan. Namun hanya ada beberapa nama yang ia tahu selama mengenal Ethan, jadi pastilah orang yang dimaksudkan Ethan adalah Olly.
Setelah pintu kamar apartemen Ethan yang mempunyai nomor 3903 tertutup, Nick dan Ethan berjalan berdampingan menyusuri koridor lantai 39. Mereka berdua tidak berbicara satu sama lain. Nick menjadi pendiam saat hanya ada dirinya dan Ethan karena ia teringat kembali adegan menangis di depan Ethan tadi siang.
Merasa canggung dengan keheningan yang terjadi, Nick berusaha memikirkan pertanyaan demi pertanyaan dalam kepalanya. Setelah memilih salah satu pertanyaan, Nick menjadi ragu kemudian menghapus pertanyaan itu dalam benaknya. Berkali-kali Nick sudah membuka mulutnya untuk bertanya, namun tidak ada suara yang keluar. Akhirnya Nick dan Ethan sampai di tengah koridor tanpa ada yang membuka percakapan sama sekali. Ethan menekan tombol di samping lift dan satu dari tiga lift yang berjajar pun langsung terbuka.
"Bangunan ini tinggi sekali," kata Nick membelalakan mata begitu melihat angka 39 pada layar yang berada di dalam lift. Sebuah inisiasi percakapan yang terlintas pada pikiran Nick dengan spontan. Jauh lebih mudah terucapkan dibandingkan pertanyaan yang telah disusun oleh Nick sebelumnya.
"Saat ada orang lain di sekitarmu, bersikaplah biasa saat kamu terkejut melihat sesuatu. Wajahmu yang kebingungan akan menarik perhatian orang-orang."
Perkataan Ethan membuat Nick langsung terdiam kembali. Bibir Nick meruncing dan iris matanya berputar hingga ke ujung mata. Ia melirik ke samping pada sosok yang mempunyai tinggi badan hampir satu kepala lebih tinggi darinya. Tidak seperti dirinya, Nick melihat wajah Ethan tampak dingin dan tidak tersentuh.
Merasa ada sosok yang memperhatikan dirinya, Ethan menunduk untuk melihat sosok di sampingnya. Nick langsung melihat ke arah depan kembali. Sambil berdeham, Nick menegakkan badan dan melihat ke arah depan dan langsung berpura-pura menjadi orang yang dingin. Ethan tidak bisa menahan senyumannya melihat tingkah Nick yang menggemaskan itu.
Nick dan Ethan keluar dari lift saat layar menunjukkan tulisan B3. Tidak jauh dari pintu lift di dalam basement sebuah city car berwarna hitam berbunyi saat Ethan menekan tombol pada kuncinya. Melihat Nick yang masih terdiam di samping mobil, Ethan berjalan ke sebelah kanan mobil dan membukakan pintu untuk Nick.
"A...ku hanya tidak tahu yang mana mobilmu. Aku bisa membukanya sendiri lain kali," kata Nick berusaha terlihat mandiri lalu masuk ke dalam mobil Ethan.
"Aku tahu kamu seorang tuan putri yang mandiri," kata Ethan setelah masuk dari sisi kiri mobil dan menutup pintu. "Tapi aku juga mengerti masih banyak yang tidak kamu ketahui sehingga butuh bantuan dari orang lain."
Ethan mendekatkan badannya ke arah Nick, menarik safety belt dari samping mobil, kemudian menariknya hingga lempengan besi masuk pada sebuah penjepit di samping jok. Melihat tindakan Ethan, Nick dapat merasakan kehangatan yang sempat dirasakannya saat berdua bersama Ethan. Nick masih tidak mengerti dari mana kehangatan itu muncul, namun ia masih dapat mengingat jelas bagaimana kehangatan itu membuatnya perasaannya tenang.
Nick terdiam sambil terkadang melirik laki-laki yang sedang mengemudi di sampingnya. Apabila orang yang berada di sampingnya bukan Ethan, mungkin Nick tidak akan merasa tenang seperti ini. Bila ia berada pada kondisi waspada, Nick akan mempertanyakan banyak hal untuk membuat dirinya teralihkan dari rasa tidak tenang. Tapi kali ini berbeda. Ia menikmati suara mobil yang berderu dengan pelan. Ia menikmati semburan angin yang dihasilkan dari AC mobil. Bahkan ia menikmati detik demi detik keheningan yang tercipta di antara dirinya dan Ethan.
Mobil keluar dari gedung dan memasuki jalan raya. Nick memandang ke luar jendela dan menikmati pemandangan cahaya-cahaya yang terpancar di malam hari. Suasana kota Windhill yang modern membuat Nick merasa asing sekaligus bersemangat. Betapa senangnya Nick saat menyadari bahwa ia adalah salah satu dari penduduk Kota Windhill saat ini. Ia bukanlah seorang Tuan Putri dari Kerajaan Alexandria. Ia bukanlah seseorang yang mempunyai beban berat menanggung darah dari keluarga Alexandria.
"Apakah aku boleh membuka jendelanya?"
Ethan menurunkan jendela di sisi kanan dari tombol di sampingnya. Angin malam Kota Windhill langsung menyapu wajah Nick yang setengah menjulurkan kepalanya ke luar. Apakah menjadi rakyat jelata bisa membuat wajahnya sebahagia itu? tanya Ethan dalam hati sambil mendengus melihat tingkah gadis di sampingnya.
"Hati-hati, kepala dan tanganmu bisa terantuk kendaraan lain."
Nick langsung memasukkan kepala dan tangannya kembali ke dalam mobil setelah mendengar perkataan Ethan. Ia masih menikmati angin yang berhembus ke dalam mobil dari kaca jendela yang terbuka setengahnya.
"Kamu sangat menikmati udara kebebasan ya?"
Nick semakin bersemangat mendengar perkataan Ethan. Bola matanya membesar seiring mulutnya yang juga terbuka dengan lebar.
"Udara kebebasan! Betul sekali!"
Melihat Nick yang masih begitu menikmati pemandangan malam hari ini, Ethan tidak tega untuk mengingatkan Nick supaya tidak memperlihatkan keterkejutannya ini kepada orang lain. Alih-alih berkomentar, Ethan hanya menepuk-nepuk kepala Nick lalu melanjutkan konsentrasinya untuk menyetir.
Sekitar setengah jam lebih Ethan dan Nick berkendara, akhirnya mobil pun berhenti pada salah satu sisi jalan. Tidak ada gedung berlantai empat, apalagi gedung-gedung pencakar seperti apartemen Ethan. Di kiri dan kanan jalan hanya ada beberapa rumah yang tidak mempunyai penerangan yang cukup sehingga memperlihatkan sebuah jalan yang sepertinya tidak berpenghuni.
"Aku harus mengingatkanmu lagi. Saat keluar dari mobil ini, bersikaplah seakan kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan. Kamu hanya perlu diam dan aku yang akan membereskan semuanya," kata Ethan dengan wajah serius sambil melepaskan safety belt pada tempat duduknya dan tempat duduk Nick.
"Oke. Aku hanya perlu diam kan?"
Nick mengangguk dan memberikan tanda "ok" dari telunjuk dan jempolnya yang dieratkan. Lalu Nick dan Ethan turun dari mobil dan berjalan berdampingan pada jalan yang gelap.