//Dua tahun setelah Putri Charlotte keluar dari Kerajaan Alexandria dan bertempat tinggal di Kota Windhill//
Kedai ramen mungkin bukan tempat makan yang biasa didatangi murid-murid sekolah sehingga pada jam pulang sekolah tidak banyak yang memasuki kedai itu. Banyak pêlanggan yang mengatakan bahwa tempat dari kedai itu sangat strategis karena berada persis di depan sebuah SMA negeri di Kota Windhill namun pemilihan tipe makanannya kurang pas. Pêlanggan-pêlanggan banyak memberikan saran untuk empunya kedai untuk mengubah kedai tersebut menjadi sebuah kafe atau pun tempat makan sesuai tren yang ada.
Empunya kedai ramen hanya tersenyum dan membalas setiap saran dengan nada tegas namun masih terdengar ramah.
"Terima kasih atas sarannya. Tapi keluarga kami bisa hidup sampai sekarang karena kedai ini."
Pêlanggan-pêlanggan yang memberi saran tentunya menangkap pernyataan empunya kedai sebagai alasan belaka karena tidak mempunyai keahlian yang lain selain membuat ramen. Namun pêlanggan-pêlanggan itu juga mempertanyakan anak perempuan dari empunya kedai yang sudah beranjak kuliah. Seharusnya anak perempuan tersebut mau belajar untuk mengelola kedai ibunya dan membuatnya menjadi semakin besar.
Saat anak empunya kedai ditanya, jawabannya kurang lebih sama. Membuat para pêlanggan menyerah untuk memberikan saran.
"Ibuku tidak mau menutup kedai ini. Kedai ini yang membuat kami dapat menjalani kehidupan."
Walaupun begitu, kedai ramen itu tidak kosong setiap harinya. Ada saja para pekerja kantor yang sengaja datang ke pinggiran Kota Windhill untuk menyantap ramen yang menurut mereka autentik dan tidak mengandung bahan kimia tambahan seperti vetsin, pengawet pada mie, ataupun bumbu yang tidak berasal dari tumbuhan atau hewani. Selain itu ada juga pêlanggan yang memang sengaja datang hanya untuk menggoda anak dari empunya kedai.
Saat itu Sasha Greencherry sedang bertugas di dapur sehingga tidak bisa mengawasi perkembangan pêlanggan yang masuk ke dalam kedai berukuran dua puluh lima meter persegi itu. Anak perempuan dari Sasha langsung mendatangi meja yang baru saja diisi oleh pêlanggan dan menanyakan menu yang akan dipilih. Perempuan itu berumur dua puluh tahun dengan bandana dan sebuah ikatan di bawah leher yang membuat rambutnya tampak selalu rapi. Sebuah apron dipakai untuk menghalanginya dari cipratan kuah ramen dan membuat perempuan itu tampak lebih menarik dengan motif bunga baik pada apron maupun bandananya.
Terkadang beberapa pêlanggan tidak berlaku sesuai dengan ekspektasi pelayan yang sudah berusaha melayani mereka. Alih-alih memesan makanan, mereka malah menggoda orang yang sudah menanyakan menu yang dipilih pada mereka.
"Aku mau memesanmu saja, nona cantik. Kami bisa berpatungan untuk membeli harga yang kamu berikan."
Perempuan yang melayani pêlanggan itu memasang wajah kesal. Namun reaksi itu memancing pria berbadan besar lain untuk berkomentar.
"Bilang saja pada ibumu kamu harus pergi berbelanja. Kami akan menyusulmu di sana."
"Kami menjual berbagai jenis ramen. Silahkan pilih sesuai menu yang tertera."
Perkataan kaku dari perempuan yang melayani di meja dua orang pria separuh baya itu membuat kedua pria tertawa lepas.
"Tidak perlu terlalu kaku pada kami. Daripada berdagang di tempat yang sepi ini, kamu mempunyai talenta yang lebih baik dari ini."
Perempuan yang terus menerus dipojokkan semakin tidak dapat menahan emosi. Ia menaruh menu di atas meja kayu dengan kasar dan berbalik arah menuju ke arah dapur untuk menghindari konflik. Namun salah satu pria berusaha menarik tangannya dan membuat perempuan itu terperanjat.
Tepat saat perempuan itu mau melakukan perlawanan, sebuah kancing masuk ke dalam hidung si pria yang menarik tangan perempuan. Membuat pria itu menahan sakit dan berusaha mengeluarkan kancing dari hidungnya. Pria yang lain berusaha membantu temannya, membuat perempuan itu terbebas dari cengkraman pelanggannya.
Dari sudut ruangan, dua laki-laki yang lebih muda dari perempuan yang berprofesi sebagai pelayan kedai melambaikan tangan pada perempuan itu. Satu laki-laki mempunyai rambut merah sepanjang telinga yang terlihat acak-acakan dan laki-laki lain memakai topi dengan rambut hitam rapi sepanjang dagu. Mereka berdua memakai jaket olahraga tipis dan duduk berseberangan pada meja yang paling jauh dari tempat perempuan itu berdiri.
Belum mau berterima kasih atas kancing yang telah dilemparkan oleh laki-laki berambut merah, pelayan perempuan itu hanya mendekati meja kedua anak laki-laki itu sambil tersenyum dengan sinis.
"Kalian benar-benar tidak ada kerjaan ya selalu datang ke sini setiap saat."
"Nick selesai berlatih di dekat sini. Entah kenapa selalu tepat dengan waktu senggang kuliahmu sehingga kamu berada di sini."
"Olly, tanganmu tidak apa-apa kan?" tanya Nick disambut anggukan dari Olly. Nick tersenyum sambil menunjukkan jempol tangan kanannya.
Setelah dua tahun beradaptasi di Kota Windhill, ekspresi Nick sudah cukup layak untuk membuat perempuan seumurannya terpesona karena terlalu mendalami perannya sebagai laki-laki. Bahkan Olly pun sempat mengakui pesona yang diberikan Nick kadang membuatnya lupa bahwa Nick adalah perempuan.
Baru saja percakapan antara Nick, Pedro dan Olly dimulai, pria yang sudah dapat mengeluarkan kancing dari hidungnya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri tempat Nick dan Pedro sedang duduk.
"Kalian berdua yang membuat ulah ya?"
Pedro langsung berdiri, menarik Olly untuk bersembunyi di balik badannya yang kini sudah lebih tinggi dari Olly, kemudian mendongakkan wajah ke arah pria yang mendatanginya. Pedro memandang pria itu dengan wajah meremehkan, membuat si pria semakin marah dan hendak melayangkan tinju pada Pedro.
Kalau saja sebuah centong tidak melayang ke arah kepala pria yang hampir memukul Pedro, Pedro sudah merencanakan untuk mempermalukan pria tersebut dengan meneriakkan "ada ular di kakimu!" dan membuatnya malu karena hanya bohongan. Namun Sasha bertindak lebih cepat. Ia yang mendengarkan anaknya dihina-hina dari dapur langsung memberhentikan kegiatannya dan mendatangi pria itu dengan centong besi di tangan.
"Jangan sekali-sekali kalian datang lagi ke kedai kami!" teriak Sasha dengan tenaga yang luar biasa kuat sehingga pelanggan yang baru masuk di pintu masuk pun dapat merasakan kemarahannya.
Nick dan Pedro terdiam memandang seorang wanita separuh baya yang mempunyai wajah mirip dengan Olly di hadapan mereka. Setelah kedua pria yang berulah itu keluar dari kedai, barulah Nick dan Pedro bertepuk tangan atas tindakan yang dilakukan Sasha, Ibu dari Olly. Sasha hanya mengeluarkan nafas dengan keras lalu memandang anaknya dengan cemas.
"Aku tidak pernah takut kehilangan pelanggan. Aku lebih takut kehilangan kepercayaan diri anakku. Aku tahu kamu lebih berani dari ini, Olly!" kata Sasha memberikan nasihat panjang pada anaknya yang juga terbiasa memanggilnya dengan Olly.
"Ya, Ibu," jawab Olly tegas dan mengundang tepukan ringan di bahu oleh ibunya.
"Ramen gratis untuk kalian berdua. Tenang saja. Jangan bilang-bilang pada anakku, ya," kata Sasha berbicara dengan tangan di samping mulut sambil mengedipkan sebelah mata pada Nick dan Pedro. Seakan-akan Olly tidak dapat mendengar perkataan ibunya.
"Nyonya Sasha memang selalu yang terbaik," kata Nick dengan perkataan yang spontan diucapkan. Terbiasa untuk bersikap terlalu memuji untuk beberapa kondisi.
Olly melihat badan ibunya yang sudah semakin menjauh sambil menggeleng-gelengkan kepala. Saat ia melihat kedua temannya kembali, Pedro yang sudah kembali duduk tersenyum dengan bersemangat.
"Sini duduk di sampingku, nona cantik."
Dengan spontan Olly melemparkan buku menu pada kepala Pedro karena perkataannya. Lalu ia meninggalkan Nick dan Pedro untuk kembali bekerja.