Nick sudah jauh lebih tenang setelah Ethan kembali dari misi penyelamatan Reika. Namun kali ini justru Ethan yang merasa gadis di sebelahnya belum kembali normal seperti sedia kala. Mobil Ethan masih terparkir beberapa blok dari bar milik Keanu lalu Ethan memandang Nick dengan wajah cemas.
"Kamu yakin tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, pamanku, Ethan Halberd. Tadi aku hanya terlalu syok karena kamu menghilang begitu cepat."
Walaupun Nick sedang tersenyum saat ini, Ethan belum bisa merasa tenang. Selama perjalanan Ethan pun berpikir bahwa ia terlalu gegabah saat memberikan informasi pada Nick, seakan Ethan mengatakan bahwa mungkin ia tidak akan bertemu dengan keponakan palsunya ini kembali. Saat itu Ethan hanya terbiasa bersikap penuh antisipasi akan hal paling buruk yang dapat terjadi. Namun ia tidak mempertimbangkan dari sudut pandang Nick yang terlalu sering ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya.
Ethan mengerutkan dahinya. Ia berpikir terlalu keras sehingga sudah pada tahap kepalanya menjadi cukup pusing saat ini. Saat Ethan membuka matanya, jari telunjuk yang lentik sudah berada di depan di antara kedua matanya. Telunjuk Nick bergerak maju menuju dahi Ethan dengan perlahan.
"Jangan sering-sering mengerutkan dahi seperti ini. Nanti kamu tidak awet muda lagi," kata Nick sambil tersenyum dengan lebar.
Wajah Nick saat itu memang memperlihatkan sosok seorang anak laki-laki yang manis. Namun Ethan melihat sesuatu yang lain. Senyuman yang tulus memperlihatkan perhatian yang juga tulus. Perhatian itu tidak hanya membuat gadis yang berada di hadapannya menjadi seseorang yang berkarakter baik, namun sosok itu memperlihatkan kecantikan tersendiri yang terpancar dari wajahnya. Ketulusan yang tidak bisa terlihat hanya dengan sekilas melihat wajahnya.
Ethan terkesiap. Hampir saja ia terjerumus oleh pesona yang diberikan gadis di depannya. Bagaimanapun tugasnya saat ini adalah melindungi Putri Charlotte yang serang menyamar menjadi Nick Halberd. Tidak kurang. Dan tidak lebih.
Setelah tersadar akan lamunannya yang singkat, Ethan menepuk poni Nick dengan telapak tangannya yang besar hingga hampir menutupi hidung Nick. Nick yang tidak dapat melihat dengan jelas langsung menarik tangan Ethan dengan wajahnya yang terlihat akan melakukan protes.
"Ayo kita pulang."
Ethan menarik safety belt dari sebelah kiri tempat duduknya, menyalakan mesin mobil, lalu mobil pun melesat dari parkiran.
"Siapa itu antimage? Mengapa Reika dikejar oleh mereka?" tanya Nick dengan intonasi yang sudah kembali ceria seperti biasa.
"Sebenarnya antimage itu sebutan dari kami untuk kelompok yang sedang mencari penyihir dan bermaksud mengadilinya secara sepihak. Mereka menamai kelompok mereka sebagai Mage Exterminator. Pembasmian penyihir. Huh? Mereka merasa diri mereka sangat benar."
Nick mendengarkan informasi yang diberikan Ethan dan menghubungkannya dengan perkataan yang selalu diucapkan oleh orang tuanya saat kecil.
"Little Charlotte, kamu mungkin akan melihat Kota Windhill sebagai tempat yang aman dan nyaman. Tapi selain di wilayah kerajaan, tidak ada yang boleh memperlihatkan kekuatan magis kepada orang biasa. Kita berbeda dengan mereka dan mereka tidak suka akan perbedaan itu."
"... hei, Nick. Kamu sudah tidak mendengarkan ya?"
Suara Ethan membuyarkan ingatan Nick tentang masa lalunya. Dari sekian banyak masa lalu yang dapat diingatnya, ia tidak akan pernah lupa segala nasihat yang diucapkan oleh kedua orang tuanya. Nick jadi berpikir bahwa ia hanya mengingat hal yang menurutnya penting, sehingga kemunculan Skyf Oleander di kediaman keluarga Alexandria di Kota Windhill tidak begitu penting.
"Aku sebenarnya penasaran mengapa kita tidak bisa membantu orang yang tidak mempunyai kekuatan magis. Kenapa mereka begitu membenci kita?"
"Sejarahnya panjang. Kamu bisa ke perpustakaan pinggir kota bersama Olive bila ingin mengetahuinya. Mereka masih menyimpan sejarah peperangan yang terjadi antara penyihir dan orang biasa…. Ah… kamu tidak suka membaca, ya?"
