Setelah mobil Ethan diparkirkan pada jalan yang cukup untuk dua mobil berdampingan, Nick dan Ethan turun dari mobil dan harus berjalan menyusuri jalan kecil yang berada di antara dua rumah. Selain penerangan di jalan semakin minim, tampaknya tak ada seorang pun yang melewati gâng kecil yang tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor sekalipun.
Nick dan Ethan berjalan melewati sekitar sepuluh rumah kemudian berhenti pada sebuah bangunan yang mirip bengkel motor dengan dinding yang terbuat dari seng. Pagar yang membatasi antar rumah tampak sudah berkarat dan dilingkari oleh tanaman rambat. Ethan hanya tinggal mendorong pagar tersebut dan jalan terbuka untuk masuk ke dalam rumah. Tujuan pertama Ethan bukanlah pintu yang pertama kali ia lihat, namun pada sebuah bangunan kecil yang berada di samping "bengkel motor".
"Tok. Tok. Tok."
"Jay, keluarlah."
Tidak perlu waktu lama muncul seorang laki-laki dengan gaya fesyen gotik dari pintu kayu yang terbuka. Pakaian laki-laki itu serba hitam dengan rambut bergaya mohawk. Eyeliner hitam yang mengelilingi kedua matanya memperlihatkan pandangan yang mengerikan. Namun setelah melihat Ethan, sosok yang dipanggil Jay langsung tersenyum lebar hingga seluruh giginya terlihat.
"Ethan Halberd! Sebentar, aku akan membukakan studio untukmu."
Ethan berdiri di luar rumah Jay dan melihat kondisi Nick yang berada di sampingnya. Nick setengah tersenyum sambil melipat kedua bibirnya ke dalam. Seakan mau memberi tahu pada Ethan bahwa dirinya masih ingat untuk tidak berbicara apa pun.
Sementara dari dalam rumah terdengar suara barang-barang terjatuh dan menimbulkan efek berisik yang tak kunjung berhenti. Entah suara yang berasal dari barang-barang yang sengaja dilemparkan ke lantai. Ataupun suara logam yang saling terjatuh dan menggelinding di lantai hingga menabrak tembok. Setelah kehebohan yang terjadi di rumahnya sendiri, Jay keluar sambil membawa seonggok kunci di tangan dan sebuah kamera tergantung di lehernya.
Jay tersenyum lebar kembali. Namun kali ini pandangannya mengarah pada sosok asing di samping Ethan. Jay mengamati Nick dari ujung rambut sampe ujung kaki.
"Waktuku tidak banyak," kata Ethan melihat adegan saling lihat itu dengan risih lalu berdiri di antara Nick dan Jay. Menghalangi pandangan mereka berdua dan mengisyaratkan Jay untuk beranjak secepatnya.
"Wow, itu keponakanmu? Manis sekali ya."
Ethan melirik Jay dengan pandangan sinis namun orang yang dilirik tidak merasa sama sekali. Bahkan Jay malah melingkarkan tangannya pada Ethan dan membuat orang yang digandeng menjadi semakin risih. Nick melihat pemandangan aneh itu dari belakang punggung Ethan dan tidak berusaha mensejajarkan langkah dengan kedua orang di depannya.
"Jangan macam-macam dengannya, Jay," kata Ethan dengan intonasi mengancam.
"Berarti aku boleh macam-macam denganmu saja?"
Ethan langsung buru-buru melepaskan tangan Jay. Badannya bergidik karena geli dengan perkataan barusan.
"Cepat bukakan saja pintunya."
Jay masih berkutat untuk membuka gembok pada pintu bangunan yang mirip bengkel motor. Ia berusaha membuka gembok dengan satu per satu kunci di tangannya tapi sudah lima menit berlalu dan belum terbuka juga. Ethan memakai waktu itu untuk menarik Nick supaya mereka berdua sedikit menjauh dari tempat Jay.
"Kamu berhati-hatilah dengannya."
"Tapi dia tampak ramah."
"Justru itu. Dia terlalu ramah untuk laki-laki yang masuk ke dalam tipenya."
"Oh berarti aku tenang saja…" Nick belum sempat melanjutkan perkataannya karena tersadar sesuatu. Ia membalas pandangan tajam dari Ethan dengan senyuman lebar. Mengakui bahwa ia hampir saja keceplosan bicara bahwa dirinya seorang perempuan.
Suara besi yang saling beradu terdengar dari tempat Jay berada. Ethan langsung berjalan mengikuti langkah Jay, disusul Nick yang melipat bibirnya kembali supaya tidak bicara setelah ini.
Jay menekan saklar ke bawah dan terlihat sebuah ruangan yang besarnya kira-kira setengah dari lapangan basket. Setengah dari ruangan itu dipenuhi oleh rak-rak dan barang yang berserakan di lantai. Jay melangkahkan kaki ke wilayah yang paling rapi di ruangan itu, yaitu tempat yang dinamakan oleh Jay sebagai studio.
