"Tidak."
"Ethaaan…"
"Biarpun kamu sudah memelas seperti itu tetap tidak. Dan kumohon berhentilah menjadi seorang gadis berumur lima belas tahun dengan merengek-rengek seperti itu."
Ethan memejamkan matanya saat melihat mata Nick membesar dan berkedip-kedip padanya. Sudah cukup lama Ethan tidak membayangkan analogi dalam pikirannya seperti sekarang ini. Dalam pikiran Ethan, ia seperti sedang melihat seekor anjing yang menjulurkan lidah dan mengibaskan ekornya untuk mengajaknya bermain lempar bola.
Nick masih menjulurkan badannya dari meja marmer dapur ke arah meja pantry. Ia memandangi Ethan yang sudah tidak memejamkan mata. Nick tersenyum lebar dengan memamerkan giginya.
"Tidak."
Perawakan Nick yang terlihat di benak Ethan sudah tidak sama seperti dua tahun lalu. Dari segi manapun keponakan berpura-puranya itu benar-benar terlihat seperti laki-laki bila tidak merengek seperti setengah menit yang lalu. Melihat sosok yang bertingkah sebagai laki-laki di depannya, Ethan sama sekali tidak tergerak oleh ucapan maupun rengekannya.
Pedro hanya terdiam melihat diskusi yang dilakukan oleh Nick dan Ethan dari sofa. Ia sudah tahu dari cara Ethan menjawab pastilah kata "tidak" tidak akan berubah menjadi "iya". Ethan bukan orang yang suka m******t ludahnya sendiri. Jadi Pedro lebih memilih untuk melanjutkan tontonan di televisi dibandingkan ikut dalam diskusi yang sudah diketahui hasil akhirnya.
"Kita harus membantu Sasha mempromosikan kedainya. Kamu tega sekali membiarkan penghasilan kedai turun drastis tanpa berbuat apa-apa."
"Lalu bagaimana kamu yakin membagikan flyer akan menambah penghasilannya?"
"Kita harus mencoba terlebih dahulu baru tahu hasilnya."
"Melakukan promosi di sekolah saja tidak berhasil, apalagi dengan mengharapkan dari kertas. Nick, kita sudah mendiskusikan hal ini selama setengah jam dan jawabanku tetap tidak."
"Huft… baiklah. Aku pergi berlatih saja. Pedro kau ikut tidak?" kata Nick sambil mengambil topi di yang tergantung di dinding dan memakainya.
Suara Nick yang terdengar kesal membuat Pedro cepat-cepat mematikan televisi dan beranjak dari tempat duduknya. Baru saja Pedro keluar dari kamar Ethan dengan membawa kaus kaki, Nick sudah keluar dari pintu apartemen tanpa membalikan badan sama sekali.
"Nick, tunggu!" teriak Pedro sebelum pintu apartemen tertutup otomatis. Pedro bergegas memakai kaus kaki dan sepatu ketsnya sambil melangkahkan kaki. Lalu mengejar Nick yang sudah hampir tiba di depan lift.
Ethan meneguk kopinya yang sudah dingin. Nick telah merusak waktu tenangnya di pagi hari ini dengan meminta izin untuk menyebarkan flyer di pusat keramaian Kota Windhill. Bahkan Ethan tidak diberikan waktu untuk menyeduh kopi hangatnya sama sekali.
"Argh…. Jam tangan menyebalkan ini. Ingin sekali aku membuangnya," kata Nick berbicara pada barang yang melingkar di lengan kirinya.
Lift terbuka. Nick masuk ke dalam lift disusul dengan Pedro yang berlari secepat kilat dan mati-matian mencegah pintu tertutup di hadapannya. Pedro tidak bisa protes saat dirinya dibuat berlari karena Nick sedang melampiaskan amarahnya pada jam tangannya sendiri. Jam tangan dengan built-in GPS itulah yang membuat Nick tidak bebas berkeliaran di Kota Windhill karena posisi Nick sudah tersinkronisasi dari jam tersebut dengan handphone Ethan.
Nick juga tidak berani untuk mematikan jam tangannya. Hanya sekali saja ia mencoba dan Ethan langsung muncul di hadapannya. Nick yakin Ethan tidak berteleportasi mengingat tempat yang dilalui Nick saat itu adalah tempat keramaian sehingga penggunaan kekuatan magis akan mengundang pertanyaan besar yang tidak diinginkan. Namun kehadiran Ethan yang tiba-tiba berada di hadapannya tidak berbeda dengan teleportasi. Entah bagaimana Ethan bisa menemukannya secepat itu.
"Hei, Nick… apakah kamu tidak lapar?"
Tepat setelah Pedro bertanya, perut Nick langsung mengeluarkan bunyi seakan ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku terlalu kesal dengan Ethan tadi sehingga tidak sabar untuk menunggunya membuat sarapan. Tapi kembali ke atas saat ini bukan pilihan untukku juga."