"Semua orang yang kutanya pasti menyuruhku membaca. Huh!"
Nick bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah sudah saatnya ia berusaha lebih untuk lebih giat belajar? Ia hanya mengerti tata krama yang diajarkan oleh kedua orang tuanya dan informasi-informasi dasar mengenai hal-hal magis dan Kerajaan Alexandria. Namun banyak hal yang ia lewatkan saat guru privatnya memberikan pelajaran padanya.
Dari sejak umur lima tahun, seorang putri Alexandria sudah harus dikenalkan dengan rakyat Alexandria yang berada di wilayah kerajaan Alexandria, sebuah tempat yang berada di tengah-tengah hutan belantara. Kerajaan Alexandria sangat jarang menerima tamu dari luar kecuali kerabat terdekat ataupun saudaranya sendiri. Saat menerima tamu tak diundang, mereka hanya akan diperlihatkan bagian paling depan dari kerajaan Alexandria yang merupakan simulasi istana yang terlihat normal dan tidak memperlihatkan kekuatan magis apa pun. Hal itu berlaku untuk semua kerajaan yang mempunyai hak kekuasaan yang dipegang oleh keturunan darah penyihir. Putri Charlotte pernah melihat simulasi yang dilakukan oleh para relawan yang mendukung Kerajaan Alexandria. Ia memang tertarik dengan hal yang menantang seperti ini sehingga lebih mudah mengingatnya.
Setelah beberapa tahun berinteraksi dengan rakyat Alexandria, Putri Charlotte baru mengetahui bahwa semua pegawai yang bukan merupakan penyihir biasanya merupakan keturunan dari para leluhurnya terdahulu saat di mana penyihir dan orang biasa masih saling membantu. Namun berbagai konflik terjadi pada masa lalu yang menyebabkan para penyihir harus bersembunyi. Inilah hal yang selalu dipertanyakan oleh putri bungsu kerajaan Alexandria di masa ini. Saat berada di kerajaan Alexandria, Putri Charlotte terus menerus menerima pandangan tidak menyenangkan dari sebagian kecil rakyat Alexandria yang tidak mempunyai kekuatan magis. Dan hal tersebut semakin terbukti saat kelima pemuda ingin menyakiti Near yang ternyata mempunyai kekuatan magis.
Bila di kerajaan Alexandria, hanya pegawai seperti Near yang harus menyembunyikan kekuatan magisnya, ternyata di Kota Windhill semua penyihir harus menyembunyikannya. Kota Windhill letaknya beratus-ratus kilometer dari kerajaan Alexandria. Tidak aneh bila dari jarak yang begitu jauh, peraturan dan adat istiadatnya pun begitu jauh. Apalagi selama ini kerajaan Alexandria pun hanya dipandang sebagai simbolis kerajaan independen setelah hampir semua desa dan kota yang ingin melepaskan diri dari monarki kerajaan Alexandria.
Nick mulai pusing dengan pikirannya sendiri. Ia mulai menyebutkan kata monarki dalam lamunannya dan membuatnya bertanya-tanya hal yang berkaitan dengan kata itu. Pelajaran sejarah membuat kepalanya sering pusing. Sama hal nya dengan pelajaran-pelajaran hafalan seperti biologi, kimia dan sosial. Pada akhirnya tidak ada satu pun pelajaran yang disukainya selain pelajaran kehidupan yang ia ciptakan sendiri. Bagaimana ia mendapatkan informasi dan umpan balik dari cara seseorang melakukan pekerjaannya.
Di balik kepalanya yang pusing tekad Nick masih tetap bulat. Ia masih berniat untuk meminta bantuan Olly untuk mengajarinya berbagai ilmu yang telah ia lewatkan selama berada di kerajaan Alexandria. Dan ia bermaksud melanjutkan rencananya bersama Pedro untuk bereksperimen dengan kekuatan magis dalam dirinya yang tidak pernah diketahuinya.
Dengan perlindungan dari gerombolan berjubah hitam yang telah menolong Nick dari incaran para pengkhianat kerajaan, ditambah kepercayaan Nick pada mantan pengawal Alexandria yang merangkap sebagai pengawal pribadi neneknya, ia akan mencoba beradaptasi di Kota Windhill ini. Nick tidak mau membuat orang yang mengutus Ethan untuk melindunginya merasa sia-sia karena dirinya hanya bisa bersembunyi dan tidak berbuat apa-apa. Dalam hati Nick sudah bertekad untuk kembali ke kerajaan Alexandria dan membuktikan kepada pada petinggi kerajaan termasuk kakaknya, Alice, bahwa ia pantas menjadi anggota keluarga kerajaan Alexandria.