Sudah lebih dari dua menit bola mata Nick yang berwarna biru muda memperhatikan Ethan yang sedang menyetir. Awalnya Ethan hanya merasa gadis di sebelahnya ini hanya melamun. Namun semakin lama pandangannya semakin intens sehingga Ethan tidak mungkin mengabaikannya.
"Ada apa, keponakanku, Nick Halberd?" tanya Ethan menoleh ke arah Nick saat mobilnya berhenti akibat lampu lalu lintas.
"Pamanku, Ethan Halberd, aku melihatmu lebih dingin daripada sebelumnya sejak pulang dari tempat tadi." Tempat tadi yang dimaksudkan Nick adalah rumah Jay, di mana Nick mendapatkan kartu identitas palsunya.
"Itu karena kamu membiarkan orang mêsum itu memegang tanganmu seenaknya. Untunglah kamu belum mempunyai handphone, kalau tidak dia bisa menghubungimu setelah ini," kata Ethan terpaksa berbohong. Sebenarnya selama ini ia sedang berpikir tentang rahasia yang disembunyikan kepada Nick. Entah seberapa banyak yang bisa ia beritahukan saat ini supaya Nick tidak berpikir bahwa seorang mantan kepala pengawal kerajaan Alexandria di hadapannya ini bukanlah ancaman untuk seorang putri Alexandria.
"Tapi aku membiarkanmu memegang rambutku juga. Siapa yang tahu kalau kamu juga mêsum seperti Jay."
Pikiran Ethan yang sedang kusut seketika hilang karena perkataan Nick. Wajah Ethan yang dingin berubah 180 derajat. Matanya menyipit dan mulutnya tidak dapat berhenti tersenyum.
"Apakah aku seperti orang mêsum di pikiranmu?" Tidak hanya wajah Ethan yang sedang tertawa, bahkan intonasi pertanyaannya pun terdengar sedang menertawakan Nick
"Ya, kan. Bisa saja. Jay yang bertampang mengerikan saja ternyata kamu bilang mêsum." Nick mengalihkan pandangannya ke kaca depan sambil meruncingkan mulutnya tanda sedang cemberut.
"Yayaya… pemikiranmu tidak salah," kata Ethan sambil menginjak gas dan memindahkan persneling untuk menjalankan kembali mobilnya tanpa melihat ke arah Nick. "Hei, keponakanku. Kenapa kamu bisa percaya padaku semudah ini?"
Saat mendengar suara Ethan menjadi datar seperti di awal pertemuan mereka, Nick memandang sosok di sampingnya kembali. Pertanyaan yang terdengar mudah untuk dijawab, padahal tidak mudah sama sekali. Nick hendak membuka mulutnya untuk menjawab tapi tiba-tiba ia tidak yakin atas jawabannya itu.
"Karena kamu melindungiku dari orang yang mengejarku," kata Nick berusaha menjawab dengan logikanya setelah beberapa saat terdiam.
"Menjauhkanmu dari orang yang mengejarmu belum tentu berada di pihak yang sama denganmu. Bisa saja aku bermaksud jahat terhadapmu."
"Tapi kamu bilang percaya saja pada orang yang mengutusmu."
"Kalau Jay dan sepuluh orang lagi mengatakan hal yang sama juga kepadamu, apakah kamu akan mempercayai mereka?"
Keheningan kembali tercipta di dalam mobil Ethan. Sesekali Ethan melirik ke samping kanan untuk memastikan kondisi Nick. Tampaknya Nick masih berusaha mencari jawabannya.
"Aku harus mendapatkan keyakinan darimu. Sehingga rencana yang akan dilakukan setelah ini tidak berantakan karena keraguan dalam dirimu," kata Ethan menoleh sesaat pada Nick lalu menepuk-nepuk kepala Nick dengan pelan.
Nick mengerutkan dahinya. Selama ini Ethan selalu bisa membalikan seluruh perkataannya dengan tepat, seakan logika yang dipikirkan oleh Nick belum dapat mencapai logika yang dipikirkan oleh Ethan. Karena Nick tahu saat ini tidak bisa melawan perkataan Ethan, ia memutuskan untuk menjawab hal yang ingin diucapkannya pertama kali. Jawaban pertama yang terpikirkan sebelum ia mengoreksi kembali karena terdengar tidak masuk akal.
"Kalau dengan Jay aku tidak akan percaya. Pedro dan Olive juga belum tentu…. Entah kenapa saat berbicara denganmu…. aku seperti berbicara pada orang yang sudah mengenalku sangat lama…"
Terdapat jeda di antara kata-kata yang diucapkan oleh Nick. Dari jeda yang tersematkan dalam kalimat, Ethan bisa mendengar betapa sulitnya Nick mengucapkan hal yang dirasanya tidak masuk akal. Lagi-lagi ucapan dari orang terdekat terlintas di pikiran Ethan. Intuisi dari gadis di sebelahnya ini tidak boleh disepelekan.
