Pertanyaan yang terbayangkan pada benak Ethan setelah membocorkan identitasnya sebagai mantan kepala pengawal Alexandria adalah di mana selama ini dirinya bersembunyi. Pertanyaan susulan lainnya adalah mengapa ia berhenti menjadi kepala pengawal. Tapi pertanyaan Nick benar-benar tidak masuk dalam pertanyaan awal yang terpikirkan oleh Ethan bila ia memposisikan dirinya sebagai Nick.
"Wow! Ternyata kamu sudah cukup tua ya?"
Ethan menepuk-nepuk kepalanya sendiri dengan tangan yang terkepal sementara Nick masih bergumam dengan angka-angka yang di kalkulasinya untuk menentukan umur Ethan. Ethan menghembuskan nafas dengan keras. Dalam benaknya ia berulang kali mengulangi perkataan bahwa bagaimanapun sosok di sampingnya ini memang mempunyai pikiran yang tidak biasa.
"Aku tidak akan bertanya umur padamu. Karena informasi umur itu merupakan privasi mu," kata Nick tanpa merasa berdosa.
"Kamu baru saja menghitung umurku di hadapanku jadi sejak kapan kamu memikirkan tentang privasiku?"
"Hehe… benar juga… jadi kamu adalah mantan pengawal pribadi nenekku juga? Wow. Tak kusangka kamu benar-benar tidak asing bagi keluarga Alexandria. Kupikir hanya intuisiku saja yang mengatakan seperti itu."
"Kamu tidak merasa sedang dibohongi?"
"Tidak… mengapa aku harus merasa seperti itu?"
"Aku juga tidak sedang membohongi mu. Hanya ingin tahu apa yang sedang kamu pikirkan karena pemikiranmu itu cukup unik dari semua orang yang pernah kutemui."
"Oya? Near juga mengatakan hal yang sama. Ia bilang pemikiranku tidak seperti seorang tuan putri," kata Nick sambil tersenyum. Saat itu Nick tidak menganggap perkataan Ethan adalah sesuatu yang negatif. Pernyataan bahwa ia mempunyai pemikiran yang unik saja sudah membuatnya senang karena berarti ia berbeda dengan orang-orang dari kerajaan Alexandria.
Percakapan Ethan dan Nick harus terhenti karena tiba-tiba terdengar suara musik dari layar audio mobil dan handphone yang ditaruh di dekat rem tangan mobil pun menyala. Ethan menekan tombol yang berada pada setir. Sambungan telepon pun tersambung pada sistem audio mobil dan terdengar suara yang bisa didengar oleh Ethan maupun Nick.
"Ethan! Tolong aku! Kelompok antimage berbuat ulah di Time Pause. Aku sedang bersembunyi di toilet yang rusak."
"Kirimkan video toilet itu padaku."
Telepon dimatikan dan Ethan memelankan mobil ke arah pinggir jalan hingga berhenti. Lalu ia mengambil handphone-nya dengan berdecak dan mengambil nafas dari mulut tanda bahwa ia tidak tenang. Sambil menunggu video dikirimkan, Ethan melirik ke samping dan melihat Nick menjadi ikut-ikutan tidak tenang karena suara panik dari perempuan yang menelepon Ethan.
"Aku akan teleportasi ke tempat Reika. Kamu tunggu di sini selama lima menit. Bila setelah lima menit aku tidak kembali, kamu telepon Pedro untuk menjemputmu di sini. Ia akan mengarahkanmu untuk memakai handphone ini. Password-nya kamu bisa geser dari nomor satu hingga sembilan," kata Ethan memperlihatkan layar handphone yang terkunci kemudian membukanya dengan jari yang digeser. Ethan menunggu Nick mengangguk barulah ia melihat video yang dikirimkan oleh Reika.
Setelah menghafal kondisi ruangan yang berada di video, Ethan memberikan handphone nya pada Nick kemudian menghilang. Nick tidak mempunyai waktu untuk bertanya maupun menolak perkataan Ethan. Ia hanya bisa menerima sebuah alat komunikasi di tangannya tanpa sempat mengucapkan kata-kata pada Ethan.
Tidak perlu lima menit, Ethan sudah berada di jok belakang mobil bersama perempuan berambut cokelat muda sebahu yang bernama Reika. Lalu Ethan berteleportasi ke kursi supir dan firasatnya mengatakan ia harus sesegera mungkin memeriksa kondisi sosok di samping tempat duduknya. Benar saja apa kekhawatiran Ethan pada Nick ternyata terjadi. Gadis berparas laki-laki yang berada di sampingnya sedang memandang Ethan dan dengan wajah yang hampir menangis.