Tiba-tiba sebuah ide terbesit dalam pikiran Nick. Saat lift terbuka pada lantai grand floor, Nick memukul bahu Pedro lalu berlari keluar dari lift. Memberikan tanda pada temannya untuk ikut berlari ke tempat yang sudah ia tandai dalam pikiran.
"Tuh kan, aku sudah mengatakan bahwa kedainya belum buka. Kamu harus tanggung jawab pada perutku yang sudah kelaparan," kata Pedro ketika dirinya dan Nick sudah berada di depan kedai ramen milik Sasha dan pintu masuk masih tertutup dengan rapat.
"Aku mengatakan akan pergi ke sini, tapi bukan untuk makan ramen," kata Nick sambil menarik lengan Pedro supaya mengikuti langkahnya. "Tapi untuk makan di sini."
Nick memandang sebuah kafe minimalis di hadapannya. Sebuah gedung berlantai dua yang bertemakan putih dengan pot tanaman memberikan corak segar di atas kusen jendela yang terbuka. Beberapa pelanggan terlihat sedang mencicipi sarapan mereka di meja yang diletakkan di teras kafe. Sebagian pelanggan sedang bersantai di dalam ruangan yang dapat terlihat dari luar gedung.
Saat Nick membuka pintu kaca dari kafe tersebut, terdengar suara gemerincing dari hiasan logam yang tergantung di pintu kaca. Suara itu membuat pelayan yang berada di ruangan mengucapkan kata "Selamat datang" kepada kedua pelanggan yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Bola mata Nick langsung menjelajahi setiap sudut kafe begitu ia dan Pedro duduk di salah satu tempat duduk yang kosong. Besar ruangan itu tidak terlalu berbeda jauh dengan kedai di sampingnya. Perbedaan yang mencolok dari penataan ruangan kafe dan kedai adalah jumlah meja yang berada di dalam dan luar kafe mempunyai jumlah yang sama dengan meja yang berada di dalam kedai Sasha. Jarak yang dibuat cukup jauh antara tempat duduk yang satu dengan yang lain ternyata menciptakan privasi yang membuat nyaman.
Seorang pelayan langsung memberikan dua buah buku menu kepada Nick dan Pedro lalu pergi untuk membiarkan pelanggan melihat-lihat terlebih dahulu. Nick memindai satu per satu makanan dan minuman yang tertera di dalam buku menu. Tidak terlalu banyak jenis makanan di kafe ini. Hanya ada sandwich, spaghetti, dan kentang goreng. Lalu pada halaman yang lain tertera berbagai hidangan penutup dan minuman.
"Tidak ada makanan yang menarik. Mengapa tempat ini begitu ramai akan pengunjung ya? Bahkan saat ini masih jam pelajaran sekolah," kata Pedro setelah dirinya dan Nick selesai memesan makanan.
"Sepertinya aku tahu alasannya. Aku akan coba berikan saran kepada Sasha, semoga ia setuju dengan ideku," kata Nick mulai merogoh handphone dari saku jaketnya.
Sementara Pedro membuka menutup buku menu terus menerus saat menunggu makanan tiba, Nick mulai menggambar pada layar handphone yang berubah menjadi berwarna putih. Pada awalnya ia membuat sebuah kotak besar. Lalu menambahkan beberapa kotak yang lebih kecil di dalam kotak besar itu. Nick mencoba membuat desain ruangan kedai Sasha sekarang dan desain ruangan yang sedang ia pikirkan.
Sebuah desain ruangan sederhana masih belum selesai dibuat oleh Nick saat sarapannya tersajikan di depan mata. Pedro yang sudah kelaparan langsung menyodok spaghetti di hadapannya dengan garpu. Sedangkan Nick hanya mencomot satu per satu kentang goreng yang disajikan dengan garpu dan masih berkutat dengan handphone nya.
"Kamu tidak lapar?"
"Sebentar. Aku sedang berpikir."
"Kalau raut wajahmu sudah serius seperti itu, kamu mirip sekali dengan Olly."
"Hmm…."
Pedro memandang sosok di hadapannya dengan wajah datar. Bahkan respon Nick pun menandakan bahwa ia sudah tidak tersambung dengan dunia di sekitarnya. Daripada menunggu jawaban Nick, Pedro lebih memilih untuk langsung melahap spaghetti nya sesuai keinginan perutnya saat ini.
Setelah Nick selesai berkutat dengan handphone nya, ia tersenyum senang dan memasukan kembali handphone ke dalam saku jaketnya. Wajah Nick berubah dari yang asalnya serius dan tidak dapat diganggu menjadi ramah dengan penuh senyuman kembali.
"Kamu tadi mengatakan apa, Pedro?"
"Bukan apa-apa, Nick. Makanlah."