Sebuah latar belakang berwarna putih menutupi sebagian kecil dinding seng. Di depan latar tersebut ada satu bangku dan jauh di depannya terdapat tripod untuk kamera, payung dan lampu sebagai alat pelengkap fotografi. Nick cukup terkesima melihat bagian ruangan yang disebut studio itu. Namun wajahnya tetap terlihat datar. Ia mencoba menahan ekspresinya dengan menahan mulutnya untuk tidak bergerak.
"Sweet boy, kamu bisa pilih kemeja yang tergantung di sana," kata Jay sambil mengatur letak kamera pada tripod dan menunjuk berbagai ukuran kemeja putih yang tergantung pada tiang besi.
"Namanya Nick."
"Ok, Nick my sweet boy. Setelah kamu pakai, kamu bisa duduk di sana.
Ethan yang sudah pasrah dengan tingkah Jay hanya bisa memberikan tanda pada Nick untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Ia tidak berniat untuk menambahkan komentar apapun lagi ke dalam percakapannya dengan Jay. Nick mendekati tempat duduk di depan latar belakang putih sambil memakai kemeja putih yang telah ia pilih. Ia sudah siap untuk difoto.
Setelah selesai memotret, Jay mengeluarkan SD Card dari kameranya lalu menghampiri meja komputer di pojok ruangan. Terlepas dari perkataan Jay yang sangat spontan, Jay tidak banyak berbicara saat melakukan keahliannya. Ia memainkan tangan kiri di atas keyboard dan tangan kanan di atas mouse dengan kecepatan tinggi. Di layar komputer, Nick dan Ethan bisa melihat kegiatan tampilan pada layar berganti-ganti terus menerus.
Identitas dan Nick sudah tertera di dalam sebuah desain kartu pada layar monitor. Serangkaian data sudah terlebih dahulu disalin oleh Jay dari email yang diberikan oleh Ethan. Ethan sudah mengatur semuanya bahkan sebelum Nick tiba di Kota Windhill.
"Tinggal pengambilan sidik jari," kata Jay menunjuk pada sebuah alat dengan permukaan kaca di bagian atasnya.
Melihat Nick yang terdiam karena tidak mengerti apa yang harus ia lakukan, Ethan langsung beranjak dari tempatnya untuk mengarahkan Nick. Namun Ethan kalah cepat karena tangan Jay yang sudah memegang tangan Nick dan mengarahkannya pada alat scanner. Nick memberikan kelima jarinya, lalu Jay menurunkan satu per satu jari Nick hingga tersisa jari telunjuk. Semakin orang yang sedang diajari terlihat kebingungan, Jay semakin senang karena bisa memegang tangan Nick selama yang ia bisa.
Setelah puas bermain-main dengan mangsanya dalam sesi pemindaian sidik jari ini, akhirnya Jay menoleh ke arah Ethan yang sudah melihatnya dengan sinis untuk meminta verifikasi data. Ethan melakukan verifikasi lalu Jay menekan bagian kiri dari mouse dan sebuah alat cetak di samping meja komputer mengeluarkan bunyi sebagai tanda awal dari proses pencetakkan kartu.
"Aku akan melakukan penyelesaian kartunya. Butuh waktu sekitar sepuluh menit. Kalian bisa menunggu di sana," kata Jay sambil menunjuk pojok ruangan lain yang lebih mirip dengan tumpukkan barang rongsokkan dibandingkan dengan ruang tunggu.
"Kami akan menunggu di luar," kata Ethan berjalan ke arah pintu keluar.
"Apakah kartu palsu itu tidak akan ketahuan?" tanya Nick saat dirinya dan Ethan sudah berada di luar bangunan.
"Walaupun tempat dan orangnya tidak meyakinkan, tapi hasilnya bisa dipercaya. Jay banyak membantu para imigran untuk tinggal di Kota Windhill."
"Yayaya…. Dia tinggal di pelosok seperti ini. Apakah orang-orang tidak kesulitan mencarinya?"
"Justru ia berpindah-pindah tempat supaya tidak ditangkap oleh yang berwenang. Tapi informasi ilegal seperti ini akan lebih mudah dicari oleh yang membutuhkannya dibandingkan oleh pihak yang berwenang."
"Dari internet ya?"
Ethan menoleh ke samping lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Nick. Dalam hati ia memuji adaptasi yang dilakukan oleh gadis di hadapannya. Seorang tuan putri yang menginginkan kebebasan memang berbeda dari hampir semua orang kerajaan yang ia kenal.
Putri Charlotte dapat memainkan peranannya menjadi Nick Halberd dengan cukup baik. Terlepas dari kata-kata spontan yang terucap dari mulut Nick, tidak ada konflik yang terjadi selama ini. Dan yang lebih mencengangkan bagi Ethan adalah Nick melakukannya dengan sukarela. Seakan Nick yang meminta sendiri untuk menjadi salah satu bagian dari rencana Ethan.
Kata-kata Olive dan Keanu terulang kembali dalam pikiran Ethan. Apakah seharusnya ia mengatakan rahasia besarnya kepada Nick sebelum terlambat?