Nick mengeluarkan sebuah kartu dari saku jaketnya, menempelkan kartu pada lapisan kaca di atas gagang pintu, lalu menekan gagang pintu ke arah bawah hingga pintu kamar nomor 3903 terbuka. Di antara ketiga orang yang tinggal di apartemen nomor 3903, hanya Nick yang masih menggunakan kartu sebagai akses masuk apartemen dibandingkan menggunakan fingerprint. Nick memang masih terlalu senang membawa semua kartu yang dimilikinya ke mana-mana.
Begitu masuk ke dalam ruangan apartemen, Pedro langsung membuka sepatu ketsnya dan berjalan ke arah pintu kulkas dengan kaus kaki sebagai alasnya. Sedangkan Nick dengan sabar berjongkok di balik pintu untuk membuka sepatu, mengambil dua pasang sandal kain dari rak dan memasukkan dua pasang sepatu yang tergeletak di lantai untuk menggantikan posisi dalam rak yang baru saja kosong.
"Ah… aku lupa membeli cadangan minuman berasa," kata Pedro tidak menemukan minuman yang dicarinya di dalam kulkas.
Nick melemparkan sepasang sandal dan mendarat tepat di dekat kaki Pedro. Kini giliran Nick yang membuka pintu kulkas dan dengan mudahnya menemukan yang ia cari. Tiga buah kotak sûsu cokelat sudah berjejer dengan cantik di bagian pintu kulkas. Nick mengambil yang paling ujung karena ia selalu membiarkan kotak sûsu yang terbuka di paling ujung.
"Minum sûsu saja. Lebih sehat," kata Nick menggoyang-goyangkan satu kotak sûsu dengan volume satu liter ke arah Pedro. Pedro menggelengkan kepala sehingga Nick menuangkan sûsu cokelat itu hanya pada satu cangkir kecil di atas meja.
"Ethan ternyata belum kembali dari Kota Truncheon," kata Pedro menutup kembali pintu kamar Ethan dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana.
"Dia sudah mengirimkan pesan akan pulang terlambat. Bila satu jam lagi ia belum berangkat dari sana, aku disuruh cuti bekerja hari ini."
"Yeay! Kita bisa lanjutkan pertandingan yang belum terselesaikan kemarin," kata Pedro hampir saja mengeluarkan konsol dari lemari.
"Aku mau baca buku yang diberikan oleh Olly."
Wajah Pedro langsung menegang. Sengaja memberikan ekspresi yang berlebihan karena selama ini Pedro tidak pernah melihat Nick menyentuh buku sama sekali.
"Aku baru mau mencoba. Jangan berekspektasi tinggi dulu. Bagaimanapun aku sudah berlatih denganmu selama dua tahun tapi belum ada tanda-tanda kekuatan magis yang terlihat."
"Tenang, Nick. Setidaknya kamu sudah bisa berkelahi sekarang. Aku bisa mendukungmu dengan memberikan alat-alat berkelahi."
Nick menghembuskan nafas panjang. Perkataan Pedro memang tidak salah. Setelah mengatakan pada Ethan bahwa ia ingin melindungi dirinya sendiri, Nick langsung diberikan pelatihan khusus oleh Ethan sendiri. Selama dua tahun ini Ethan menyewa salah satu ruang serbaguna di lantai bawah apartemen untuk memperkuat fisik dan membangun refleks berkelahi pada Nick. Ethan tidak segan-segan memukul atau menendang Nick walaupun tahu Nick adalah perempuan.
Sekarang Nick bisa tahu cara menjatuhkan badan Pedro dengan satu gerakan saja. Tentu saja itu dapat terjadi bila Pedro tidak mengeluarkan kekuatan magisnya untuk bertahan. Begitu pula bila menghadapi orang-orang yang mengejar dirinya dua tahun lalu. Bila musuhnya mempunyai kekuatan magis seperti Mors, Nick tidak tahu harus berbuat apa.
"Ya… setidaknya aku dan Near jadi bisa melawan lima pemuda yang menyerang Near sewaktu di hari kerusuhan yang terjadi di asrama para pegawai kerajaan Alexandria," gumam Nick berusaha menyemangati dirinya sendiri yang mulai kehilangan motivasi atas kekuatan magisnya yang belum kunjung terlihat. Nick membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Pedro yang kebingungan melihat tingkah temannya yang tiba-tiba bergumam sendiri.
Pintu kamar ditutup, saklar lampu ditekan, dan terlihat sebuah ruangan sembilan meter persegi. Isi kamar tidur Nick tidak terlalu banyak berubah dibandingkan dua tahun lalu. Masih terdiri atas ranjang dengan dua nakas yang mengapit ranjang ditambah dengan sebuah lemari. Namun kini interior kamar ditambah satu set meja dengan kursi dengan tumpukan buku dari Olly yang terdapat di atasnya.
Nick berjalan mendekati meja dan memandangi pemandangan paling berantakan di ruangan itu. Sejak beberapa minggu lalu ia sudah mencoba membaca buku tentang sejarah penyihir. Baru saja membaca sebanyak dua halaman, Nick mulai mengantuk. Lalu Nick mengganti buku sejarah dengan buku pengetahuan umum tentang sihir dan ia tertidur dengan kepala di atas meja setelah membaca lima halaman.
Olly memberikan saran dalam membaca buku sebaiknya Nick tidak melihat satu kata per kata. Apabila ada kata yang tidak dimengerti, sebaiknya kata tersebut diberikan highlight supaya tidak mendistraksi bacaan secara keseluruhan. Namun Nick malah memberi highlight untuk lebih dari setengah isi pada setiap halamannya. Tidak ada bedanya antara sebelum dan sesudah diberi highlight.
Semua buku yang telah dibaca masih terbuka dan tergeletak di atas meja seakan memanggil-manggil Nick untuk melanjutkan membaca. Nick menanggapi panggilan untuk membaca itu. Ia duduk tegap di kursi dan menatap lurus ke arah tumpukan buku. Matanya membesar dan terlihat siap melahap ilmu yang akan dibacanya saat itu juga.
Seperempat jam berlalu dari mulai semangat Nick yang masih membara hingga hampir padam. Mata Nick yang asalnya berbinar-binar kini hampir tidak beda dengan mata Ethan yang datar dan monoton. Nick mengacak-acak rambutnya karena pusing. Ia masih saja berkutat dengan ketidaktahuan akan kata anti gravitasi yang berkali-kali muncul pada buku pengetahuan umum sihir. Asalnya ia mau memberi highlight pada setiap kata gravitasi, namun akhirnya ia memilih untuk mengambil handphone yang berada di atas meja.
"Gravitasi itu apa?" gumam Nick sambil mengetik kata yang sama dengan yang diucapkannya.
Saat layar berubah menjadi beberapa website yang dapat dipilih lanjut, sebuah notifikasi dari Ethan tertera di bagian atas layar handphone Nick. Nick langsung menyentuh notifikasi tersebut dan terlihat pesan dari Ethan mengatakan bahwa ia akan datang terlambat. Nick setengah bersyukur bahwa ia masih mempunyai banyak waktu untuk membaca buku karena tidak perlu bekerja.
Waktu luang Nick untuk membaca memang cukup banyak. Namun kemampuan Nick untuk menyerap informasi di dalam buku tersebut belum bisa dibandingkan dengan waktu luangnya. Dalam waktu setengah jam saja mata Nick sudah terpejam, meninggalkan cetakan bentuk buku pada wajahnya.
Waktu terus berjalan hingga pintu kamar Nick diketuk dengan pelan. Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar, orang yang mengetuk beralih ke dalam kamarnya sendiri. Memilih berteleportasi dari kamarnya sendiri menuju kamar keponakannya.
Sesuai dengan yang Ethan sudah pikirkan dan memang terjadi berkali-kali sebelumnya, ia melihat pemandangan seorang gadis dengan rambut hitam pendek sedang tertidur di atas meja belajar. Mata gadis itu terpejam namun mulutnya masih bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara. Ethan mendekati meja belajar, sedikit memundurkan kursi, lalu menggendong gadis itu dan membaringkannya di atas kasur.
Nick yang sudah terbaring mulai menyesuaikan badannya dengan kasur. Tentu saja bantal lebih nyaman untuk sandaran kepalanya dibandingkan buku ataupun meja. Ethan tersenyum memandangi Nick yang masih menggeliat di atas kasurnya.
Merasa mempunyai kuasa atas waktu yang tersisa, Ethan tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang sambil menyibakkan poni Nick yang menutupi matanya. Terkadang mulut Nick masih bergerak dan berubah menjadi senyuman.
Jiwa yang polos tersirat di wajah Nick saat ia tertidur. Ethan mengakui pada dirinya sendiri bahwa melihat wajah gadis di hadapannya ini sangat menenangkan. Seakan saat ini ia sedang ditarik untuk menikmati mimpi indah yang terjadi di dalam benak gadis yang sedang tertidur itu. Dalam beberapa menit ke depan, Ethan tidak beranjak dari posisinya sama sekali.