"Aku sudah kembali, Nick," kata Ethan berusaha tersenyum untuk membuat Nick tenang. Nick mengatupkan bibirnya sambil mengedipkan kedua matanya sebanyak dua kali. Berusaha menahan matanya agar tidak mengeluarkan air mata.
Ethan menoleh ke belakang tempat duduknya dan menemukan wajah Reika yang melotot ke arahnya dengan alis menekuk. Sekilas Reika memandang ke arah tempat duduk di samping Ethan kemudian memandang Ethan kembali untuk mendapatkan jawaban. Melihat Ethan mengeluarkan kekuatan magisnya di depan orang asing membuat Reika tentunya merasa tidak tenang.
"Dia keponakanku. Namanya Nick. Nick, perempuan ada di belakang ini adalah Reika."
"Oh, hai," sahut Reika dengan singkat namun pengamatannya akan Nick masih berlanjut. Reika masih belum menerima bila tiba-tiba saja Ethan mempunyai keponakan dan keponakannya itu baru saja menyaksikan dirinya diselamatkan oleh pamannya.
"Hai juga," balas Nick dengan volume suara yang pelan. Nick memang sedang menahan tangis sehingga ia tidak berani untuk menoleh dan berbicara dengan lantang. Namun karena sikap Nick itu Reika memandang Nick sebagai orang yang tertutup sehingga Reika tidak melanjutkan percakapan di antara mereka berdua.
"Aku akan mengantar Nick pulang baru mengantar Reika ke rumah Keanu."
Sebelum Reika mengatakan sesuatu, Nick sudah menggeleng-geleng ke arah Ethan. Nick menunjuk ke arah badannya untuk memberikan tanda "aku" dan menunjukkan jari telunjuk dan jempol yang memberikan tanda "baik-baik saja". Ethan menangkap maksud dari tanda itu sehingga mengubah rencananya.
"Aku akan mengantarmu terlebih dahulu, Reika. Persiapkan diri saja dengan wejangan dari Keanu."
"Pastilah mulai hari ini ia akan melarangku pergi ke klub mana pun. Apalagi semua klub yang dikelola oleh Irvine."
"Gosip itu masih beredar?" tanya Ethan sambil melihat Reika dari kaca spion di tengah-tengah mobil bagian depan.
"Tentu saja. Mengapa para exterminator s****n itu hanya mendatangi klub yang dikelola Irvine saja?"
"Haha… dia kan sesombong itu. Sudah tidak aneh kalau dia mempunyai banyak musuh walaupun bukan penyihir sekalipun."
"Dan kau adalah penyihir yang mempunyai musuh paling banyak."
Ethan memandang Reika kembali dari kaca spion. Perempuan itu mengeja kata "terima kasih" dengan perlahan sambil menundukkan kepala dengan gaya elegan. Reika mendahului perkataan yang selalu diucapkan oleh Ethan bila perempuan itu berusaha mengejeknya.
"Irvine terlalu tenang dan bersih untuk seseorang yang mengelola klub seperti itu. Ia pasti punya maksud tertentu saat mendirikan klub," kata Reika melanjutkan percakapan.
"Kamu bukan membaca informasi itu dari artikel-artikel palsu yang beredar kan?"
"Walaupun artikel itu belum tervalidasi, aku yakin Irvine bukan orang biasa. Intuisiku mengatakan itu. Hei, Ethan! Jangan pernah meremehkan intuisi seorang perempuan!"
Reika memainkan jari telunjuknya dari kiri ke kanan seperti wiper mobil. Ingin memastikan kembali bahwa laki-laki yang sedang menyetir itu mengakui intuisi dari seorang perempuan. Tentu saja Ethan baru saja mengakui intuisi perempuan yang duduk di sebelahnya saat ini. Namun tidak semua hal dapat dipukul rata seperti itu kan, pikir Ethan dalam hati sambil menghela nafasnya.
Mobil Ethan melewati bar milik Keanu dan sedang mencari tempat pemberhentian sekitar satu blok jauhnya. Suasana sekitar bar masih cukup ramai walau sudah tengah malam. Setelah mobil diparkirkan, Reika langsung membuka pintu belakang. Baru saja Ethan beranjak turun dari mobil, Reika menahan pintu mobil yang dibuka oleh Ethan.
"Tidak perlu mengantar. Sepertinya keponakanmu cukup letih karena diajak berpergian olehmu, Ethan. Sampai jumpa lagi, Nick!" kata Reika memberikan tangannya pada orang di samping Ethan sebagai tanda perpisahan. Nick berusaha tersenyum lalu membalas salam perpisahan dengan mengangkat tangannya dengan kaku. "Thanks, Ethan. Aku berhutang budi padamu lagi."
Reika pun melangkahkan kaki dengan setengah berlari ke trotoar lalu berbelok di ujung jalan. Meninggalkan Ethan dan Nick yang sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanannya.