Dua buah mangkuk ramen diletakkan oleh Olly masing-masing di depan Nick dan Pedro. Sebuah makanan sederhana yang terbuat dari karbohidrat dicampur dengan kuah kaldu ayam ditambah irisan daun bawang dan wortel di atasnya. Asap dari kuah kaldu yang panas menghampiri penciuman para pembeli sehingga aromanya membuat orang-orang yang kelaparan tidak sabar untuk mencicipinya. Seperti Nick dan Pedro saat ini.
"Selamat makan," kata Nick sambil mengangguk sopan pada Olly yang duduk di sampingnya lalu mulai memainkan sumpit untuk mengambil mie dalam mangkok. Pedro bahkan tidak mengatakan apa pun dan langsung menyeruput mie sudah digulung pada sumpitnya.
"Terima kasih untuk kalian berdua," kata Olly sengaja mengatakannya saat Nick dan Pedro sedang makan supaya mereka berdua tidak banyak berbicara setelahnya. "Sasha ingin berbicara pada kalian setelah ini. Aku harus melayani pêlanggan lain. Selamat makan."
Olly langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri meja yang baru saja ditempati oleh pengunjung baru. Nick dan Pedro yang masih mengunyah mie di dalam mulutnya saling berpandangan dan memperlihatkan wajah tanya.
"Dia pasti sengaja berterima kasih saat kita berdua masih mengunyah," kata Pedro melirik Olly dengan pandangan sinis. "Perempuan satu itu memang tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya lebih lemah dari yang ia kira."
"Tentu saja, siapa yang mau mengakui dirinya lemah," kata Nick setelah mulutnya sudah bersih dari makanan.
"Tapi kan laki-laki memang bertugas melindungi perempuan. Apa salahnya perempuan merasa lebih lemah dari laki-laki. Iya, kan?"
Nick menatap Pedro tanpa berbicara karena merasa pertanyaan Pedro mengarah bahwa seharusnya ia membela pendapat Pedro bukannya malah membela sikap Olly. Hingga Nick menyipitkan matanya pada orang yang duduk di seberangnya itu pun, Pedro belum sadar ada kesalahan dalam ekspektasinya itu. Pedro hanya balik memandang Nick dengan wajah kebingungan.
"Setelah dua tahun bersama kamu tidak lupa kan siapa aku, Pedro?"
Pedro masih menatap Nick namun matanya berkedip beberapa kali. Benar sekali kecurigaan Nick, Pedro sudah melupakan bahwa orang yang berada di hadapannya adalah perempuan. Bahkan nama Charlotte pun sudah tidak ada dalam kamus Pedro. Pedro tidak pernah merasa mempunyai teman baik seorang tuan putri selama dua tahun ini.
"Yaampun! Mengapa aku selalu lupa akan hal ini!"
Volume suara Pedro yang meninggi membuat Nick melotot. Nick menempelkan telunjuk ke bibirnya yang meruncing dan mengeluarkan suara "Psst". Pedro melihat ke sekitar dan semua pêlanggan kedai sedang mengarah padanya, termasuk Olly yang memandangnya dengan kesal. Setelah meminta maaf pada semua orang yang berada satu ruangan dengannya, Pedro memutar bola matanya sambil menghembuskan nafas dari bibirnya yang maju.
Ethan, Nick, dan Pedro masih tinggal bersama. Selain menaati peraturan bahwa ia tidak boleh masuk ke dalam kamar Nick, Pedro tidak pernah sungkan dalam berbicara dan bertingkah laku di depan Nick. Sekalinya Pedro tersadar bahwa Nick adalah seorang perempuan adalah saat ia tidak sengaja mengajak Nick nonton film dewasa bersama atau momen seperti saat ini. Selain kondisi-kondisi tersebut Nick tidak pernah mempermasalahkan kaki Pedro yang suka menendangnya dengan tiba-tiba atau pun tangan Pedro yang dengan mudah merangkul bahunya. Kepasrahan Nick itulah yang membuat Pedro semakin tidak sadar bahwa ia memperlakukan Nick benar-benar seperti teman laki-lakinya.
Sementara itu Nick memang sudah benar-benar beradaptasi untuk menjadi laki-laki. Selain perasaannya yang terkadang masih diperlihatkan sebagai seorang perempuan, cara berbicara-berjalan-memandang orang lain dan hal-hal kecil lainnya sudah tidak berbeda dengan laki-laki. Selera barang yang dibelinya pun tidak berbeda dengan Pedro. Bahkan Nick dan Pedro sering dilirik oleh orang di sekitarnya saat berbelanja karena penampakan mereka berdua cukup nyaman dipandang oleh para gadis seumuran mereka. Pedro yang awalnya dinilai sebagai "bocah laki-laki yang berisik" pun kini sudah terlihat lebih menarik karena proporsi badannya sudah cukup tinggi bahkan hampir menyamai tinggi badan Ethan.
Nick dan Pedro menunggu sekitar setengah jam hingga Sasha selesai mengurusi pesanan, lalu mereka bertiga ditambah Olly beranjak ke dapur untuk berbicara. Sasha duduk di kursi makan dan tiga anak muda duduk di kursi tanpa sandaran yang awalnya ditumpuk di sudut ruangan.
"Aku ingin meminta saran pada kalian terhadap kedai ini," kata Sasha menginisiasi percakapan.
"Hmm…. sekarang ini sepertinya kedai semakin sepi pengunjung ya?" tanya Nick mengundang anggukan dan keluhan dari Sasha.
"Biasanya dalam sehari bisa mencapai tiga puluh porsi. Sekarang sepuluh juga tidak sampai."
"Kalau begitu… bagaimana kalau aku dan Pedro membantu pemasarannya? Kita berdua bisa membagikan flyer lalu…,"
Belum sempat Nick melanjutkan idenya, Olly menarik tangan Nick untuk keluar dapur dengan mata melotot. Tidak ada ruang yang sepi selain dapur yang ditinggalkan oleh Nick dan Olly. Jadi Olly menarik Nick untuk berbicara di samping pintu dapur yang terbuka sambil tetap memberikan pandangan tajam pada sosok yang mempunyai tinggi setara dengannya itu.
"Apakah kamu lupa kalau Ethan tidak ingin wajahmu terekspos?" tanya Olly dengan volume suara yang kecil namun intonasi yang meninggi.
"Calm, Olly… Aku bisa memakai topi dan masker untuk menutupi wajahku."
"Maksudku sebaiknya kamu tidak banyak berkeliaran, Nick…. Ethan pasti juga berpikir hal yang sama."
"Kalau begitu aku akan berbicara dengan Ethan nanti. Sepertinya ibumu menunggu kita berdua, bukankah seharusnya kita masuk sekarang?"
Olly menghela nafas dengan keras setelah Nick meninggalkannya sendirian di depan pintu dapur. Senyuman yang diberikan oleh Nick bukannya membuat Olly menjadi tenang. Ia malah semakin takut karena Nick terlihat percaya diri dengan rencananya sendiri.
"Maaf bila membuatmu kecewa, Sasha. Aku akan bertanya pada Ethan terlebih dahulu," kata Nick yang sudah kembali duduk di antara dua orang yang masih ada di dapur.
"Tidak apa-apa, Nick. Pamanmu pasti punya pertimbangan yang lebih baik untukmu. Aku hanya ingin mengumpulkan saran dari kalian sebagai anak-anak muda. Masalah dilakukan atau tidak bisa kita bicarakan nanti."
"Saran dariku… ya sebaiknya Anda mengganti kedai mie ini menjadi makanan lain…"
Perkataan Pedro spontan membuat Nick memukul lengan laki-laki yang duduk di sampingnya dengan keras. Sasha melihat Pedro dengan mata membelalak. Dan Olly yang berada di ambang pintu hanya bisa menggeleng-geleng dan menatap Pedro dengan kesal.
"Bukankah ideku paling masuk akal? Sebelah kanan dan kiri kedai ramen itu penuh pengunjung karena mereka membuat tempat makan yang diminati anak-anak jaman sekarang," kata Pedro saat dirinya dan Nick sudah pergi meninggalkan kedai ramen.
"Kamu mengatakan hal yang sama dengan yang diucapkan oleh para pêlanggan. Sasha pasti sudah bosan menerangkan pada mereka," kata Nick berusaha menjawab kebingungan Pedro.
"Ngomong-ngomong… kamu menawarkan diri untuk membagikan flyer itu karena ingin mencari orang itu kan?"
Nick menoleh dengan sedikit mendongak. Pedro sedang menatapnya dengan pandangan curiga. Nick hanya membalasnya dengan senyuman lalu melihat kembali ke arah depan supaya tidak tertabrak dengan arus manusia yang sedang berlalu lalang di trotoar.
"Sudah kuduga! Mari kita sama-sama temukan temanmu itu. Siapa namanya? Ner?" kata Pedro bersemangat sambil merangkul bahu Nick dan mengepalkan tangan untuk melakukan fist bump dengan orang di sampingnya.
"Namanya Near, Pedro. Near."