"Charlotte Dutchswan Alexandria. Anak kembar dari mendiang Raja Trevor Sovereign Alexandria dan Permaisuri Josephine Dutchswan Alexandria…"
Mendengar nama lengkapnya disebut membuat Nick menjadi waspada. Tidak hanya melanggar peraturannya sendiri, Ethan bahkan menyebutkan identitas Nick sebagai anak keluarga kerajaan. Namun suara Ethan yang terdengar sangat yakin dengan apa yang diucapkannya tidak dapat membuat Nick berkomentar apa-apa.
"Sebenarnya saya ingin menunda mengatakan beberapa informasi ini pada Anda hingga saya mendapatkan informasi terbaru dari kerajaan… tapi keyakinanmu padaku membuatku berpikir ulang."
Nick menunjukkan wajah kebingungan. Bagaimana tidak bingung. Sesaat Ethan berbicara dengan bahasa formal seperti saat Nick berbicara dengan orang yang berada di istana Alexandria. Tetapi di akhir kalimat Ethan mengubah gaya bicaranya. Bahkan Ethan sempat-sempatnya menoleh ke arah Nick sambil tersenyum.
Ethan menghela nafas panjang dan menghembuskan nafas dari mulutnya yang meruncing. Ia bersiap-siap melancarkan serangan pertanyaan yang sudah dipersiapkan dalam otaknya selama ini.
"Apakah kamu benar-benar tidak sadar pernah bertemu dengan Skyf Oleander sebelumnya?"
"Tentu saja… kalau tidak aku pasti mengenalimu kan?" Nick sudah terlalu bingung dengan berbagai kontradiktif yang dilakukan Ethan sehingga hanya bisa menjawab pertanyaan yang ditanyakan padanya.
"Tujuh tahun lalu, saat kamu datang ke Kota Windhill. Kamu tidak merasa ada orang asing yang berada di tempat beristirahat keluarga Alexandria?"
"Tujuh tahun… bersama Ayah, Ibu dan Alice?" Ethan mengangguk dan membuat Nick melanjutkan nostalgianya. "Saat itu aku membantu para pelayan membuat kue di dapur. Apakah mengambilkan tepung terigu juga dianggap membantu ya? Ah anggap saja begitu… selain pelayan yang berada di sana, memangnya ada siapa lagi?"
"Seharusnya aku tidak menggunakan ingatan jangka panjangmu yang buruk ini untuk keuntunganku sendiri. Jadi cobalah mengingatnya kembali."
Kata-kata Ethan membuat Nick cemberut kembali. Tapi Nick langsung menuruti perkataan Ethan. Ia memejamkan mata dan berusaha mengingat-ingat kejadian demi kejadian yang menyenangkan saat itu. Di mana kedua orang tuanya masih hidup dan pengawal pribadinya masih berada di sisinya.
"Oya… aku hanya ingat Ayah berbicara pada seseorang…. Orang itu berambut hitam panjang dan diikat satu. Kupikir saat itu dia adalah perempuan tapi ternyata suaranya adalah laki-laki… sebentar… saat itu aku diperkenalkan dengannya dan ia mengatakan…. kepala pengawal Alexandria," kata Nick masih meracau sendiri dengan matanya yang terpejam. "Lalu aku berpikir tidak mungkin ia menjadi kepala pengawal, karena aku belum pernah melihatnya di kerajaan Alexandria. Namun saat itu Ibu mengatakan…. Ia kepala pengawal kerajaan saat masa pemerintahan Nenek…"
Ethan menunggu suara-suara bergumam dari samping tempat duduknya dengan sedikit tidak sabar. Berkali-kali Ethan harus membagi fokusnya antara melihat ke jalan dan melihat sosok yang sedang meracau di sampingnya. Tak lama kemudian Nick membuka mata dengan bunyi "oh" yang keras.
"Oleander! Kamu mengatakan namamu Skyf Oleander kan ya? Jadi kepala pengawal kerajaan itu adalah keluargamu?" sahut Nick bersemangat memandang Ethan dengan mata yang berbinar-binar.
"Siapa nama kepala pengawalnya?" tanya Ethan dengan nada datar dan mulai tidak sabar.
"Blablabla Oleander…. Aku tidak dapat mengingat nama depannya."
"Itu aku. Orang yang bertemu denganmu saat itu adalah aku, Skyf Oleander, dan aku adalah mantan kepala pengawal kerajaan Alexandria."